 |
| الم {١} |
1. Huruf-huruf penggalan seperti ini atau huruf muqatha'ah, yang juga terdapat di permulaan surah-surah lain, berisi isyarat mengenai i'jazul Qur'an. Ia melawan tantangan orang-orang musyrik dan ternyata mereka tidak mampu melakukan terhadapnya. Ia tersususn dari huruf, yang darinya bahasa Arab itu terbentuk. Ketidak mampuan bangsa Arab untuk membuat tatanan bahasa seperti ini, sekalipun mereka adalah manusia yang paling fasih, menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah Subhana wata'ala. |
| ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ {٢} |
2. Al-Qur'an adalah kitab agung yang tidak diragukan bahwa ia berasal dari sisi Allah Subhana wata'ala. Maka tidak bisa dibenarkan jika masih ada orang yang meragukannya karena ia begitu jelas (kebenarannya). Orang-orang yang bertaqwa dapat memetik manfaat darinya dalam bentuk ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Mereka itu adalah orang-orang yang takut kepada Allah dan mengikuti hukum-hukum-Nya. |
| الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ {٣} |
3. Yaitu orang-orang yang membenarkan hal gaib, yaitu sesuatu yang tidak dapat ditangkap indera dan akal mereka, akan tetapi ia hanya bisa diketahui berdasarkan wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Misalnya; adalah beriman kepada malaikat, surga, neraka, dan hal-hal lainnya yang dibertakan Allah atau Rasul-Nya. [Yang disebut iman adalah kata (sebutan) yang menghimpun pengakuan terhadap; Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta terhadap qadar yang baik maupun yang buruk, membenarkan pengakuan itu dalam bentuk ucapan dan amal perbuatan; dengan hati, lidah dan anggota badan]. Mereka, disamping membenarkan yang gaib, juga selalu menjaga shalat tepat waktu dengan pelaksanaan yang benar, sesuai dengan yang telah disyariatkan oleh Allah kepada Nabi-Nya; Muhammad shallallahu wa'alaihi wassallam. Berkenan pula dengan harta yang telah Kami (Allah) berikan, mereka mengeluarkan sedekah harta mereka yang bersifat wajib maupun mustahab (sunnah). |
| وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ {٤} |
4. Dan mereka yang membenarkan kitab yang telah diturunkan kepadamu, wahai Rasul, berita Al-Qur'an; membenarkan apa yang diturunkan kepadamu yang berupa Hikmah; yaitu As-Sunnah; membenarkan kitab-kitab yang telah diturunkan kepada para Rasul sebelumnya, seperti Taurat, Injil dan selain keduanya, serta membenarkan adanya kampung akhirat setelah kematian, termasuk segala hal yang ada didalamnya berupa hisab dan balasan. Kebenaran itu dengan hati mereka yang tampak melalui lidah dan anggota tubuh mereka. Disini dikhususkan penyebutan hari akhirat karena mengimaninya merupakan pendorong terbesar untuk melakukan berbagai bentuk ketaatan, menjauhi segala hal yang diharamkan serta untuk melakukan intropeksi diri. |
| أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {٥} |
5. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini berjalan di atas cahaya dari Rabb mereka dengan petunjuk (taufik) dari Dzat pencipta yang memberi hidayah kepada mereka. Mereka itulah orang-orang sukses; yang berhasil meraih apa yang mereka cari serta selamat dari keburukan yang mereka lari darinya. |
| إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ {٦} |
6. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar dari apa yang telah diturunkan dari Rabbmu kepadamu disebabkan karena kesombongan dan sikap melampaui batas, maka keimanan itu tidak akan lahir dari mereka, meski engkau telah menakut-nakuti dan mengancam dengan adzab Allah, maupun engkau biarkan saja. Hal itu disebabkan oleh (menetapnya) mereka di atas kebatilan. |
| خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ {٧} |
7. Allah telah menutup hati dan pendengaran mereka. Allah menutup pandangan mereka. Semua itu disebabkan oleh kekufuran dan pembangkangan mereka setelah kebenaran itu telah jelas bagi mereka. Allah tidak memberikan taufik (bimbingan/pertolongan) kepada mereka untuk mendapatkan petunjuk. Bagi mereka adalah adzab yang keras di neraka Jahanam. |
| وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ {٨} |
8. Di antara manusia ada segolongan orang yang bimbang antara memposisikan diri sebagai orang beriman atau sebagai orang kafir. Mereka adalah golongan munafik. Lidah mereka mengatakan, "Kami membenarkan (percaya) kepada Allah dan Hari Akhir." Namun sebenarnya batin mereka mendustakan apa yang diucapkannya ini. Sebenarnya tidak beriman. |
| يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ {٩} |
9. Disebabkan kebodohan, mereka menganggap telah menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Yaitu dengan cara memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran. Mereka itu sebenarnya hanya menipu diri sendiri. Sebab, akibat dari penipuan yang mereka lakukan itu kembali kepada mereka. Dan disebabkan pula oleh kebodohan mereka yang melampaui batas itulah, mereka tidak merasakan hal itu karena hati telah rusak. |
| فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ {١٠} |
10. Di dalam hati mereka terdapat (penyakit) keraguan dan kerusakan. Mereka melakukan berbagai bentuk kemaksiatan yang mengharuskan mereka mendapatkan hukuman. Dan Allah pun menambah keraguan mereka. Bagi mereka hukuman yang pedih, disebabkan kedustaan dan kemunafikan mereka. |
| وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ {١١} |
11. Ketika mereka diberi nasihat agar menahan diri dari berbuat kerusakan di muka bumi, melalui kekufuran dan berbagai bentuk kemaksiatan, menyebarkan rahasia kaum beriman, serta memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum kafir, mereka pun menjawab dengan kedustaan dan bantahan, "Kami ini adalah orang-orang yang suka melakukan perbaikan." |
| أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ {١٢} |
12. Sesungguhnya, apa yang mereka kerjakan ini -yang mereka anggap sebagai "perbaikan" merupakan kerusakan. Hanya saja, disebabkan kebodohan dan pembangkangan mereka, akhirnya mereka tidak merasa. |
| وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ {١٣} |
13. Jika dikatakan kepada orang-orang munafik itu, "Berimanlah kalian, sebagaimana keimanan para sahabat, yaitu keimanan yang berdasarkan keyakinan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan; maka mereka membantah serta mengatakan, 'Apakah kami mesti membenarkan sebagaimana pembenaran orang-orang yang lemah akal dan pendapatnya? Kalau begitu, kami dan mereka itu sama dalam hal kebodohan?!'" Lantas Allah membantah mereka bahwa sebenarnya kebodohan itu hanya ada diri mereka, sementara mereka mengetahui bahwa mereka itu berada dalam kese tan dan kerugian. |
| وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ {١٤} |
14. Orang-orang munafik jika bertemu dengan kaum beriman, mereka berkata, ' ami membenarkan Islam seperti halnya kalian." Namun k tika sudah berpaling dan pergi ke tempat para pemimpin mereka yang kafir serta durhaka kepada Allah itu, merek kembali menegaskan kepada para pemimpin itu bahwa ereka masih tetap berada di atas agama kekufuran tanpa pernah meninggalkannya. Mereka itu sebenarnya hanya ingin merendahkan kaum beriman dan memperoloknya. |
| اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ {١٥} |
15. Justru Allah yang akan memperolok mereka dan memberikan tangguh sehingga mereka terus menambah kesesatan, kebingunan, dan kebimbangan. Dan Allah akan memberikan balasan atas perolokan yang mereka lakukan terhadap kaum beriman. |
| أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ {١٦} |
16. Mereka adalah orang-orang munafik yang menjual diri dalam transaksi yang membawa kerugian. Mereka mengambil kekufuran dan meninggalkan keimanan. Mereka tidak memperoleh keuntungan sedikit pun. Bahkan, mereka juga merugi karena kehilangan petunjuk. Demikian ini sungguh merupakan kerugian nyata. |
| مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ {١٧} |
17. Keadaan orang-orang munafik, secara lahiriah beriman kepada risalah Muhammad namun sebenarnya batinnya tidak. Kemudian mereka itu kafir sehingga mereka bergelimang dalam gelapnya kesesatan, sedangkan mereka tidak sadar serta tiada harapan untuk keluar darinya; (keadaan mereka itu) menyerupai keadaan sekelompok orang di malam gelap gulita, sedangkan salah seorang dari mereka menyalakan api yang sangat besar untuk penghangatan dan penerangan. Tatkala api itu telah menyala dan menerangi sekitarnya, tiba-tiba api padam dan suasana menjadi gelap gulita, sehingga mereka yang berada di tempat itu dalam kegelapan tanpa bisa melihat sesuatupun, serta tidak tahu ke mana arah dan jalan keluar. |
| صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ {١٨} |
18. Mereka tuli dari suara kebenaran dalam bentuk mendengarkan dengan perenungan, bisu dari mengucap kebenaran, serta buta dari m elihat cahaya hidayah. Oleh karena itu, mereka tidak bisa kembali kepada iman yang telah mereka tinggalkan, namun justru mengganti keimanan ini dengan kesesatan. |
| أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ {١٩} |
19. Atau, keadaan sekelompok orang lainnya dari kalangan kaum munafik, yang sekali waktu tampak kebenaran mereka namun pada kali lain mereka meragukannya, seperti keadaan sekelompok orang yang berjalan di tempat terbuka, lalu mereka tertimpa hujan deras dalam suasana yang begitu gelap gulita, diiringi gemuruh suara guruh dan cahaya kilat serta petir yang membakar, menjadikan mereka sangat ketakutan sambil menyumbatkan jari-jemari pada telinga mereka karena takut binasa. Allah selalu meliputi orang-orang kafir sehingga mereka tidak akan bisa lepas dari-Nya dan tidak pernah bisa melemahkan-Nya. |
| يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {٢٠} |
20. Karena cahayanya yang luar biasa, kilat itu nyaris membutakan penglihatan mereka. Meskipun demikian, setiap kali kilat itu berkilat, mereka pun berjalan dengan cahayanya. Namun ketika kilat itu berlalu, mereka terpaku di tempat karena jalan kembali gelap. Kalau saja bukan karena Allah berkehendak menangguhkan mereka, tentu Allah cabut pendengaran dan penglihatan mereka. Allah kuasa untuk melakukan hal itu setiap waktu. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. |
| يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {٢١} |
21. Seruan dari Allah kepada umat manusia seluruhnya: "Hendaklah kalian beribadah kepada Allah yang telah memelihara kalian dengan nikmat-nikmat-Nya. Takutlah kepada-Nya dan janganlah kalian menyelisihi-Nya. Dia telah membuat kalian ada sebelum tiada, juga telah mengadakan orang-orang sebelum kalian. Demikian itu agar kalian menjadi bagian dari orang-orang bertakwa yang diridhai oleh Allah, dan mereka pun ridha kepada-Nya." |
| الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {٢٢} |
22. Yaitu Rabb kalian yang telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan, sehingga hidup kalian di atasnya menjadi mudah, menjadikan langit sebagai atap yang kokoh, menurunkan hujan dari awan sehingga dengannya Dia mengeluarkan untuk kalian berbagai jenis buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk rezeki buat kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian membuat tandingan-tandingan bagi AIIah dalam beribadah, sedangkan kalian mengetahui bahwa hanya Dia yang dapat mencipta dan memberi rezeki, serta hanya Dia yang berhak diibadahi. |
| وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {٢٣} |
23. Jika kalian, wahai orang-orang kafir yang membangkang, masih saja berada dalam keraguan mengenai Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, Muhammad lantas kalian beranggapan bahwa Al-Qur'an bukan berasal dari sisi Allah; maka cobalah datangkan (buatkan) satu surah saja yang semisal dengan surah yang terdapat dalam Al-Qur'an dan silakan meminta bantuan kepada siapa saja yang kalian anggap mampu melakukannya di antara para penolongmu, jika kalian adalah orang-orang yang benar kelakuannya. |
| فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ {٢٤} |
24. Jika sekarang kalian tidak mampu melakukannya, dan kalian memang pasti tidak akan pernah mampu melakukannya di masa yang akan datang maka jagalah diri kalian dari api neraka dengan cara beriman kepada Nabi dan melakukan ketaatan kepada Allah. Api neraka yang bahan bakarnya berupa manusia dan batu ini disiapkan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah dan para rasul-Nya. |
| وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٢٥} |
25. Wahai Rasul, kabarkanlah kepada orang-orang beriman dan beramal shalih tentang kabar yang menjadikan mereka dipenuhi perasaan bahagia, bahwa di akhirat nanti bagi mereka ada taman-taman (surgawi) yang menakjubkan. Berbagai sungai mengalir di bawah istana-istana mereka yang tinggi dan di bawah pepohonan yang rindang. Setiap kali Allah memberikan kepada mereka satu jenis buah yang lezat, mereka berkata, "Sesungguhnya Allah sudah pernah memberikan jenis buah ini sebelumnya." Namun ternyata ketika mereka merasakannya, mereka pun merasakan sesuatu yang baru dalam rasa dan kelezatannya - sekalipun mirip dengan buah yang pernah mereka rasakan sebelumnya dalam hal warna, tampilan, dan namanya. Di dalam taman-taman surga itu, mereka juga memiliki istri-istri yang suci dari segala noda yang bersifat materi, seperti kencing dan haid, maupun suci dari noda maknawi, seperti dusta serta perilaku yang buruk. Mereka kekal abadi di dalam surga dengan segala macam kenikmatannya. Mereka tidak akan mati di dalamnya dan tidak akan keluar darinya. |
| إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ {٢٦} |
26. Sesungguhnya Allah tidak merasa malu menyebutkan bentuk kebenaran tersebut sedikit maupun banyak; sekalipun permisalan itu dengan sesuatu yang kecil, seperti nyamuk, lalat, dan semisalnya. Di antara perumpamaan yang diberikan Allah berkenaan kelemahan segala yang diibadahi selain Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu mengetahui hikmah Allah dalam memberikan permisalan dengan sesuatu yang kecil maupun besar di antara makhluk ciptaan-Nya. Adapun orang-orang kafir akan memperolok dan mengatakan, "Apa yang dikehendaki Allah dari membuat permisalan dengan jenis binatang yang hina seperti ini?" Allah pun memberikan jawaban kepada mereka bahwa yang dimaksud adalah ujian dan memisahkan (membedakan) orang mukmin dari orang kafir. Oleh karena itu, melalui permisalan ini Allah memalingkan (menyingkirkan) sekian banyak manusia dari kebenaran disebabkan oleh perolokan mereka terhadap permisalan itu serta memberikan petunjuk dengannya kepada orang-orang selain mereka menuju bertambahnya keimanan dan hidayah. Allah tidak akan menzhalimi seorang pun. Tidak ada yang menyimpang dari kebenaran kecuali orang-orang yang keluar dari melakukan ketaatan kepada-Nya. |
| الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {٢٧} |
27. Orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah yang telah Allah ambil dari mereka berupa tauhid dan ketaatan, bahkan Allah kuatkan dengan mengutus para rasul serta menurunkan kitab-kitab, serta orang-orang yang menyelisihi agama Allah, seperti memutus jalinan kekerabatan juga menyebarkan kerusakan di muka bumi; maka mereka itu adalah orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat. |
| كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {٢٨} |
28. Bagaimana kalian, wahai orang-orang musyrik, sampai mengingkari wandaniah (keesaan) Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya dalam hal ibadah, padahal sudah ada bukti pasti tentang keesaan itu di dalam diri kalian? Kalian sebelumnya adalah makhluk yang mati, lantas Allah mengadakan kalian, meniupkan kehidupan pada kalian, kemudian mematikan kalian setelah ajal yang telah Allah tetapkan atas kalian, kemudian menghidupkan kalian kembali pada hari kebangkitan, dan kemudian kalian akan dikembalikan kepada-Nya untuk dihisab dan diberi balasan. |
| هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {٢٩} |
29. Hanya Allah yang telah menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi, berupa berbagai bentuk kenikmatan yang dapat kalian manfaatkan, kermudian Di berkehendak untuk menciptakan menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu Allah itu meliputi segala makhluk yang diciptakan-Nya. |
| وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ {٣٠} |
30. Wahai Rasul, ingatkanlah umat manusia akan peristiwa ketika Rabbmu berkata kepada malaikat; "Sesungguhnya Aku menjadikan di muka bumi ini suatu kaum yang sebagiannya menggantikan (kepemimpinan) sebagaian yang lain dalam rangka memakmurkan bumi ini". Mereka (malaikat) berkata; "Wahai Rabb kami, ajarkanlah kepada kami dan berikan petunjuk kepada kami berkenaan dengan hikmah penciptaan mereka itu. Sebab; keadaan mereka yang suka berbuat kerusakan di muka bumi serta menumpahkan darah dalam bentuk kezhaliman dan permusuhan, sedangkan kami ini adalah makhluk yang selalu patuh terhadap perintah-Mu, selalu memahasucikan Engkau dengan penyucian yang setara dengan segala pujian dan keagungan-Mu, serta selalu memuliakan-Mu dengan segala sifat kesempurnaan dan keagungan". Allah memberikan jawaban kepada mereka; "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, berupa hikmah yang mendalam pada penciptaan mereka." |
| وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {٣١} |
31. Untuk menjelaskan keutamaan Nabi Adam maka Allah mengajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu secara keseluruhan. Kemudian Allah menampilkan semuanya itu kepada para malaikat sambil berkata kepada mereka, "Beritahukan kepadaku nama-nama segala yang ada tersebut, jika kalian memang benar-benar lebih utama untuk menjadi khalifah di muka bumi ini daripada mereka!" |
| قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ {٣٢} |
32. Para malaikat itu menjawab,"Kami memahasucikan Engkau, wahai Rabb. Sesungguhnya kami tidak memiliki ilmu kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau sajalah yang Maha Mengetahui segala urusan ciptaan-Mu dan Mahabijaksana di dalam mengatur segala sesuatu. |
| قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ {٣٣} |
33. Allah berfirman, "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka (para malaikat) nama-nama sesuatu tersebut, yang mereka itu tidak mampu mengetahuinya!" Maka ketika Adam telah memberitahukan hal itu kepada mereka, giliran Allah berfirman kepada mereka, "Aku telah memberitahukan kepada kalian bahwa Aku mengetahui apa yang tersembunyi dari kalian, baik di langit maupun di bumi, dan Aku mengetahui apa yang kalian tampakkan serta apa yang kalian sembunyikan." |
| وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ {٣٤} |
34. Wahai Rasul, ingatkanlah umat manusia, akan pemuliaan Allah kepada Nabi Adam ketika Dia berfirman kepada para malaikat, "Bersujudlah kepada Adam dalam bentuk sujud pemuliaan kepadanya dan menampakkan keutamaannya!" Semuanya patuh (melaksanakan perintah ini), kecuali iblis yang menolak sujud disebabkan kesombongan dan kedengkiannya, sehingga ia pun menjadi bagian dari orang-orang yang ingkar kepada Allah dan mendurhakai perintah-Nya. |
| وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ {٣٥} |
35. Allah berfirman,"Wahai Adam,tinggallah engkau bersama istrimu Hawa di surga. Nikmatilah sepuasmu berbagai jenis buah-buahan yang ada di dalamnya di setiap tempat yang kalian berdua inginkan. Hanya saja, jangan sampai kalian berdua mendekati satu jenis pohon ini, sehingga kalian akan terjerumus ke dalam kemaksiatan, sehingga kalian menjadi bagian dari orang-orang yang melanggar aturan Allah!" |
| فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ {٣٦} |
36. Lantas setan menjerumuskan keduanya ke dalam kesalahan dengan cara membisikkan bisikan jahat kepada keduanya, sehingga mereka berdua akhirnya menyantap buah yang berasal dari pohon (terlarang) itu, yang menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga dengan segala macam kenikmatannya. Allah berfirman kepada mereka, "Turunlah ke bumi! Sebagian dari kalian akan memusuhi sebagian yang lain -yaitu Adam, Hawa, dan setan. Sedangkan bagi kalian, di muka bumi ada tempat tinggal serta dapat pula memanfaatkan apa saja yang ada di dalamnya sampai waktu ajal kalian berakhir." |
| فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ {٣٧} |
37. Nabi Adam kemudian menerima beberapa kalimat yang diilhamkan Allah kepadanya sebagai bentuk taubat dan istighfar, yaitu firman Allah:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
(Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah berbuat zhalim terhadap diri kami. Jika Engkau tidak sudi memberikan ampunan kepada kami dan merahmati kami, tentu kami menjadi bagian dari orang-orang yang merugi) (Al-Ar'aaf 7:23). Lalu Allah pun memberikan ampunan kepadanya atas dosa yang telah dilakukannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dari siapa saja yang bertaubat di antara hamba-hamba-Nya serta Maha Penyayang kepada mereka. |
| قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {٣٨} |
38. Allah berfirman kepada mereka, "Turunlah kalian semua dari surga. Akan datang kepada kalian dan anak keturunan kalian secara bergantian sesuatu yang di dalamnya terdapat petunjuk bagi kalian menuju kebenaran. Barang siapa mengamalkan kebenaran itu maka tidak ada kekhawatiran berkenaan apa yang akan mereka hadapi berupa urusan akhirat. Mereka pun tidak akan bersedih hati atas apa yang luput dari mereka berkenaan dengan urusan-urusan dunia." |
| وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٣٩} |
39. Sementara itu, orang-orang yang ingkar dan mendustakan ayat-ayat Kami yang dibacakan (kepada mereka), serta mengingkari ketauhidan Kami, mereka adalah orang-orang yang akan kekal menetap di neraka tanpa pernah keluar darinya. |
| يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ {٤٠} |
40. Wahai anak keturunan Nabi Ya'qub ingatlah akan sekian banyak nikmat-Ku yang telah terlimpah kepada kalian, bersyukurlah kepada-Ku, dan laksanakanlah wasiat-Ku terhadap kalian, yaitu agar beriman kepada kitab-kitab-Ku dan para rasul-Ku seluruhnya, serta mengamalkan syariat-Ku. Jika kalian telah menunaikan itu semua maka pasti Aku sempurnakan pula untuk kalian apa saja yang telah Aku janjikan kepada kalian, berupa rahmat di dunia dan keselamatan di akhirat. Hanya kepada-Ku kalian harus takut. Waspadalah terhadap kemurkaan-Ku jika sampai kalian menyalahi janji dan kufur terhadap-Ku. |
| وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ ۖ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ {٤١} |
41. Berimanlah kalian, wahai Bani Israil (anak keturunan Ya'qub kepada Al-Qur'an yang telah Aku turunkan kepada Muhammad seorang Nabi Allah dan utusan-Nya, sesuai dengan apa yang kalian ketahui dari kandungan kitab Taurat yang benar (sebelum diubah/diganti). Janganlah kalian menjadi golongan pertama dari kalangan Ahlukitab yang kufur kepadanya dan jangan pula menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah berupa keuntungan materi duniawi yang fana. Tunaikan ketaatan hanya karena Aku semata dan tinggalkanlah perbuatan maksiat terhadap-Ku. |
| وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {٤٢} |
42. Janganlah kalian campur adukkan kebenaran yang telah Aku jelaskan kepada kalian dengan kebatilan yang kalian palsukan. Waspadalah terhadap tindakan menyembunyikan kebenaran yang nyata mengenai sifat nabi dan utusan Allah, yaitu Muhammad yang terdapat dalam kitab-kitab kalian; sedangkan kalian mendapatinya tertulis di sisi kalian, berdasarkan pengetahuan kalian yang bersumber dari kitab-kitab di tangan kalian. |
| وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ {٤٣} |
43. Masuklah kalian ke dalam agama Islam, yaitu dengan menegakkan shalat secara benar sebagaimana yang diajarkan Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad serta dengan menunaikan zakat yang diwajibkan seperti yang digariskan dalam syara'; juga hendaklah kalian mengerjakan rukuk (shalat) bersama dengan orang-orang lainnya yang mengerjakan rukuk di kalangan umat beliau. |
| أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ {٤٤} |
44. Betapa buruk keadaan kalian dan para alim ulama kalian ketika memerintahkan umat manusia agar mengerjakan kebaikan, namun kalian mengabaikan diri kalian sendiri. Kalian tidak memerintahkan diri sendiri agar mengerjakan kebaikan yang agung, yaitu Islam, sedangkan kalian membaca kitab Taurat, di mana di dalamnya disebutkan sifat-sifat Nabi Muhammad serta disebutkan pula kewajiban untuk beriman kepada beliau. Maka, mengapakah kalian tidak menggunakan akal kalian dengan baik? |
| وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ {٤٥} |
45. Mintalah pertolongan (kepada Allah) berkenaan setiap urusan kalian melalui sabar dengan segala jenisnya dan melalui shalat. Demikian itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu orang-orang yang takut kepada Allah dan berharap pahala disisi-Nya, menyakini bahwa mereka pasti akan bertemu dengan Rabb mereka setelah mati, serta meyakini bahwa mereka semua akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat untuk dihisap dan diberi balasan. |
| الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ {٤٦} |
46. Lihat ayat 46 |
| يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ {٤٧} |
47. Wahai anak keturunan Ya'qub ingatlah akan sekian banyak nikmat-Ku yang tercurah kepada kalian dan bersyukurlah kepada-Ku atas nikmat tersebut. Ingatlah pula bahwa Aku telah mengutamakan kalian atas seluruh umat manusia di zaman kalian dengan banyaknya nabi (dari kalangan kalian) dan dengan kitab-kitab yang diturunkan, seperti Taurat juga Injil. |
| وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ {٤٨} |
48. Takutlah akan Hari Kiamat; yaitu suatu hari yang seseorang tidak akan bisa memberi manfaat kepada orang lain barang sedikit pun. Ketika itu, Allah tidak akan sudi menerima syafaat orang-orang kafir serta tidak akan sudi menerima tebusan dari mereka, meski dengan sebanyak harta yang ada di dunia. Dan, tidak ada seorang pun pada hari itu yang berani maju untuk menolong serta menyelamatkan mereka dari adzab. |
| وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ {٤٩} |
49. Ingatlah nikmat Kami yang telah tercurah kepada kalian ketika Kami selamatkan kalian dari keganasan Fir'aun dan para pengikutnya. Yaitu ketika mereka menimpakan siksaan yang sangat keras terhadap kalian: menyembelih anak lelaki kalian serta membiarkan anak perempuan kalian hidup hanya untuk menjadi pelayan dan untuk dihinakan. Demikian itu sebenarnya merupakan ujian dari Rabb kepada kalian. Sedangkan penyelamatan kalian dari kekejaman Fir'aun merupakan nikmat yang besar, yang mengharuskan untuk bersyukur kepada Allah di setiap zaman dan generasi kalian. |
| وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ {٥٠} |
50. Ingatlah akan nikmat yang Kami curahkan kepada kalian ketika Kami belah lautan untuk kalian dan Kami jadikan di dalamnya jalanan yang kering sehingga kalian bisa melintas, serta Kami selamatkan kalian dari Fir'aun juga bala tentaranya dan Kami selamatkan dari kebinasaan karena tenggelam di lautan. Namun ketika Fir'aun dan bala tentaranya telah turut memasuki jalan yang kalian lalui, Kami binasakan mereka dengan menenggelamkan mereka ke dalam air di hadapan kalian. |
| وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ {٥١} |
51. Ingatlah pula akan nikmat yang telah Kami berikan kepada kalian ketika Kami janjikan kepada Nabi Musa untuk menurunkan kitab Taurat kepadanya selama empat puluh malam, yang akan menjadi petunjuk dan cahaya untuk kalian. Namun ternyata kalian memanfaatkan kesempatan saat kepergiannya di masa yang pendek ini dengan menjadikan patung anak lembu yang kalian buat dengan menggunakan tangan kalian sendiri sebagai sesembahan selain Allah. Padahal yang demikian ini merupakan seburuk-buruk bentuk kekufuran kepada Allah dan kalian berbuat zhalim dengan menjadikan anak lembu itu sebagai sembahan. |
| ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {٥٢} |
52. Kemudian Kami maafkan atas tindakan munkar yang kalian lakukan itu dan Kami terima taubat kalian sekembalinya Nabi Musa dengan harapan aqar kalian bersvukur kepada Allah atas segaia nikmat dan karunia-Nya, serta agar kalian tidak menetap dalam kekufuran dan kezhaliman. |
| وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ {٥٣} |
53. Ingatlah akan nikmat yang Kami curahkan kepada kalian ketika Kami berikan kepada Nabi Musa kitab yang membedakan antara hak dan batil; yaitu Taurat, agar kalian mendapat petunjuk dari ketersesatan. |
| وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ {٥٤} |
54. Ingatlah akan nikmat Kami yang tercurah kepada kalian ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya,"Sesungguhnya kalian telah berbuat zhalim terhadap diri kalian sendiri dengan menjadikan anak lembu sebagai sesembahan. Oleh karena itu, bertaubatlah kepada Pencipta kalian dengan cara sebagian kalian (yang tidak menyembah lembu) membunuh sebagian yang lain (yang menyembah lembu). Demikian itu lebih baik bagi kalian daripada kekal di neraka." Maka kalian kemudian menunaikan hal itu sehingga Allah pun bersedia memberikan anugerah dengan menerima taubat kalian. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat di antara para hamba-Nya serta Maha Penyayang kepada mereka. |
| وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ {٥٥} |
55. Ingatlah ketika kalian berkata, "Wahai Musa, kami tidak akan membenarkanmu bahwa kalimat yang kami dengar darimu adalah kalam Allah, sehingga kami benar-benar dapat melihat Allah dengan mata kepala kami sendiri." Lantas turunlah api dari langit yang dapat kalian lihat sendiri dengan mata kalian, lalu api (halilintar) itu mematikan kalian disebabkan dosa yang kalian lakukan disebabkan kelancangan kalian terhadap Allah. |
| ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {٥٦} |
56. Kemudian Kami hidupkan kembali kalian setelah mati karena disambar halilintar, agar kalian mau bersyukur atas nikmat Allah yang tercurah kepada kalian. Kematian ini merupakan sebuah hukuman bagi mereka, kemudian Allah membangkitkan (menghidupkan) mereka untuk menyempurnakan ajal mereka. |
| وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ {٥٧} |
57. Ingatlah akan nikmat-nikmat Kami yang tercurah kepada kalian ketika kalian tersesat di muka bumi, yaitu ketika Kami jadikan awan sebagai naungan di atas kalian dari panas matahari dan Kami turunkan kepada kalian Manna, yaitu sejenis makanan yang menyerupai pasta yang rasanya seperti madu. Kami turunkan pula Salwa, yaitu sejenis burung mirip Sumana (burung puyuh), lalu Kami katakan kepada kalian, "Makanlah dari sebagian makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian dan janganlah menyelisihi agama kalian!" Namun ternyata kalian tidak mau menurut. Dalam hal ini, sebenarnya kalian tidaklah menzhalimi Kami dengan mengufuri nikmat-nikmat yang ada, namun sebenarnya mereka berbuat zhalim terhadap diri mereka sendiri karena dampak kezhaliman itu kembali kepada mereka. |
| وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ {٥٨} |
58. Ingatlah akan nikmat Kami yang tercurah kepada kalian ketika Kami katakan, "Masuklah ke kota Baitul Maqdis, lalu makanlah makanannya yang baik-baik di mana saja dengan nikmat. Hendaklah kalian masuk ke dalam kota itu dalam keadaan tunduk kepada Allah dan ucapkanlah, "Ya Rabb kami, bebaskan kami dari dosa-dosa kami!' Niscaya Kami akan mengabulkan permohonan kalian, memberi maaf serta menutupi dosa-dosa kalian. Dan Kami akan memberikan tambahan kebaikan serta pahala kepada orang-orang yang berbuat baik." |
| فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ {٥٩} |
59. Sedangkan orang-orang pendosa dan tersesat dari kalangan Bani Israil mengganti kalam Allah serta mengubah perkataan serta perbuatan sekaligus. Yaitu ketika mereka masuk ke kota Baitul Maqdis ini dengan berjalan mundur seraya berkata, "Sebuah biji pada sehelai rambut." Mereka memperolok agama Allah. Maka Allah pun menurunkan adzab dari langit kepada mereka disebabkan pembangkangan dan keluarnya mereka dari ketaatan kepada Allah. |
| وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ {٦٠} |
60. Ingatlah akan nikmat Kami yang tercurah kepada kalian, saat kalian dalam kehausan karena tersesat jalan, ketika Musa mengiba kepada Kami agar Kami memberikan minum kepada kaumnya. Lalu Kami katakan, "Pukulkan tongkatmu ke batu itu!" Maka ketika ia telah memukulkannya, memancarlah darinya dua belas mata air, sesuai dengan jumlah kabilah yang ada, disertai pemberitahuan bahwa setiap kabilah itu mengambil air dari mata air yang telah ditentukan agar mereka tidak berebut. Selanjutnya Kami katakan kepada mereka, "Makan dan minumlah dari rezeki yang dianugerahkan Allah, namun janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." |
| وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ {٦١} |
61. Ingatlah ketika Kami telah menurunkan kepada kalian makanan yang manis dan burung yang lezat, namun kemudian kalian mengingkari nikmat sebagaimana kebiasaan kalian, lantas kalian merasa sempit dan bosan, lalu kalian katakan, "Wahai Musa, kami tidak lagi bisa tahan terhadap satu jenis makanan yang itu-itu saja tanpa pernah ada perubahan dari hari ke hari. Oleh karena itu, mohonlah kepada Rabbmu agar mengeluarkan untuk kami dari tumbuhan bumi makanan yang berupa sayur-sayuran, ketimun, biji-bijian yang bisa dimakan, kacang adas, dan bawang." Musa menjawab - dalam bentuk pertanyaan bantahan-, "Apakah kalian meminta berbagai jenis makanan ini yang sebenarnya lebih rendah nilainya, lantas kalian tinggalkan rezeki yang bermanfaat ini yang telah dipilihkan oleh Allah untuk kalian? Kalau begitu, turunlah kalian dari lembah ini menuju kota mana saja, pasti kalian akan mendapatkan sekian banyak makanan yang kalian inginkan, yang terdapat di ladang-ladang dan pasar-pasar." Maka tatkala mereka turun ke kota itu, menjadi jelaslah bagi mereka bahwa sebenarnva mereka hanva mendahulukan pilihan mereka di setiap tempat daripada pilihan Allah. Mereka lebih mementingkan hasrat mereka daripada apa yang telah Allah pilihkan untuk mereka. Oleh karena itu, pantaslah jika mereka diliputi sifat kehinaan dan kefakiran jiwa. Mereka pun kembali dengan menerima kemurkaan Allah disebabkan keberpalingan mereka dari agama Allah dan karena mereka itu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi secara zhalim serta penuh permu-suhan. Itu semua disebabkan karena mereka berbuat dur-haka dan melampaui batas yang telah digariskan Rabb mereka. |
| إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {٦٢} |
62. Sesungguhnya orang-orang beriman dari kalangan umat ini, yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, serta orang-orang sebelum diutusnya Nabi Muhammad dari kalangan umat-umat terdahulu yaitu kalangan Yahudi, Nasrani, dan Shabi'ah; sedangkan mereka adalah suatu kaum yang senantiasa berada di atas fitrah dan tidak ada agama yang diakui untuk mereka yang dapat mereka ikuti, mereka semua itu jika memang membenarkan Allah dengan pembenaran secara benar dan murni (tulus), rnembenarkan Hari Kebangkitan dan Pembalasan, serta mengerjakan amal yang diridhai oleh Allah, ditetapkan untuk mereka (pahala) dari sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran atas mereka berkenaan dengan apa yang akan mereka hadapi mengenai urusan akhirat serta tidak pernah bersedih hati atas apa yang luput dari urusan dunia. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul kepada seluruh umat manusia maka Allah tidak akan menerima suatu agama dari seorang pun selain yang dibawa oleh beliau, yaitu Islam. |
| وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {٦٣} |
63. Ingatlah wahai Bani Israil, ketika Kami mengambil janji yang diperkuat dari kalian, yaitu janji beriman kepada Allah serta mentauhidkan-Nya dalam hal ibadah dan telah kami angkat Gunung Thur di atas kalian serta Kami katakan kepada kalian, "Ambillah Kitab yang telah Kami berikan kepada kalian dengan serius dan sungguh-sungguh serta jagalah ia. Jika tidak, Kami akan timpakan gunung itu kepada kalian. Janganlah kalian melupakan Taurat, baik secara ucapan maupun amalan, agar kalian bertakwa kepada-Ku dan takut kepada hukuman-Ku". |
| ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ {٦٤} |
64. Kemudian kalian kembali melakukan penyelisihan dan berbuat durhaka setelah diambil piagam perjanjian yang kuat dan setelah diangkatnya gunung -seperti keadaan kalian yang selalu saja begitu. Kalau saja bukan karena karunia dari Allah yang terlimpah kepada kalian serta rahmat-Nya dengan menerima taubat kalian dan memaafkan kesalahan-kesalahan kalian, tentu kalian menjadi bagian dari orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat. |
| وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ {٦٥} |
65. Kalian semua sudah tahu wahai kaum Yahudi, tentang adzab yang telah menimpa kaum sebelum kalian dari kalangan penduduk negeri yang durhaka kepada Allah berkenaan dengan janji yang telah Allah ambil dari mereka berupa pengagungan hari Sabtu, lantas mereka berkilah (akal-akalan) untuk tetap bisa menangkap ikan pada hari Sabtu. Yaitu dengan cara menaruh jaring dan menggali kolam (sebelum hari Sabtu), lantas mereka baru pergi menangkapnya pada hari Ahad demi menghindari hari yang diharamkan atas mereka. Maka ketika mereka sudah melakukan hal demikian itu, Allah mengubah mereka menjadi kera-kera yang tersingkirkan (hina). |
| فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ {٦٦} |
66. Maka Kami jadikan negeri ini sebagai pelajaran bagi siapa saja yang mendatanginya dari berbagai negeri lainnya, yang akan mengabarkan kepada masyarakat mereka tentang apa yang pernah menimpanya, serta menjadi pelajaran bagi orang yang hendak melakukan tindak dosa-dosa seperti itu sesudah mereka. Kami jadikan hal itu sebagai peringatan bagi orang-orang shalih, agar mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebenaran, sehingga mereka tetap teguh di atasnya. |
| وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ {٦٧} |
67. Ingatlah wahai Bani Israil akan tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian serta banyaknya sikap keras kepala mereka dan sikap membantah mereka kepada Nabi Musa; yaitu ketika beliau berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menyembelih seekor sapi!" Dengan penuh keangkuhan, mereka menjawab, "Apakah engkau menjadikan kami sebagai bahan perolokan dan hinaan?" Nabi Musa pun berkata kepada mereka, "Aku memohon perlindungan kepada Allah agar tidak menjadi bagian dari orang-orang yang memperolok." |
| قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ {٦٨} |
68. Mereka berkata, "Mohonkan kepada Rabbmu agar menjelaskan kepada kami sifat dari sapi tersebut." Musa memberikan jawaban kepada mereka, "Sesungguhnya Allah berfirman kepada kalian, 'Sifatnya adalah sapi tersebut tidak tua dan juga tidak muda, akan tetapi pertengahan antara tua dan juga tidak muda, akan tetapi pertengahan antara keduanya: Oleh karena itu, bergegaslah untuk melaksanakan perintah Rabb kalian!" |
| قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ {٦٩} |
69. Mereka kembali membantah dengan mengatakan, "Mohonkan kepada Rabbmu agar menjelaskan kepada kami warna sapi tersebut!" Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman,'Ia adalah seekor sapi yang berwarna sangat kuning, yang menyenangkan setiap orang yang melihatnya.'" |
| قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ {٧٠} |
70. Bani Israil berkata kepada Musa, "Mohonlah kepada Rabbmu agar menjelaskan kepada kami sifat-sifat lain di luar yang telah disebutkan di depan. Sebab, sapi yang memiliki sifat-sifat tersebut cukup banyak sehingga rancu bagi kami mana yang dipilih. Sesungguhnya kami, insya Allah, adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk mengenai sapi yang kami diperintah untuk menyembelihnya." |
| قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ {٧١} |
71. Musa berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah ber-firman (menjelaskan), la tidaklah seekor sapi penurut yang digunakan untuk bekerja membajak tanah, tidak juga untuk kepentingan pengairan, tidak ada cacatnya sama sekali, serta tidak memiliki warna lain selain warna dasar kulitnya (tidak ada belangnya)." Mereka menjawab, "Sekarang engkau telah menyebutkan (memberikan) hakikat dari karakteristik sapi yang dimaksudkan." Mereka akhirnya terpaksa menyembelihnya setelah sekian lama berusaha mengelak, yang hampir-hampir saja mereka tidak bisa mengerjakannya disebabkan pembangkangan mereka. |
| وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ {٧٢} |
72. Ingatlah ketika sebagian dari kalian membunuh seseorang, lantas kalian saling bertikai karenanya. Masing-masing melindungi dirinya dari tuduhan tindak pembunuhan. Namun kemudian Allah membeberkan apa yang selama ini kalian sembunyikan berkaitan dengan tindakan pembunuhan terhadap korban. |
| فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ {٧٣} |
73. Kami katakan, "Pukullah korban tindak pembunuhan itu dengan menggunakan sebagian anggota tubuh sapi yang disembelih ini. Sesungguhnya Allah akan menjadikannya hidup kembali, lalu ia akan mengatakan tentang siapa sebenarnya orang yang telah membunuhnya." Mereka memukulnya dengan sebagian anggota tubuh sapi tersebut dan Allah menghidupkan korban tersebut, lalu ia (korban) itu pun memberitahukan tentang orang yang felah membunuhnya. Demikianlah Allah menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati pada Hari Kiamat, serta memperlihatkan kepada kalian, wahai Bani Israil, akan mukjizat-mukjizat-Nya yang menunjukkan kesempurnaan kuasa-Nya agar kalian mau berpikir menggunakan akal sehat kalian sehingga kalian akan tercegah dari berbuat maksiat kepada-Nya. |
| ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {٧٤} |
74. Akan tetapi, ternyata kalian tidak bisa memetik manfaat dari hal itu. Sebab, setelah adanya berbagai macam mukjizat yang luar biasa ini, hati kalian tetap saja keras, tidak bisa ditembus oleh kebaikan, tidak bisa melunak di hadapan bukti/tanda yang telah Kami perlihatkan kepada kalian hingga hati kalian menjadi seperti batu yang keras dan bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara bebatuan itu ada yang melebar dan terbuka sehingga air pun terpancar darinya sehingga menjadi sungai yang mengalir. Di antara bebatuan itu pula ada yang pecah dan terbelah sehingga keluarlah mata air serta sumber darinya. Dan, di antara bebatuan itu ada yang jatuh dari jarak setinggi gunung disebabkan karena takut kepada Allah dan karena mengagungkan-Nya. Sungguh, Allah tidak pernah lengah terhadap apa yang kalian kerjakan. |
| أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ {٧٥} |
75. Wahai orang-orang muslim, apakah kalian lupa akan perbuatan Bani Israil sehingga diri kalian sangat berharap agar kaum Yahudi itu membenarkan agama kalian? Ulama mereka dahulu telah mendengar firman Allah melalui kitab Taurat, namun kemudian mereka mengubahnya dengan makna lain; dengan memalingkannya kepada selain maknanya yang benar setelah mengetahui hakikatnya, atau dengan mengubah lafal-lafalnya, sedangkan mereka mengetahui (sadar) bahwa mereka melakukan penyelewengan terhadap firman Rabb semesta alam dengan kesengajaan dan kedustaan. |
| وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ {٧٦} |
76. Orang-orang Yahudi itu jika berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka akan mengatakan, "Kami beriman dengan agama kalian dan dengan Rasul kalian yang telah dijadikan sebagai kabar gembira di dalam kitab Taurat." Akan tetapi, ketika sebagian kaum munafik dari kalangan Yahudi itu berkumpul di antara sesama mereka saja maka mereka berkata dengan pertanyaan yang bernada penolakan, "Apakah kalian menceritakan kepada orang-orang mukmin itu tentang hal yang telah Allah jelaskan kepada kalian di dalam kitab Taurat berkaitan persoalan Muhammad; sehingga hal itu menjadi hujah mereka untuk membantah kalian di sisi Rabb pada Hari Kiamat? Apakah kalian tidak paham sehingga bisa bersikap waspada?" |
| أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ {٧٧} |
77. Apakah mereka masih saja mengerjakan semua jenis kejahatan ini tanpa menyadari bahwa AIIah mengetahui seluruh yang mereka sembunyikan dan mereka tampakkan? |
| وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ {٧٨} |
78. Di antara orang-orang Yahudi itu ada segolongan yang tidak tahu baca tulis dan tidak mengetahui kitab Taurat serta apa yang terkandung di dalamnya, berupa sifat-sifat Nabi Allah dan utusan-Nya. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentangnya selain kebohongan-kebohongan dan dugaan-dugaan rusak (tak berdasar). |
| فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ {٧٩} |
79. Maka kebinasaan dan ancaman yang keras bagi para ulama jahat dari kalangan Yahudi yang menulis Alkitab dengan menggunakan tangan-tangan mereka sendiri, kemudian mengatakan, "Ini adalah dari sisi Allah!" Sedangkan hal itu berlawanan dengan apa yang telah Allah turunkan kepada Nabi-Nya, yaitu Musa dengan maksudnya agar mereka dapat mengambil keuntungan duniawi sebagai imbalannya. Maka mereka berhak mendapatkan hukuman kebinasaan karena mereka telah menulis kebatilan ini dengan tangan mereka. Mereka pun mendapatkan hukuman yang membinasakan disebabkan harta haram yang telah mereka ambil, berupa uang suap dan semisalnya, sebagai imbalan dari apa yang telah mereka kerjakan itu. |
| وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ {٨٠} |
80. Bani Israil berkata, "Kami tidak akan disentuh api (neraka) di Hari Akhirat kecuali hanya dalam hitungan beberapa hari saja. "Katakanlah kepada mereka, wahai Rasul, untuk menyalahkan anggapan mereka, "Apakah kalian memiliki perjanjian dengan Allah mengenai hal itu, sedangkan Allah sudah tentu tidak akan pernah menyalahi janji? Atau bahkan sebenarnya kalian hanya mengatakan terhadap Allah sesuatu yang tidak kalian ketahui dengan mengada-adakan kedustaan." |
| بَلَىٰ مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٨١} |
81. Hukum Allah itu berlaku tetap. Yaitu siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan dosa sehingga menyeretnya kepada kekufuran, lalu dosa-dosanya menguasai dirinya dari segala sisinya, sedangkan yang demikian itu tidak akan terjadi kecuali penyekutu Allah; maka orang-orang musyrik dan orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang akan terus-menerus menempati Neraka Jahanam tanpa pernah terputus (kekal di dalamnya). |
| وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٨٢} |
82. Hukum Allah berlaku tetap, namun kebalikan dari hal di atas adalah orang-orang yang membenarkan Allah dan para rasul-Nya dengan pembenaran secara tulus serta mengerjakan amalan-amalan yang sejalan dengan syariat Allah yang telah diwahyukan kepada para rasul-Nya maka mereka itu adalah orang-orang yang akan menempati surga di akhirat kelak tanpa pernah terputus (kekal di dalamnya). |
| وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ {٨٣} |
83. Ingatlah, wahai Bani Israil, ketika Kami mengambil janji yang diperkuat dari kalian, yaitu agar kalian beribadah kepada Allah saja tanpa ada sekutu bagi-Nya. Agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yang ditinggal mati oleh orang tua mereka ketika belum sampai pada usia balig, serta orang-orang miskin; demikian juga agar kalian mengucapkan perkataan yang paling baik, di samping menegakkan shalat juga menunaikan zakat. Namun ternyata kalian berpaling dan membatalkan perjanjian tersebut, kecuali hanya sedikit saja dari kalian yang tetap memegang teguh janji tersebut, sedangkan kalian masih terus menerus berpaling. |
| وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ {٨٤} |
84. Ingatlah, wahai Bani Israil, ketika Kami mengambil janji yang diperkuat dari kalian di dalam kitab Taurat, yaitu diharamkan bagi kalian untuk saling menumpahkan darah (saling membunuh) dan saling mengusir dari kampung halaman kalian sendiri. Kemudian kalian telah mengakui hal itu, sedangkan kalian pun menyaksikan kebenarannya. |
| ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَىٰ تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ ۚ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {٨٥} |
85. Kemudian kalian, wahai Bani Israil, saling membunuh di antara sesama kalian sendiri, saling mengusir dari kampung halaman kalian, serta masing-masing kelompok dari kalian menguatkan dirinya dengan bantuan para musuh untuk menghadapi saudara-saudaranya sendiri secara lalim dan penuh permusuhan. Jika mereka datang kepada kalian sebagai tawanan di tangan para musuh, kalian bergegas membebaskan mereka dengan membayar tebusan agar mereka tidak lagi menjadi tawanan. Padahal sebenarnya mengusir mereka dari kampung halaman kalian adalah juga diharamkan. Betapa buruk perbuatan kalian, ketika kalian mengimani sebagian dari hukum-hukum Taurat, namun mengingkari sebagian kandungannya yang lain. Tidak ada balasan bagi orang yang melakukan hal itu kecuali kehinaan dan kenistaan di dunia. Sedangkan pada Hari Kiamat nanti Allah akan mengembalikan kalian kepada adzab yang paling mengerikan di dalam neraka. Allah tidak pernah lengah dari apa yang kalian kerjakan. |
| أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ ۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ {٨٦} |
86. Mereka itulah orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat. Maka adzab bagi mereka itu tidak akan diringankan dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka yang bisa membantu menyelamatkannya dari adzab Allah. |
| وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ {٨٧} |
87. Kami telah memberikan kitab Taurat kepada Musa dan Kami susulkan kepadanya dengan diutusnya rasul-rasul lainnya dari kalangan Bani Israil. Telah Kami berikan pula kepada Nabi Isa putra Maryam berbagai mukjizat yang nyata dan Kami kuatkan dia dengan Jibril (Ruhul Qudus). Apakah setiap kali datang seorang rasul kepada kalian dengan membawa wahyu dari sisi Allah yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, lantas kalian bersikap angkuh terhadapnya; lalu kalian dustakan sebagian dari mereka, sedangkan sebagian lainnya kalian bunuh? |
| وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ ۚ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلًا مَا يُؤْمِنُونَ {٨٨} |
88. Bani Israil berkata kepada Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad "Hati kami tertutup. Perkataanmu tidak akan bisa menembusnya." Namun sebenarnya itu tidaklah sesuai sebagaimana pengakuan mereka. Bahkan hati mereka sebenarnya telah terlaknat dan terkunci. Mereka itu diusir (dijauhkan) dari rahmat Allah disebabkan keingkaran mereka. Mereka tidaklah beriman kecuali dengan keimanan yang sangat minim, yang tidak bermanfaat bagi mereka. |
| وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ ۚ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ {٨٩} |
89. Ketika Al-Qur'an telah datang kepada mereka dari sisi Allah, yang membenarkan apa yang sudah ada pada diri mereka -yaitu Taurat- maka mereka mengingkarinya, di samping juga mengingkari kenabian Muhammad. Padahal sebelum beliau diutus, mereka memohon kemenangan melalui beliau dalam menghadapi kaum musyrik Arab. Mereka mengatakan, "Telah dekat waktu pengutusan Nabi Akhir Zaman. Kami akan mengikuti beliau dan akan memerangi kalian bersama beliau." Namun ketika Rasul yang telah mereka kenal sifat dan kebenarannya itu datang kepada mereka, ternyata mereka mengingkari serta mendustakannya. Maka laknat Allah itu berlaku bagi setiap orang kafir terhadap Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, serta mengingkari kitab yang diwahyukan Allah kepada beliau. |
| بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَىٰ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ فَبَاءُوا بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ ۚ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُهِينٌ {٩٠} |
90. Betapa buruk apa yang telah dipilih Bani Israil untuk diri mereka. Ketika mereka menukar iman untuk diganti dengan kekufuran secara zhalim dan karena dengki terhadap diturunkannya Al-Qur'an oleh Allah -sebagai bentuk karunia dari-Nya- kepada Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad. Mereka pun akhirnya kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah disebabkan keingkaran mereka kepada Nabi Muhammad setelah kemurkaan Allah atas mereka sebelumnya disebabkan tindakan mereka mengubah isi kitab Taurat. Bagi orang-orang yang mengingkari kenabian Muhammad ada adzab yang merendahkan dan menghinakan mereka. |
| وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ {٩١} |
91. Jika ada sebagian dari kaum muslimin yang berkata kepada kaum Yahudi, "Percayalah dengan kitab Al-Qur'an yang telah Allah turunkan!" Lantas mereka menjawab, "Kami memercayai kitab yang telah diturunkan Allah kepada nabi-nabi kami." Namun mereka mengingkari kitab yang diturunkan sesudah itu, padahal kitab ini adalah benar, sekaligus membenarkan kitab yang ada pada mereka. Seandainya mereka itu benar-benar beriman kepada kitab-kitab mereka, pastilah mereka juga akan beriman kepada Al-Qur'an yang membenarkan kitab-kitab mereka tersebut. Katakan kepada mereka, wahai Muhammad, memang kalian beriman kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada kalian; mengapa sejak dahulu kalian membunuh nabi-nabi Allah?" |
| وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ {٩٢} |
92. Sungguh, Nabi Musa telah datang kepada kalian dengan membawa berbagai mukjizat nyata, yang menunjukkan kebenaran beliau, seperti banjir, belalang, kutu, katak, dan sebagainya yang telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an yang agung. Namun demikian, kalian justru menjadikan anak sapi sebagai sembahan setelah Nabi Musa pergi untuk memenuhi panggilan Rabbnya (ke Gunung Thur). Ternyata kalian adalah orang-orang yang melampaui batasan-batasan Allah. |
| وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ {٩٣} |
93. Ingatkah ketika Kami ambil perjanjian yang diperkuat dari kalian untuk menerima ajaran Taurat yang dibawa Nabi Musa, namun ternyata kalian melanggar janji tersebut, lalu Kami angkat Gunung Thur di atas kepala kalian, lantas Kami katakan kepada kalian, "Ambillah apa yang telah Kami berikan kepada kalian dengan sungguh-sungguh, dengarkan, dan patuhi! Jika tidak maka Kami jatuhkan (timpakan) gunung ini kepada kalian." Lalu kalian menjawab, "Kami mendengar ucapan-Mu, namun Kami langgar perintah-Mu." Itu karena penyembahan terhadap anak lembu telah melekat dengan hati kalian disebabkan kalian berlarut-larut dalam kekufuran, Katakanlah kepada mereka, wahai Rasul, "Sungguh buruk, apa yang diperintahkan kepercayaanmu berupa kekufuran dan kezhaliman, jika kalian memang membenarkan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian." |
| قُلْ إِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْآخِرَةُ عِنْدَ اللَّهِ خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {٩٤} |
94. Katakanlah, wahai Rasul, kepada kaum Yahudi yang mengklaim bahwa surga itu diperuntukkan secara khusus bagi mereka dan bahwa mereka adalah putra-putra Allah serta kekasih-Nya karena menganggap diri mereka sebagai wali-wali Allah, sedangkan manusia lain tidak. persoalannya demikian maka mohonlah kematian atas orang-orang dusta di antara kalian atau selain kalian, jika kalian memang benar berkenaan dengan klaim kalian ini." |
| وَلَنْ يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ {٩٥} |
95. Selamanya mereka tidak akan pernah melakukan hal itu karena mereka sebenarnya mengetahui perihal kebenaran Nabi Muhammad dan disebabkan kedustaan serta kepalsuan mereka. Juga karena mereka telah melakukan kekufuran dan kedurhakaan, di mana keduanya menghalangi mereka meraih surga, bahkan menyebabkan mereka masuk neraka. Allah Mahatahu perihal orang-orang zhalim di antara para hamba-Nya dan Dia akan memberikan balasan kepada mereka atas hal itu. |
| وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ {٩٦} |
96. Engkau pasti akan tahu, wahai Rasul, bahwa orang-orang Yahudi adalah manusia yang paling tamak untuk hidup lama, sekalipun kehidupannya penuh dengan kerendahan dan kehinaan. Bahkan ketamakan mereka untuk hidup panjang melebihi keinginan orang-orang musyrik. Seorang Yahudi itu ingin agar bisa hidup seribu tahun, padahal umur yang panjang itu kalau pun terwujud tidak dapat menjauhkannya dari adzab Allah. Tiada sesuatu pun dari amal perbuatan mereka itu yang tersembunyi dari Allah dan Allah akan memberikan balasan adzab kepada mereka sebagaimana mestinya. |
| قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَىٰ قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ {٩٧} |
97. Katakanlah, wahai Rasul, kepada kaum Yahudi ketika mereka mengatakan: adalah musuh kami dari kalangan malaikat," bahwa barang siapa yang menjadikan Jibril musuh maka sesungguhnya Jibril itu telah menurunkan Al-Qur'an ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang membenarkan kitab-kitab Allah yang telah diturunkan sebelumnya, menunjukkan kepada kebenaran, serta memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang membenarkannya, dengan segala bentuk kebaikan di dunia dan akhirat. |
| مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ {٩٨} |
98. Barang siapa yang memusuhi Allah, para malaikat-Nya, para utusan-Nya dari kalangan malaikat atau manusia, lebih khusus lagi Jibril dan Mikail karena orang-orang Yahudi itu menganggap bahwa Jibril adalah musuh mereka sedangkan Mikail adalah kekasih mereka maka Allah memberitahukan bahwa barang siapa yang memusuhi salah seorang saja dari keduanya, berarti ia telah memusuhi yang lainnya dan berarti memusuhi Allah juga. Sesungguhnya Allah itu musuh bagi orang-orang yang mengingkari apa yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad |
| وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ {٩٩} |
99. Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu, wahai Rasul, ayat-ayat yang jelas dan nyata bahwa engkau benar-benar utusan Allah. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat tersebut kecu-ali orang-orang yang keluar dari agama Allah. |
| أَوَكُلَّمَا عَاهَدُوا عَهْدًا نَبَذَهُ فَرِيقٌ مِنْهُمْ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ {١٠٠} |
100. Betapa buruk keadaan Bani Israil yang suka melanggar janji itu. Setiap kali mereka membuat suatu perjanjian maka sekelompok dari mereka membuang perjanjian tersebut dan membatalkannya. Engkau dapatkan mereka mengikat perjanjian pada hari ini, namun esok hari mereka menggugurkannya. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak membenarkan ajaran yang dibawa oleh Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad |
| وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ {١٠١} |
101. Ketika Muhammad Rasulullah sudah datang kepada mereka dengan membawa Al-Qur'an yang sesuai dengan kitab yang sudah ada pada mereka, yaitu Taurat, sebagian dari mereka melemparkan Kitab Allah dan membalikkan ke balik punggung mereka (ditinggalkan tidak diikuti). Keadaan mereka adalah sebagaimana keadaan orang-orang bodoh yang tidak mengerti hakikat kitab itu. |
| وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ {١٠٢} |
102. Orang-orang Yahudi mengikuti apa yang diceritakan setan-setan kepada para tukang sihir di zaman kerajaan Nabi Sulaiman bin Daud. Sulaiman tidaklah kafir dan tidak pernah belajar sihir, akan tetapi setan-setan itulah yang kafir kepada Allah tatkala mereka mengajarkan sihir kepada manusia, demi merusak agama mereka. Demikian juga, orang-orang Yahudi itu mengikuti sihir yang diturunkan kepada dua orang malaikat, Harut dan Marut, di negeri Babil di Iraq, sebagai bentuk ujian dan cobaan Allah kepada para hamba-Nya. Kedua malaikat tersebut tidaklah mengajarkan kepada seorang pun sehingga keduanya menasihatkan dan memberikan peringatan kepadanya tentang belajar sihir. Kedua malaikat itu berkata, "Janganlah kamu kufur karena belajar sihir dan patuh kepada setan." Namun ternyata orang-orang belajar dari kedua malaikat itu sesuatu yang bisa menimbulkan kebencian antara suami dan istri sehingga keduanya bercerai. Para tukang sihir itu tidak mampu memberikan mudharat kepada seorang pun dengan sihir mereka kecuali dengan izin Allah dan karena memang sudah menjadi qadha'-Nya. (Apa) yang dipelajari para tukang sihir itu tidak lain adalah keburukan (kejahatan) yang merugikan mereka, bukannya memberi manfaat. Sihir itu kemudian diusung oleh setan kepada orang-orang Yahudi sehingga kemudian menyebar di tengah-tengah mereka, sehingga akhirnya mereka lebih mengutamakannya daripada Kitab Allah. Orang-orang Yahudi itu sebenarnya tahu bahwa orang yang memilih sihir dan meninggalkan kebenaran tidak akan memperoleh jatah kebaikan di akhirat. Sungguh buruk, tindakan mereka (dengan) membeli sihir dan kekufuran sebagai ganti dari iman serta (ittiba') Rasul, jika saja mereka memiliki ilmu yang membuahkan pengamalan dari apa yang telah dinasihatkan kepada mereka. |
| وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ {١٠٣} |
103. Seandainya orang-orang Yahudi itu beriman dan takut kepada Allah, tentu mereka yakin bahwa pahala Allah itu lebih baik bagi mereka daripada sihir serta keuntungan yang mereka dapatkan darinya. Seandainya mereka tahu betul tentang apa yang akan diraih dengan keimanan dan ketakwaan —berupa pahala dan balasan— tentu mereka akan beriman. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ {١٠٤} |
104. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan kepada Rasulullah Muhammad (dengan menggunakan kata): "Ra'ina!" (Perhatikan kami). Maksudnya: "Sudilah kiranya engkau berikan perhatian terhadap kami. Pahamkan kami sehingga kami dapat mengerti". Ini karena orang-orang Yahudi menggunakan kata-kata ini untuk diucapkan kepada Nabi namun memplesetkannya, dengan niat mencela dan menisbahkannya kepada ketololan (ru'unah). Tapi katakanlah, wahai orang-orang beriman, sebagai ganti dari kata tersebut, "Undzurna!"(Lihat/perhatikan kami). Maksudnya: "Lihat (perhatikan) kami! Dan kami pun pasti akan memberikan perhatian." Kata ini mengantarkan kepada makna yang dikehendaki. Dengarkanlah apa yang dibacakan kepada kalian berupa Kitab Rabb kalian, serta pahamilah. Bagi orang-orang ingkar, itu ada adzab yang amat pedih. |
| مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ {١٠٥} |
105. Orang-orang kafir dari kalangan Ahlukitab dan orang-orang musyrik tidak ingin jika diturunkan pada kalian sekecil apa pun kebaikan dari Rabb kalian; berupa kitab bacaan atau ilmu, pertolongan, atau kabar gembira. Namun Allah mengkhususkan rahmat-Nya untuk diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki di antara para hamba-Nya, yaitu berupa rahmat kenabian dan risalah. Allah adalah Pemilik Pemberian yang banyak nan luas. |
| مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا ۗ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {١٠٦} |
106. Kami tidaklah mengganti satu ayat atau melenyapkannya dari hati dan pikiran, melainkan pastilah Kami akan mendatangkan lagi yang lebih bermanfaat bagi kalian, atau mendatangkan yang semisal dengannya dalam hal taklif (beban pelaksanaan ibadah) dan pahala. Masing-masing ada hikmahnya. Tidakkah engkau ketahui, wahai Nabi dan umatmu, bahwa Allah Mahakuasa yang tidak akan bisa dilemahkan oleh sesuatu pun. |
| أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ {١٠٧} |
107. Apakah kamu tidak tahu, wahai Nabi, begitu juga umatmu, bahwa Allah adalah Pemilik yang mengatur segala yang ada di langit dan bumi? la melakukan apa yang dikehendaki-Nya, menghukumi apa yang diinginkan-Nya, serta memerintahkan para hamba-Nya dan melarang mereka sebagaimana yang Dia kehendaki, sedangkan mereka berkewajiban untuk taat dan menerima. Hendaklah setiap orang durhaka itu tahu bahwa tidak ada satu wali pun selain Allah yang melindungi mereka maupun seorang penolong yang menghalangi mereka dari adzab Allah. |
| أَمْ تُرِيدُونَ أَنْ تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِنْ قَبْلُ ۗ وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ {١٠٨} |
108. Apakah kalian, wahai umat manusia, ingin meminta berbagai hal kepada Rasul kalian, Muhammad dengan maksud membangkang dan menyombongkan diri, sebagaimana hal itu pernah diminta (Bani Israil) kepada Nabi Musa? Ketahuilah, siapa saja yang memilih kekufuran dan meninggalkan keimanan, ia telah keluar dari jalan Allah yang lurus menuju kebodohan dan kesesatan. |
| وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ ۖ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {١٠٩} |
109. Kebanyakan kalangan Ahlukitab berkeinginan kiranya kalian setelah beriman kembali menjadi kafir, sebagaimana kalian dahulu menyembah berhala. Demikian itu disebabkan kedengkian yang menguasai jiwa mereka, setelah jelas bagi mereka kebenaran Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad berkenaan dengan ajaran (kitab) yang beliau bawa. Oleh karena itu, maafkanlah mereka dari tindak kejahatan dan kesalahan, serta maafkan pula kebodohan mereka, sehingga Allah sendiri yang memberikan keputusan-Nya berkenaan dengan perintah perang melawan mereka. (Perintah ini pun telah datang dan telah terlaksana). Allah akan memberikan hukuman atas keburukan dari tindakan yang mereka lakukan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tanpa ada sesuatu pun yang bisa melemahkan-Nya. |
| وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {١١٠} |
110. Sibukkanlah diri kalian, wahai orang-orang yang beriman, dengan menunaikan shalat secara benar dan menunaikan zakat yang telah difardhukan. Ketahuilah bahwa segala bentuk kebaikan yang kalian tunaikan untuk diri kalian pasti akan kalian dapatkan pahalanya di sisi Allah di akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala amal perbuatan kalian dan Dia akan memberikan balasan atasnya. |
| وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ {١١١} |
111. Masing-masing dari kaum Yahudi dan Nasrani mengklaim surga itu diperuntukkan khusus bagi mereka. Selain mereka tidak ada yang akan memasukinya. Itu adalah khalayan mereka yang rusak. Katakan kepada mereka, wahai Rasul, "Hadirkan dalil kalian yang menunjukkan keabsahan dari klaim yang kalian katakan, jika kalian memang orang-orang yang benar (jujur) berkenaan dengan pengakuan kalian." |
| بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {١١٢} |
112. Persoalannya tidaklah sebagaimana anggapan mereka, bahwa surga itu khusus bagi sekelompok manusia saja, bukan untuk yang lainnya. Akan tetapi, sebenarnya yang akan masuk surga adalah siapa saja yang ikhlas (memurnikan ibadah) kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta mengikuti Rasul Muhammad berkenaan dengan setiap perkataan dan perbuatannya. Barang siapa yang melakukan hal itu maka ia berhak mendapatkan pahala amalnya di sisi Rabbnya di akhirat, yaitu masuk ke dalam surga. Mereka tidak pernah merasa khawatir berkenaan dengan apa yang akan mereka hadapi di kemudian hari berupa urusan akhirat, serta tidak pernah bersedih hati berkenaan dengan apa yang luput dari mereka berkenaan dengan perkara dunia. |
| وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ {١١٣} |
113. Orang-orang Yahudi mengatakan, "Kaum Nasrani itu tidak memiliki pegangan berupa agama yang benar." Sebaliknya, orang-orang Nasrani juga mengatakan hal yang sama tentang kaum Yahudi. Padahal mereka semua membaca Taurat dan Injil; yang di dalam kedua kitab itu disebutkan kewajiban untuk beriman kepada para nabi seluruhnya. Demikian juga orang-orang yang tidak mengetahui dari kalangan musyrikin Arab dan lainnya mengatakan hal yang serupa dengan perkataan mereka itu. Mereka berkata kepada setiap orang yang berpegang pada agama, "Engkau tidak berada di atas sesuatu (pegangan)." Allah akan memisahkan (mengadili) mereka semua pada Hari Kiamat berkenaan dengan apa yang mereka perselisihkan mengenai urusan agama, serta akan memberikan balasan kepada masing-masing dari mereka berdasarkan amal perbuatannya. |
| وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ {١١٤} |
114. Tiada seorang pun yang lebih zhalim daripada orang-orang yang menghalangi penyebutan nama-nama Allah di masjid-masjid, yang berupa penegakan shalat, membaca Al-Qur'an dan semisalnya, serta melakukan berbagai upaya untuk merobohkannya, atau menutupnya, atau menghalangi orang-orang beriman untuk memakmurkannya. Mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. Tidak sepantasnya mereka masuk ke dalam masjid-masjid kecuali dalam keadaan takut dan khawatir terhadap hukuman. Karena tindakannya yang demikian itu, mereka mendapatkan kehinaan di dunia, sedangkan di akhirat nanti mereka mendapatkan siksa yang keras. |
| وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {١١٥} |
115. Kepunyaan Allah-lah arah terbitnya matahari dan terbenamnya, serta arah antara keduanya. Dia adalah Pemilik bumi ini seluruhnya. Arah mana saja yang kalian tuju dalam melaksanakan shalat, berdasarkan perintah Allah kepada kalian maka sesungguhnya kalian menghadap Wajah-Nya. Kalian tidak akan bisa keluar dari kerajaan-Nya dan keluar dari ketaatan kepada-Nya. Sesungguhnya Allah itu Mahaluas rahmat-Nya kepada para hamba-Nya serta Mahatahu tentang segala amal perbuatan mereka. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. |
| وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ {١١٦} |
116. Kaum Yahudi, Nasrani, dan orang-orang musyrik mengatakan, "Allah telah mengambil anak untuk Diri-Nya." Mahasuci Allah dari perkataan batil ini. Bahkan, apa saja yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya (begitu pula) hamba-Nya. Mereka semua tunduk kepada-Nya serta patuh di bawah pengaturan-Nya. |
| بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ {١١٧} |
117. Allah adalah pencipta langit dan bumi tanpa pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Jika Allah itu menentukan sesuatu dan menginginkan agar sesuatu itu ada (terjadi) maka tinggal mengatakan,"Jadi!", maka jadilah ia. |
| وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۘ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ ۗ قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ {١١٨} |
118. Orang-orang bodoh dari kalangan Ahlukitab dan selain mereka, berkata kepada Nabi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad dalam bentuk pertanyaan bernada pembangkangan, "Mengapa Allah tidak langsung berbicara kepada kami untuk memberitahukan bahwa engkau adalah utusan-Nya? Atau mengapa tidak datang kepada kami sebuah mukjizat dari Allah yang menunjukkan kebenaranmu?" Perkataan semacam inilah yang juga diucapkan oleh umat-umat terdahulu kepada rasul-rasul yang diutus kepada mereka dalam bentuk ucapan pembangkangan dan keangkuhan. Hal itu disebabkan kesamaan hati kaum terdahulu dan kaum yang datang berikutnya dalam hal kekufuran serta kesesatan. Telah Kami jelaskan ayat-ayat Kami bagi orang-orang yang membenarkannya dengan pembenaran yang sesungguhnya karena keberadaan mereka sebagai orang-orang beriman kepada Allah dan mengikuti apa yang disyariatkan-Nya kepada mereka. |
| إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۖ وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ {١١٩} |
119. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu, wahai Rasul, dengan membawa agama yang benar, yang dikuatkan dengan berbagai hujah dan mukjizat. Oleh karena itu, sampaikanlah ia kepada umat manusia, diiringi penyampaian kabar gembira kepada orang-orang beriman akan kebaikan dunia dan akhirat, serta diiringi tindakan menakut-nakuti orang-orang yang membangkang bahwa mereka sedang menanti datangnya adzab Allah. Setelah penyampaian ini, engkau tidak lagi bertanggung jawab mengenai kekufuran orang yang kafir kepadamu karena mereka akan masuk ke dalam neraka pada Hari Kiamat dan tidak akan keluar darinya. |
| وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ {١٢٠} |
120. Kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu, wahai Rasul, kecuali jika engkau tinggalkan agamamu dan engkau ikuti agama mereka. Katakanlah kepada mereka, "Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang benar." Jika engkau mengikuti keinginan mereka itu setelah wahyu itu datang kepadamu maka tiada lagi seorang wali bagimu di sisi Allah yang bermanfaat bagimu dan tidak ada satu pun penolong yang akan menolongmu. Firman Allah ini ditujukan kepada umat manusia secara umum, meskipun kalimatnya ditujukan kepada Nabi |
| الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {١٢١} |
121. Orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab dari kala-ngan Yahudi dan Nasrani, yang membaca kitab itu dengan bacaan yang benar serta mengikutinya dengan sebenar-benarnya, serta beriman kepada apa yang terkandung di dalamnya, berupa keimanan kepada para utusan Allah, yang di antara mereka adalah Nabi dan Rasul kita Muhammad tidak mengubah dan mengganti kandungannya, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad dan beriman kepada ajaran yang diturunkan kepada beliau. Adapun orang-orang yang mengganti sebagian kandungan Alkitab dan menyembunyikan sebagian yang lain maka mereka itu adalah orang-orang yang kufur kepada Nabi Muhammad dan kufur kepada apa yang diturunkan kepada beliau. Barang siapa kufur kepada beliau, mereka itulah orang yang paling rugi di sisi Allah. |
| يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ {١٢٢} |
122. Wahai anak cucu Ya'qub, ingatlah nikmat-Ku yang banyak tercurah kepada kalian. Aku telah melebihkan kalian (daripada) seluruh penduduk alam di zaman kalian dengan banyaknya jumlah nabi dari kalangan kalian dan kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. |
| وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ {١٢٣} |
123. Takutlah akan kengerian Hari Hisab; yaitu hari ketika tidak ada satu jiwa pun yang dapat memberi manfaat kepada jiwa yang lain barang sedikit pun dan Allah tidak sudi menerima tebusan yang bisa menyelamatkan jiwa itu dari adzab. Tiada lagi berguna suatu perantara serta tidak ada seorang pun yang bisa menolong orang lain. |
| وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ {١٢٤} |
124. Ingatlah, wahai Nabi, ketika Allah memberikan ujian kepada Nabi Ibrahim berupa beban-beban syariat yang diberikan kepada beliau, lalu beliau menunaikan, dan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Allah berkata kepadanya, "Sesungguhnya Aku menjadikanmu sebagai teladan bagi semua manusia." Ibrahim menjawab, "Ya Rabbi, jadikanlah sebagian dari keturunanku sebagai imam-imam (pemimpin-pemimpin), sebagai bentuk karunia dari-Mu." Allah menjawab, "Sesungguhnya imamah (kepemimpinan) dalam agama itu tidak akan dipegang oleh orang-orang yang zhalim." |
| وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ {١٢٥} |
125. ingatlah, wahai Nabi, ketika Kami jadikan Kakbah itu sebagai tempat rujukan bagi umat manusia yang mereka datangi, kemudian kembali ke keluarga mereka, kemudian kembali lagi kepadanya, serta sebagai tempat berkumpul mereka dalam haji dan umrah, thawaf, shalat, dan sebagai tempat yang aman bagi mereka. Tidak ada musuh yang hendak menyerang mereka di dalamnya. Kami katakan, "Jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, yaitu batu yang menjadi tempat Ibrahim berdiri ketika membangun Kakbah. Kami wahyukan kepada Ibrahim dan putranya, Ismail, "Bersihkanlah Rumah-Ku dari segala jenis kotoran dan noda, agar dapat digunakan oleh orang-orang yang beribadah di dalamnya dengan mengerjakan thawaf di sekitar (sekeliling) Kakbah atau iktikaf di masjid dan shalat di dalamnya." |
| وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَىٰ عَذَابِ النَّارِ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ {١٢٦} |
126. Ingatlah, wahai Nabi, ketika Ibrahim memanjatkan doa, "Ya Rabbi, jadikanlah Mekah ini sebagai negeri yang aman dari segala hal yang mengkhawatirkan. Berikanlah rezeki kepada penduduknya berupa segala jenis buah-buahan. Khususkan rezeki ini pada siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir." Allah berfirman, "Barang siapa di antara mereka yang kafir maka Aku berikan rezeki kepadanya di dunia saja dan Aku senangkan ia sedikit saja, kemudian akan Aku paksa untuk menerima siksa api neraka. Sungguh, hal itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali." |
| وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ {١٢٧} |
127. Ingatlah, wahai Nabi, ketika Ibrahim dan Ismail meninggikan dasar-dasar pondasi Kakbah, sambil memohon kepada Allah dengan penuh kekhusyukan, "Wahai Rabb kami, terimalah amal kebaikan kami dan kabulkan doa kami. Sungguh, Engkau Maha Mendengar segala ucapan hamba-Mu dan Maha Mengetahui segala keadaan mereka." |
| رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ {١٢٨} |
128. "Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua tetap teguh di atas Islam, tunduk patuh kepada hukum-hukum-Mu. Jadikanlah anak cucu kami sebagai umat yang tunduk pula kepada-Mu dengan beriman. Perlihatkanlah kepada kami rambu-rambu tempat kami mengerjakan ibadah kepada-Mu. Maafkanlah dosa-dosa kami. Sesungguhnya Engkau banyak menerima taubat dan banyak mencurahkan rahmat kepada para hamba-Mu." |
| رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {١٢٩} |
129. "Ya Rabb kami, utuslah di kalangan umat ini seorang rasul dari keturunan Ismail, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu serta mengajarkan Al-Qur'an dan Sunnah kepada mereka, juga membersihkan mereka dari syirik serta akhlak buruk. Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa sehingga tidak ada sesuatu pun (menghalangi)-Nya, serta Mahabijaksana, yang selalu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya." |
| وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ {١٣٠} |
130. Tidak ada seorang pun yang berpaling dari agama Ibrahim, yaitu Islam, kecuali ia adalah seorang idiot dan bodoh. Kami telah memilih Ibrahim di dunia ini sebagai Nabi dan Rasul; di akhirat nanti beliau termasuk orang-orang shalih, yang akan mendapatkan derajat paling tinggi. |
| إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ {١٣١} |
131. Penyebab pilihan ini adalah karena beliau bersegera menerima Islam tanpa keraguan, yaitu ketika Rabb berfirman kepadanya, "Murnikanlah jiwamu untuk Allah semata dengan tunduk kepada-Nya!" Lalu Ibrahim menjawab, "Aku pasrah kepada Rabb semesta alam, dengan penuh keikhlasan, pentauhidan, cinta, dan (ridha pada)-Nya." |
| وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ {١٣٢} |
132. Ibrahim dan Ya'qub mendorong anak-anak mereka agar tetap teguh di atas Islam dengan mengatakan, "Wahai anak-anak kami, sesungguhnya Allah telah memilihkan untuk kalian agama ini, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Maka janganlah kalian sampai berpisah darinya sepanjang hayat kalian dan jangan sampai kematian datang kepada kalian kecuali kalian berada di atasnya." |
| أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ {١٣٣} |
133. Apakah kalian, wahai orang-orang Yahudi, hadir ketika kematian itu menjemput Nabi Ya'qub, ketika beliau berkata kepada anak-anaknya: "Apakah yang akan kalian ibadahi setelah aku mati?" Mereka menjawab, "Kami beribadah kepada llah-mu dan llah bapak-bapakmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq sebagai Ilah satu-satunya (yang berhak diibadahi). Kami semua tunduk patuh kepada-Nya." |
| تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ {١٣٤} |
134. Itu adalah umat pendahulu kalian yang telah berlalu. Bagi mereka amal mereka dan bagi kalian amal kalian. Kalian tidak akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang amal mereka dan mereka pun tidak akan ditanya mengenai amal kalian. Masing-masing akan diberi balasan atas amal perbuatannya. Seseorang tidak akan disiksa karena dosa orang lain. Tidak ada yang bermanfaat bagi seorang pun selain iman dan takwanya. |
| وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ {١٣٥} |
135. Orang-orang Yahudi berkata kepada umat Muhammad "Masuklah kalian ke dalam agama Yahudi, pasti kalian akan mendapatkan petunjuk!" Kaum Nasrani juga mengatakan hal yang sama. Katakan kepada mereka, wahai Rasul, "Sebenarnya petunjuk itu adalah jika kita semua mau mengikuti millah Nabi Ibrahim. Beliau telah berpaling dari setiap agama yang batil untuk mengikuti agama yang benar, sedangkan beliau tidaklah menjadi bagian dari orang-orang yang menyekutukan Allah ." |
| قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ {١٣٦} |
136. Katakanlah, wahai orang-orang beriman, kepada kaum Yahudi dan Nasrani, "Kami membenarkan Allah Yang Maha Esa yang diibadahi dengan haq. Membenarkan apa yang telah diturunkan kepada kami berupa Al-Qur'an yang diwahyukan Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad. Membenarkan suhuf-suhuf yang telah diturunkan kepada Ibrahim dan kedua putranya, Ismail dan Ishaq, kepada Ya'qub dan Asbath, yaitu nabi-nabi dari putra Ya'qub yang mereka itu berada dalam kabilah-kabilah Bani Israil yang berjumlah dua belas itu. Membenarkan Taurat yang diberikan kepada Nabi Musa dan Injil yang diberikan kepada Nabi Isa, serta membenarkan wahyu yang diturunkan kepada seluruh nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan salah seorang pun dari mereka dalam mengimaninya. Kami tunduk kepada Allah dengan menjalankan ketaatan dan ibadah." |
| فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ {١٣٧} |
137. Jika orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani maupun selain mereka beriman sebagaimana yang kalian yakini (terkait) wahyu yang dibawa Rasulullah. Sungguh, mereka telah mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. Jika mereka berpaling maka sesungguhnya mereka berada dalam penyelisihan yang keras. Allah akan mencukupkan (memelihara) kamu, wahai Rasul, dari kejahatan mereka dan akan menolongmu untuk mengalahkan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar perkataan-perkataan kalian serta Maha Mengetahui segala keadaan kalian. |
| صِبْغَةَ اللَّهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ {١٣٨} |
138. Berpeganglah kepada agama Allah yang telah menciptakan kalian di atasnya. Tidak ada yang lebih baik daripada fitrah Allah. Allah telah menciptakan seluruh manusia di atas fitrah itu. Berpeganglah kepadanya dan katakanlah, "Kami semua tunduk dan patuh kepada Rabb kami dalam mengikuti millah Nabi Ibrahim." |
| قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ {١٣٩} |
139. Katakanlah, wahai Rasul, kepada Ahlukitab, "Apakah kalian mendebat kami berkenaan pentauhidan Allah dan ikhlas (memurnikan ibadah) kepada-Nya. Dia adalah Rabb alam semesta; tidak hanya menjadi Rabb bagi suatu kaum tanpa kaum yang lain. Bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian. Kami memurnikan ibadah dan ketaatan kepada Allah. Kami tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya dan kami tidak beribadah kepada seorang pun selain-Nya." |
| أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ ۗ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {١٤٠} |
140. "Apakah kalian mengatakan dalam rangka mendebat Allah bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan Asbath -yaitu nabi-nabi yang ada dalam kabilah-kabilah Bani Israil yang berjumlah dua belas dari anak keturunan Ya'qub-, mereka itu mengikuti agama kaum Yahudi atau Nasrani?" Ini adalah sebuah kedustaan. Mereka telah diutus dan telah meninggal sebelum Taurat dan Injil diturunkan. Katakan kepada mereka, wahai Rasul, "Apakah kamu lebih tahu tentang agama kalian ataukah Allah yang lebih tahu?" Al-Qur'an memberitahukan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang hanif (lurus) dan orang-orang muslim. Tidak ada seorang pun yang lebih zhalim dari kalian ketika kalian menyembunyikan kesaksian yang kalian tahu pasti dari Allah dan kalian ternyata mengklaim yang sebaliknya, sebagai bentuk mengada-ada kebohongan terhadap Allah. Allah tidak pernah lengah sedikit pun dari amal perbuatan kalian. Bahkan, Dia akan menghitung dan akan memberikan balasan atasnya. |
| تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ {١٤١} |
141. Itu adalah umat pendahulu kalian yang telah berlalu. Bagi mereka amal mereka dan bagi kalian amal kalian. Kalian tidak akan ditanya (dimintai tanggung jawab) tentang amal mereka dan mereka pun tidak akan ditanya mengenai amal kalian. Ayat ini berisi pemutusan ketergantungan kepada para makhluk serta tidak boleh tertipu dengan penasaban kepada mereka. Hal yang menjadi ukuran adalah iman kepada Allah, beribadah kepada-Nya saja, serta mengikuti rasul-rasul-Nya. Orang yang mengingkari seorang rasul saja dari mereka berarti telah mengingkari seluruh rasul yang ada. |
| سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ {١٤٢} |
142. Orang-orang bodoh dan lemah akalnya dari kalangan Yahudi dan semisal mereka, akan mengatakan dalam bentuk ejekan dan penentangan, "Apa yang memalingkan orang-orang muslim itu dari kiblat mereka yang selama ini mereka menghadap ke sana saat mengerjakan shalat sejak awal Islam?" Maksud (mereka) adalah Baitul Maqdis. Katakan kepada mereka, wahai Rasul, "Tempat terbit dan terbenamnya matahari (timur dan barat) serta antara keduanya adalah milik Allah. Tiada arah di luar kekuasaan dan kepemilikan-Nya. Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya ke jalan hidayah yang lurus." Dalam hal ini terdapat nasihat dan arahan bahwa segala urusan itu adalah hak milik Allah ter-kait pelaksanaan perintah-perintah-Nya; ke arah mana saja Allah arahkan kita, ke situlah kita mengarah. |
| وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ {١٤٣} |
143. Sebagaimana Kami telah memberikan hidayah kepada kalian, wahai kaum muslimin, ke jalan yang benar dalam beragama. Begitu juga Kami menjadikan kalian sebagai umat pilihan nan adil sehingga kalian bisa mempersaksikan kepada seluruh umat yang ada di akhirat nanti bahwa para rasul mereka telah menyampaikan risalah Rabb mereka, sedangkan Rasul di akhirat nanti juga menjadi saksi atas kalian bahwa beliau telah menyampaikan risalah Rabbnya kepada kalian. Kami tidaklah menjadikan kiblat Baitul Maqdis, wahai Rasul, yang sebelumnya engkau berkiblat ke sana (yang) kemudian Kami palingkan kamu darinya untuk berkiblat ke Kakbah di Mekah; kecuali untuk menampakkan apa yang sudah Kami ketahui sejak zaman azali berdasarkan ilmu yang berkaitan dengan pahala dan hukuman; agar Kami membedakan antara siapa yang mengikutimu dan taat kepadamu serta menghadap ke kiblat yang engkau hadapkan dirimu ke arahnya, dengan orang yang lemah imannya sehingga ia berbalik menjadi murtad dari agamanya disebabkan keraguan dan kemunafikannya. Keadaan ini, yaitu memalingkan setiap muslim dalam shalatnya dari menghadap ke Baitul Maqdis menuju Kakbah, adalah sesuatu yang berat dan sulit, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk Allah dan diberi anugerah iman dan takwa. Allah tidak akan menyia-nyiakan keimanan kalian kepada-Nya serta mengikuti Rasul-Nya dan tidak akan menggugurkan shalat kalian ke arah kiblat yang sebelumnya. Sungguh, Dia Maha Pengasih lagi Penyayang kepada umat manusia. |
| قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ {١٤٤} |
144. Seringkali Kami melihat wajahmu menengadah ke langit, wahai Rasul, secara berulang kali demi menanti turunnya wahyu kepadamu terkait urusan kiblat. Kami pasti akan memalingkan kamu dari Baitul Maqdis ke kiblat yang kamu sukai dan kamu ridha (puas) dengannya; yaitu arah Masjidil Haram di Mekah. Maka palingkanlah wajahmu ke sana. Dan, di mana saja kalian berada, wahai kaum muslimin, kalian hendak mengerjakan shalat maka hadapkan wajah kalian ke Masjidil Haram. Orang-orang yang telah diberi ilmu Alkitab oleh Allah, dari kalangan Yahudi dan Nasrani, sebenarnya mengetahui bahwa pemindahan kiblatmu ke Kakbah adalah sesuatu yang benar, yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab mereka. Allah sama sekali tidak pernah lengah dari apa yang dikerjakan oleh mereka yang berpaling dan ragu itu. Allah akan memberikan balasan atas hal itu. |
| وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ ۚ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ {١٤٥} |
145. Jika ,engkau, wahai Rasul, mendatangi orang-orang yang telah diberi kitab Taurat dan Injil, dengan membawakan setiap bentuk hujah dan bukti nyata bahwa menghadap ke Kakbah dalam shalat adalah benar sebagai perintah dari sisi Allah, mereka tetap tidak mau mengikuti kiblatmu karena sikap membangkang dan sombong. Tentu saja kamu juga tidak akan mengikuti kiblat mereka. Demikian juga sebagian dari mereka tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Jika saja kamu mengikuti keinginan mereka terkait urusan kiblat dan lainnya, setelah datang kepadamu ilmu bahwa engkaulah yang berada di atas kebenaran, sedangkan mereka berada di atas kebatilan, sungguh engkau menjadi bagian dari orang-orang yang menzhalimi diri sendiri. Ini adalah pesan untuk seluruh umat dan sekaligus peringatan serta ancaman bagi siapa saja yang mengikuti keinginan orang-orang yang menyelisihi syariat Islam. |
| الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ {١٤٦} |
146. Orang-orang yang telah Kami beri Taurat dan Injil dari kalangan ulama Yahudi dan Nasrani sesungguhnya telah mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah, melalui sifat-sifat yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Namun sebagian dari mereka sengaja menyembunyikan kebenaran, padahal sebenarnya mereka mengetahui kebenaran beliau dan kepastian sifat-sifat beliau. |
| الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ {١٤٧} |
147. Yang diturunkan kepadamu, wahai Nabi, adalah kebenaran yang berasal dari Rabbmu. Oleh karena itu, janganlah kamu menjadi bagian dari orang-orang yang meragukannya. Meskipun kalimat ini ditujukan kepada Rasul namun sebenarnya berlaku untuk seluruh umat . |
| وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {١٤٨} |
148. Setiap umat dari seluruh umat yang ada, masing-masing memiliki kiblat yang mereka menghadap kepadanya dalam shalat yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, bersegeralah wahai orang-orang yang beriman untuk berlomba-lomba dalam menunaikan amal shalih yang disyariatkan Allah kepada kalian di dalam Islam. Allah akan menghimpun kalian pada Hari Kiamat dari tempat mana saja kalian dahulu berada. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. |
| وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۖ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ {١٤٩} |
149. Wahai Nabi, dari tempat mana saja engkau keluar bepergian, sedangkan engkau hendak menunaikan shalat maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Sesungguhnya penghadapan wajahmu ke sana adalah kebenaran yang pasti dari Rabbmu. Allah sekali-kali tidak akan lengah dari apa yang kalian kerjakan dan Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas semua itu. |
| وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ {١٥٠} |
150. Dari arah mana saja engkau keluar, wahai Nabi, arahkanlah wajahmu ke Masjidil Haram dan di belahan bumi mana pun berada, wahai kaum muslimin, palingkanlah wajah kalian ke arah Masjidil Haram. Hal itu dimaksudkan agar orang-orang yang menyelisihi kalian tidak punya sanggahan terhadap kalian dengan melakukan penyelisihan dan penentangan setelah penghadapan arah kiblat ke sana. Kecuali orang-orang yang zhalim dan membangkang di antara mereka. Mereka akan tetap saja melakukan penentangan. Oleh karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, namun takutlah kepada-Ku dengan menunaikan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Demikian itu, Aku sempurnakan nikmat-Ku dengan memilihkan syariat yang paling sempurna untuk kalian dan agar kalian mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar. |
| كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ {١٥١} |
151. Sebagaimana Kami telah memberikan nikmat kepada kalian dengan menghadapkan ke Kakbah (ketika shalat), Kami pun telah mengutus seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, yang membacakan kepada kalian ayat-ayat penjelas kebenaran dari yang batil, membersihkan kalian dari noda syirik dan buruknya akhlak, mengajarkan Kitab dan Sunnah serta hukum-hukum syariat, serta mengajarkan kepada kalian berita-berita para nabi dan kisah-kisah umat terdahulu yang sebelumnya tidak kalian ketahui. |
| فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ {١٥٢} |
152. Ingatlah kepada-Ku dengan mengerjakan ketaatan dan ibadah, niscaya Aku akan ingat kepada kalian dengan memberikan ampunan dan karunia-Ku. Khususkan kesyukuran kalian kepada-Ku, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku yang tercurah kepada kalian. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ {١٥٣} |
153. Wahai orang-orang yang beriman, mintalah bantuan kepada Allah dalam segala urusan kalian, yaitu dengan cara bersabar terhadap berbagai musibah, meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan dan dosa, bersabar (tahan) di dalam mengerjakan segala bentuk ketaatan dan kebaikan, serta dengan cara mengerjakan shalat yang menjadikan jiwa itu tenang dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar dengan memberikan bantuan, bimbingan dan petunjuk. Ayat ini berisi kebersamaan (ma'iyyah) Allah yang khusus terhadap orang-orang yang beriman, yang mengandung konsekuensi sebagaimana yang disebutkan tadi. Adapun kebersamaan secara umum, mengandung konsekuensi makna pengetahuan dan peliputan-Nya maka hal itu berlaku bagi seluruh makhluk. |
| وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ {١٥٤} |
154. Janganlah kalian katakan, wahai orang-orang yang beriman, terkait orang-orang yang gugur karena berjihad di jalan Allah, sebagai orang-orang yang mati. Bahkan, sebenarnya mereka itu hidup dengan bentuk kehidupan yang khusus bagi mereka di dalam kubur, namun yang mengetahui kaifiyat kehidupannya hanya Allah, sedangkan kalian tidak mengetahuinya. Ayat ini menjadi dalil mengenai adanya kenikmatan kubur. |
| وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ {١٥٥} |
155. Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa ketakutan, kelaparan, dan dengan kurangnya harta dalam bentuk kesulitan untuk mendapatkannya, atau hilangnya harta; dengan jiwa dalam bentuk kematian atau gugur sebagai syahid di jalan Allah; serta dengan berkurangnya buah-buah yang berupa kurma, anggur, dan biji-bijian disebabkan berkurangnya hasil atau rusaknya tanaman tersebut. Berikanlah kabar gembira, wahai Nabi, kepada orang-orang yang bersabar atas ini semua, atau hal-hal yang serupa dengannya; dengan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan mereka berupa kesudahan yang baik di dunia dan akhirat. |
| الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ {١٥٦} |
156. Di antara sifat orang-orang yang bersabar adalah jika mereka tertimpa sesuatu yang tidak mereka sukai maka mereka mengatakan, "Kita semua ini adalah budak yang dimiliki Allah, yang diatur sesuai dengan perintah dan aturan dari Allah. Dia bisa berbuat terhadap kita sesuai dengan kehendak-Nya. Dan, kita semua pasti akan kembali kepada-Nya dengan kematian, kemudian dengan kebangkitan untuk dihisab dan diberi balasan." |
| أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ {١٥٧} |
157. Orang-orang yang bersabar itulah yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan mendapatkan rahmat yang agung dari-Nya. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar. |
| إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ {١٥٨} |
158. Sesungguhnya Shafa dan Marwah, dua bukit kecil di dekat Kakbah di sebelah timur adalah bagian dari rambu-rambu agama Allah yang nyata, di mana para hamba Allah mengerjakan ibadah dengan cara Sa'i (lari-lari kecil) antara keduanya. Barang siapa yang bermaksud mengunjungi Kakbah dalam rangka menunaikan haji atau umrah, tidak ada dosa dan tidak ada salahnya untuk mengerjakan Sa'i antara keduanya; bahkan ia berkewajiban mengerjakan hal itu dan mengerjakan bentuk-bentuk ketaatan lainnya sebagai bentuk amal kebajikan secara ikhlas karena Allah semata. Sungguh, Allah Maha Mensyukuri, di mana akan memberikan imbalan yang banyak atas amalan yang sedikit, serta Maha Mengetahui amalan-amalan para hamba sehingga tidak akan menyia-nyiakannya. Allah tidak akan mengurangi pahala seseorang sedikit pun. |
| إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ {١٥٩} |
159. Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa ayat-ayat yang jelas, di mana menunjukkan kenabian Muhammad dan apa yang dibawa beliau, yaitu para ulama Yahudi dan ulama Nasrani maupun selain mereka di antara orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan setelah Kami perlihatkan kepada umat manusia di dalam Taurat dan Injil. Mereka itulah orang yang dijauhkan oleh Allah dari rahmat-Nya serta didoakan mendapatkan laknat oleh seluruh makhluk yang ada. |
| إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ {١٦٠} |
160. Kecuali orang-orang yang kembali (ke jalan yang benar) dengan memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya, memperbaiki apa yang telah mereka rusak, dan menjelaskan apa yang dahulu mereka sembunyikan; mereka adalah orang-orang yang Aku terima taubatnya dan Aku berikan ampunan. Sungguh, Aku adalah Dzat Penerima taubat atas siapa saja yang mau bertaubat di antara para hamba-Ku dan Aku adalah Dzat Yang Maha Penyayang karena Aku tunjukkan mereka untuk bertaubat (serta) Aku terima taubatnya. |
| إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ {١٦١} |
161. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari keimanan dan menyembunyikan kebenaran serta terus-menerus melakukan yang demikian itu sampai meninggal maka mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya; yaitu dengan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. |
| خَالِدِينَ فِيهَا ۖ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ {١٦٢} |
162. Mereka itu terus-menerus berada dalam laknat dan neraka tanpa pernah diringankan dari adzab yang mereka terima. Mereka pun tidak diberi tangguh karena permohonan maaf yang mereka minta. |
| وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ {١٦٣} |
163. IIah kalian, wahai manusia, adalah Ilah Yang Esa; Maha Satu-satunya berkenaan Dzat-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya serta peribadahan makhluk kepada-Nya. Tidak ada yang berhak diibadahi dengan hak kecuali Dia, Sang Maha Rahman yang memiliki sifat rahmah -terkait Dzat-Nya maupun perbuatan-Nya- kepada seluruh makhluk, dan Sang Maha Rahim yang memberikan rahmat secara khusus kepada orang-orang yang beriman. |
| إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ {١٦٤} |
164. Sesungguhnya pada penciptaan langit dengan segala ketinggian dan keluasannya; penciptaan bumi berikut gunung-gunung, daratan, dan lautannya; pergantian siang dan malam yang berupa panjang (serta) pendeknya, gelap juga terangnya serta pergantian keduanya dalam bentuk masing-masing untuk menggantikan yang lainnya; bahtera-bahtera yang berlayar di lautan, pembawa apa yang berguna bagi umat manusia; air hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dengan itu Allah menghidupkan (menyuburkan) bumi sehingga menghijau dan memiliki keelokan setelah sebelumnya bumi kering tanpa tumbuhan di atasnya; begitu juga apa yang telah Allah sebarkan di muka bumi ini, berupa berbagai bentuk binatang merayap di tanah serta nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada kalian berupa pengaturan angin juga pengarahannya serta awan yang diperjalankan antara langit dan bumi. Semua bukti-bukti yang disebutkan di atas merupakan ayat-ayat (tanda) keesaan Allah dan keagungan nikmat-nikmat-Nya bagi kaum yang mengetahui tempat-tempat bukti dan memahami dalil-dalil yang menunjukkan keesaan Allah dan keberhakan-Nya untuk diibadahi. |
| وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ {١٦٥} |
165. Sekalipun sudah terdapat berbagai bukti yang pasti, namun masih saja ada sekelompok manusia yang menjadikan (sekutu) selain Allah berupa berhala-berhala, sembahan-sembahan dan wali-wali yang mereka jadikan sebagai tandingan-tandingan Allah, serta mereka berikan cinta, pengagungan, dan ketaatan yang sebenarnya hanya layak diberikan kepada Allah semata. Sedangkan orang-orang mukmin itu lebih besar kecintaannya kepada Allah daripada kecintaan kaum kafir kepada sembahan-sembahan mereka. Sebab, orang-orang mukmin itu memurnikan kecintaan seluruhnya hanya untuk Allah, sedangkan orang-orang kafir itu membuat persekutuan dalam hal cinta. Seandainya orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan berbuat syirik dalam kehidupan di dunia mengetahui adzab akhirat, bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik seluruh kekuatan yang ada dan bahwa Allah itu sangat keras siksa-Nya,tentu mereka tidak akan menjadikan sembahan-sembahan selain Allah yang mereka ibadahi selain Allah dan tidak pula mendekatkan diri kepada-Nya melalui mereka. |
| إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ {١٦٦} |
166. Ketika mereka menyaksikan adzab akhirat dengan mata kepala sendiri, para pemimpin yang diikuti itu berlepas diri dari setiap orang yang mengikuti mereka di atas kemusyrikan dan terputuslah segala bentuk hubungan di antara mereka yang dahulu mengikat mereka ketika di dunia, berupa kedekatan, pengikutan, din, dan sebagainya. |
| وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ {١٦٧} |
167. Orang-orang yang mengikuti itu mengatakan, "Aduhai kiranya kami bisa kembali ke dunia sehingga kami bisa mengumumkan lepasnya kami dari para pemimpin itu sebagaimana mereka mengumumkan keberlepasan mereka dari kami." Sebagaimana Allah memperlihatkan mereka akan adzab-Nya yang keras pada Hari Kiamat, Allah pun memperlihatkan amalan-amalan mereka yang batil, sehingga menjadi penyesalan-penyesalan pada diri mereka, sedangkan mereka tidak akan bisa keluar dari neraka selama-lamanya. |
| يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ {١٦٨} |
168. Wahai sekalian umat manusia makanlah dari rezeki Allah di muka bumi yang dibolehkan oleh-Nya, yaitu rezeki yang bersih dalam arti tidak najis, serta bermanfaat dalam arti tidak memberikan mudharat. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan dalam rangka menghalalkan dan mengharamkan serta melakukan bid'ah juga kemaksiatan. Sesungguhnya setan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata. Sungguh, setan itu memerintahkan kalian untuk melakukan segala bentuk dosa dan kekejian yang pasti berdampak buruk terhadap diri kalian, segala bentuk kemaksiatan yang nyata keburukannya, serta memerintahkan kalian agar mengada-ada kebohongan terhadap Allah dalam bentuk mengharamkan yang halal dan sebagainya tanpa dasar ilmu. |
| إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ {١٦٩} |
169. Lihat ayat 168 |
| وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ {١٧٠} |
170. Jika orang-orang mukmin itu berkata dalam rangka memberikan nasihat kepada orang-orang yang sesat itu, "Ikutilah apa yang telah Allah turunkan berupa Al-Qur'an dan petunjuk!" mereka tetap saja mengikuti tradisi para pendahulu mereka yang musyrik sambil mengatakan, "Kami tidak mau mengikuti agama kalian. Akan tetapi, kami akan mengikuti apa yang kami dapati telah dilakukan oleh nenek moyang kami." Apakah mereka masih saja mengikuti bapak-bapak mereka meskipun sebenarnya mereka tidak memahami sedikit pun tentang Allah dan juga tidak mengetahui petunjuk? |
| وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً ۚ صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ {١٧١} |
171. Perumpamaan sifat orang-orang kafir dan orang yang menyeru mereka kepada petunjuk dan iman adalah seperti seorang penggembala berteriak memanggil binatang gembalaannya serta melarangnya, sedangkan binatang itu tidak mengerti makna dari ucapan sang penggembala. Binatang itu hanya bisa mendengar seruan dan gemuruh suara saja. Orang-orang kafir itu tuli karena pendengaran mereka tersumbat dari mendengar kebenaran; bisu karena lidah mereka bungkam dari mengucapkan kebenaran; serta buta mata mereka sehingga tidak bisa melihat bukti-bukti yang jelas. Mereka tidak bisa mempergunakan akal untuk sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ {١٧٢} |
172. Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari makanan-makanan yang baik, enak dan halal yang telah Kami berikan kepada kalian. Jangan menjadi seperti orang-orang kafir yang mengharamkan makanan-makanan yang baik dan menghalalkan makanan-makanan yang buruk. Bersyukurlah kepada Allah atas berbagai nikmat-Nya yang agung yang tercurah kepada kalian, baik dengan hati, lidah, maupun anggota tubuh kalian; jika kalian memang benar-benar tunduk terhadap perintah-Nya, mendengar dan patuh kepada-Nya, serta beribadah hanya kepada-Nya semata tanpa ada sekutu bagi-Nya. |
| إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {١٧٣} |
173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atas kalian sesuatu yang merugikan kalian, seperti bangkai, yaitu binatang yang tidak disembelih secara syarii, darah yang ditumpahkan, daging babi, serta hewan-hewan sembelihan yang disembelih untuk selain Allah. Di antara bentuk karunia Allah atas kalian dan kemudahan yang diberikan oleh-Nya adalah Dia membolehkan kalian menyantap makanan-makanan yang diharamkan tersebut dalam kedaan darurat. Barang siapa terpaksa memakan makanan tersebut karena darurat; tanpa berbuat zhalim di dalam menyantapnya, dalam arti menyantap di luar keperluan dan tidak melampaui batas-batas yang digariskan oleh Allah terkait apa yang dibolehkan baginya maka tidak ada dosa atasnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun kepada para hamba-Nya dan Maha Merahmati mereka. |
| إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ {١٧٤} |
174. Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah dalam kitab-kitab-Nya, berupa sifat Muhammad maupun kebenaran yang lainnya, serta tamak untuk mengambil kompensasi yang tak seberapa nilainya dari materi duniawi, sebagai imbalan dari tindakan penyembunyian tersebut maka mereka itu tidaklah memakan imbalan yang ia dapatkan dari tindakannya menyembunyikan kebenaran itu kecuali api Jahanam yang menyala di dalam perut mereka. Allah tidak sudi mengajak mereka berbicara pada Hari Kiamat dikarenakan kemarahan dan kemurkaan-Nya terhadap mereka. Allah juga tidak sudi menyucikan mereka dari kotoran dosa dan kekufuran, sedangkan bagi mereka adzab yang menyakitkan. |
| أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ {١٧٥} |
175. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut telah menukar petunjuk dengan kesesatan dan menukar ampunan dari Allah dengan adzab-Nya. Betapa beraninya mereka itu kepada api neraka dengan cara melakukan amalan-amalan ahli neraka. Allah heran terhadap keberanian mereka melakukan hal tersebut. Silakan kalian heran, wahai manusia, terhadap keberanian mereka dan terhadap "kesabaran" mereka akan neraka dan tinggalnya mereka di dalamnya. Hal ini dimaksudkan untuk merendahkan mereka dan menghinakan mereka. |
| ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ {١٧٦} |
176. Adzab yang mereka terima itu dikarenakan Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para rasul-Nya yang berisi kebenaran yang nyata, namun mereka kafir kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Alkitab sehingga mereka mengimani sebagian isinya dan mengingkari sebagian lainnya, sungguh telah melakukan penyelisihan serta penyimpangan yang amat jauh dari petunjuk juga kebenaran. |
| لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ {١٧٧} |
177. Kebajikan di mata Allah itu bukanlah tatkala shalat menghadap ke arah terbit dan terbenamnya matahari, jika tidak berdasarkan pada perintah Allah dan syariat-Nya. Akan tetapi, kebajikan yang sesungguhnya itu adalah iman kepada Allah, membenarkan-Nya sebagai sembahan tunggal tanpa ada sekutu bagi-Nya; beriman kepada Hari Kebangkitan dan Pembalasan; beriman kepada para malaikat seluruhnya; beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan seluruhnya secara penuh; serta beriman kepada para nabi tanpa melakukan pembedaan. Demikian juga memberikan harta secara sukarela -sekalipun ia sangat menyukai harta tersebut- kepada kaum kerabatnya; kepada anak-anak yatim yang membutuhkan, yaitu anak-anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum mencapai usai balig; kepada orang-orang miskin yang terhimpit kebutuhan; kepada para musafir yang membutuhkan bantuan, yang mereka itu jauh dari keluarga dan harta milik mereka; serta kepada para peminta yang terpaksa mengemis untuk memenuhi kebutuhan mereka yang mendesak. Juga mendermakan harta demi memerdekakan budak dan tawanan, menegakkan shalat, (serta) menunaikan zakat yang difardhukan. Demikian juga orang-orang yang menunaikan janji dan orang yang bersabar ketika dalam keadaan miskin, sakit (serta) dalam suasana kerasnya peperangan. Orang-orang yang menyandang sifat-sifat di atas adalah orang-orang yang benar dalam beriman. Mereka itulah orang-orang yang takut kepada hukuman dari Allah sehingga mereka menjauhi tindakan bermaksiat kepada-Nya. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْأُنْثَىٰ بِالْأُنْثَىٰ ۚ فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ ۗ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ {١٧٨} |
178. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian untuk melakukan qisas terhadap orang yang melakukan tindak pembunuhan secara sengaja dengan cara membunuhnya (menghukum mati). Syaratnya adalah kesamaan dan kesetaraan; orang merdeka dengan sesama orang merdeka, budak dengan budak, dan wanita dengan wanita. Barang siapa yang dimaafkan oleh wali orang yang terbunuh dengan tidak menuntut qisas darinya, namun cukup dengan mengambil diat (kompensasi), yaitu jumlah harta yang harus dibayarkan oleh pelaku tindak pidana sebagai imbalan atas permaafan terhadap dirinya; maka hendaklah kedua belah pihak berpegang kepada akhlak yang baik. Yaitu bahwa sang wali dari korban meminta diat tanpa kekerasan. Demikian juga si pembunuh mesti membayarkan hak wali tersebut dengan cara yang baik pula, tanpa mengulur atau mengurangi. Permaafan yang diiringi dengan pembayaran diat itu merupakan keringanan yang berasal dari Rabb kalian serta kasih sayang (rahmat)-Nya kepada kalian karena di dalamnya terdapat unsur memudahkan dan mengambil kemanfaatan. Barang siapa membunuh si pembunuh setelah memberikan maaf kepadanya dan mengambil diat (darinya) maka baginya adzab yang pedih. Yaitu dalam bentuk hukuman mati terhadapnya sebagai hukuman qisas di dunia, atau dengan neraka di akhirat sana. |
| وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {١٧٩} |
179. Bagi kalian dalam pensyariatan qisas dan pelaksanaannya itu terdapat kehidupan yang aman, wahai orang-orang yang memiliki akal yang sehat, demi berharap meraih ketakwaan kepada Allah dan takut kepada-Nya dengan senantiasa mengerjakan ketaatan kepada-Nya. |
| كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ {١٨٠} |
180. Jika tanda-tanda kematian telah datang kepada salah seorang dari kalian sedangkan ia meninggalkan harta, Allah telah mewajibkan kalian untuk mewasiatkan sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada kedua orang tuanya dan karib kerabat, dengan tetap menjaga aspek keadilan. Maka janganlah ia meninggalkan (membiarkan) orang yang miskin dan hanya memberikan wasiat kepada orang yang kaya saja. Hanya saja nilainya jangan sampai melampaui sepertiga. Demikian itu adalah hak permanen, yang diamalkan oleh orang-orang bertakwa yang memiliki rasa takut kepada Allah. Ketetapan ini berlaku sebelum turunnya ayat-ayat waris, di mana Allah menetapkan bagian dari setiap pewaris. |
| فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {١٨١} |
181. Barang siapa yang mengubah wasiat mayit setelah mendengar wasiat itu darinya sebelum meninggal maka berdosalah orang yang melakukan perubahan dan penggantian. Sesungguhnya Allah mendengar wasiat dan ucapan kalian serta mengetahui apa yang disembunyikan oleh dada kalian, entah berupa kecenderungan kepada kebenaran dan keadilan ataukah kepada kezhaliman serta ketidakadilan. Dan Allah akan memberikan balasan kepada kalian atas hal itu. |
| فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {١٨٢} |
182. Barang siapa mengetahui bahwa si pemberi wasiat akan berlaku condong (menyimpang) dari kebenaran karena unsur kesalahan atau kesengajaan, lalu ia memberikan nasihat kepada pemberi wasiat agar pada waktu penyampaian wasiat itu berbuat yang lebih adil. Lantas jika hal itu belum bisa tercapai, ia pun melakukan pendamaian terhadap pihak-pihak yang terkait dengan mengubah wasiat agar sejalan dengan syariat; maka hal ini tidak ada dosa atasnya dalam upaya pendamaian ini. Sungguh, Allah Maha Pengampun terhadap para hamba-Nya serta Penyayang terhadap mereka. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ {١٨٣} |
183. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana Dia telah mewajibkannya atas umat-umat sebelum kalian. Demikian itu agar kalian bertakwa kepada Rabb kalian sehingga kalian (mengadakan) penjagaan antara diri kalian dengan kemaksiatan-kemaksiatan, dengan cara taat dan beribadah kepada-Nya semata. |
| أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ {١٨٤} |
184. Allah mewajibkan puasa atas kalian dalam sekian hari yang jelas hitungannya, yaitu hari-hari di bulan Ramadhan. Barang siapa di antara kalian sakit sehingga berpuasa itu memberatkannya atau dalam keadaan musafir maka ia boleh berbuka. Akan tetapi, ia wajib menggantinya di hari lainnya sejumlah hari yang ditinggalkannya. Sedangkan atas orang-orang yang terkena kewajiban berpuasa, namun berat/kesulitan untuk menunaikan maupun menggantinya di hari yang lain, seperti orang yang lanjut usia, atau orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya maka setiap hari ia berkewajiban membayar fidyah atas jumlah hari yang ditinggalkannya dengan memberi makan orang miskin. Barang siapa yang menambah kadar fidyah yang diberikan secara suka rela maka demikian itu lebih baik baginya. Namun bagaimana juga, jika kalian memilih berpuasa maka yang demikian itu lebih baik bagi kalian; sekalipun berat dan sulit, daripada memberikan fidyah jika memang kalian mengetahui besarnya keutamaan bagi puasa itu di sisi Allah. |
| شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ {١٨٥} |
185. Yaitu pada bulan Ramadhan yang di dalamnya Allah pertama kali menurunkan Al-Qur'an, tepatnya pada malam Lailatul Qadar, sebagai petunjuk bagi semua manusia kepada kebenaran, yang di dalamnya terdapat bukti-bukti paling jelas mengenai petunjuk Allah serta pembeda antara hak dan batil. Barang siapa di antara kalian yang mendapati bulan itu dalam keadaan sehat dan mukim di kampung halamannya, hendaklah ia mengerjakan puasa di siang harinya. Sedangkan orang yang sakit dan musafir mendapatkan keringanan untuk berbuka, namun harus menggantinya (dengan berpuasa) di lain hari sejumlah hari yang ditinggalkan. Allah menghendaki keringanan dan kemudahan terhadap kalian terkait pelaksanaan syariat-Nya serta tidak menginginkan kesulitan dan hal yang memberatkan. Hendaklah kalian menyempurnakan jumlah hari pelaksanaan puasa sebulan penuh, lalu kalian akhiri puasa itu dengan memahabesarkan Allah (takbir) saat Idul Fitri serta mengagungkan-Nya atas petunjuk yang diberikan kepada kalian, agar kalian bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kalian berupa hidayah, taufik, dan kemudahan. |
| وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ {١٨٦} |
186. Jika hamba-Ku bertanya tentang-Ku, wahai Nabi, katakan kepada mereka bahwa sesungguhnya Aku sangat dekat dengan mereka. Aku mengabulkan doa orang yang memanjatkannya kepada-Ku. Maka dari itu, hendaklah mereka taat kepada-Ku terkait apa yang Aku perintahkan kepada mereka dan terkait apa yang Aku larang. Hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka mendapatkan petunjuk kemaslahatan-kemaslahatan agama dan dunia mereka. Ayat ini berisi pemberitahuan dari Allah tentang kedekatan-Nya kepada para hamba-Nya dalam bentuk kedekatan yang layak dengan keagungan-Nya. |
| أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ {١٨٧} |
187. Allah membolehkan di malam-malam bulan Ramadhan untuk berjimak dengan istri-istri kalian. Mereka itu adalah pakaian penutup dan penjaga bagi kalian. Demikian juga sebaliknya, kalian adalah pakaian penutup dan penjaga bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kalian pernah mengkhianati diri kalian dengan menyelisihi apa yang telah diharamkan Allah atas kalian berupa berjimak dengan istri setelah Isya di malam-malam bulan Ramadhan; yaitu pada masa-masa awal Islam. Namun kemudian Allah memberikan ampunan kepada kalian serta memberikan keleluasaan kepada kalian dalam masalah ini. Maka dari itu, silakan kalian campuri mereka dan carilah apa yang ditakdirkan Allah kepada kalian berupa kelahiran anak-anak melalui hubungan tersebut. Makan dan minumlah (pada malam itu) hingga jelas cahaya pagi dari kegelapan malam dengan kemunculan fajar shadiq. Kemudian sempurnakanlah puasa dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, sampai masuk waktu malam kembali dengan terbenamnya matahari. Namun, janganlah kalian mencampuri (berhubungan badan dengan) istri-istri kalian, atau melakukan hal-hal yang mengarah kepada terjadinya hubungan badan dengan mereka, jika kalian sedang melakukan iktikaf di masjid. Sebab, hal seperti itu akan merusak/membatalkan iktikaf. (Iktikaf adalah berdiam di dalam masjid dalam waktu tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah). Hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah kepada kalian itu adalah batasan-batasan-Nya yang memisahkan antara halal dan haram. Oleh karena itu, janganlah kalian mendekatinya sehingga kalian akan terjerumus kepada sesuatu yang haram. Melalui keterangan yang nyata seperti inilah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada umat manusia, agar mereka bertakwa dan takut kepada-Nya. |
| وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {١٨٨} |
188. Janganlah sebagian dari kalian memakan harta sebagian yang lain dengan cara/alasan yang batil, seperti sumpah palsu, ghashab, mencuri, menyuap, riba, dan semisalnya. Dan jangan pula kalian menyampaikan berbagai alasan batil kepada pihak-pihak penguasa (hakim), dengan niat melalui pengajuan perkara ke pengadilan ini kalian dapat memakan harta sebagian orang dengan cara yang batil, sementara kalian mengetahui pengharaman hal itu atas diri kalian. |
| يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {١٨٩} |
189. Para sahabatmu, wahai Nabi, bertanya kepadamu tentang bulan sabit (hilal) dan perubahan kondisinya. Katakan kepada mereka, "Allah menjadikan bulan sabit itu sebagai tanda-tanda agar manusia mengenal waktu-waktu pelaksanaan ibadah yang ditentukan waktunya, seperti puasa dan haji, serta tentang muamalah mereka. Yang namanya kebaikan itu bukanlah apa yang sudah menjadi kebiasaan kalian di zaman jahiliah maupun di masa awal-awal Islam, yaitu berupa tindakan memasuki rumah-rumah dari belakangnya ketika kalian sedang menjalani ihram karena menunaikan haji atau umrah; dengan anggapan bahwa hal seperti itu merupakan sebuah bentuk qurbah (ibadah/pendekatan diri) kepada Allah. Akan tetapi, yang namanya kebaikan itu adalah perbuatan orang bertakwa kepada Allah dan menjauhi segala kemaksiatan. Masuklah ke rumah-rumah kalian melalui pintu-pintu (depan)nya ketika kalian sedang dalam keadaan ihram karena haji atau umrah. Takutlah kepada Allah terkait segala urusan kalian, agar kalian beruntung meraih segala yang kalian inginkan berupa kebaikan dunia dan akhirat. |
| وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ {١٩٠} |
190. Wahai kaum beriman, perangilah orang-orang yang memerangi kalian, demi membela/memenangkan agama Allah. Akan tetapi, jangan sampai kalian melanggar larangan-larangan seperti melakukan mutilasi, ghulul (mengorupsi harta rampasan), serta membunuh orang yang tidak boleh dibunuh, yang terdiri dari kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang yang sudah lanjut usia maupun siapa saja yang dihukumi seperti mereka. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batasan-batasan-Nya, sehingga menghalalkan apa yang diharamkan-Nya dan Rasul-Nya. |
| وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ {١٩١} |
191. Perangilah orang-orang yang memerangi kalian dari kalangan kaum musyrikin di mana saja kalian dapati dan usirlah dari tempat mereka dahulu mengusir kalian, yaitu Mekah. Sedangkan fitnah, yaitu kekufuran, kemusyrikan, serta keberpalingan dari agama Islam, itu lebih keras daripada tindakan kalian membunuh (memerangi) mereka. Namun demikian, janganlah kalian memulai peperangan terhadap mereka di Masjidil Haram, demi mengagungkan kesucian-kesuciannya (kecuali) mereka yang memulai peperangan terhadap kalian. Jika mereka memerangi kalian di Masjidil Haram maka perangilah padanya. Balasan yang membuat ketakutan seperti itulah yang diberikan kepada orang-orang kafir. |
| فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {١٩٢} |
192. Jika mereka mau meninggalkan apa yang selama ini mereka lakukan, berupa kekufuran dan tindakan memerangi kalian di wilayah Masjidil Haram, lantas beriman maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun kepada para hamba-Nya serta Maha Penyayang terhadap mereka. |
| وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ {١٩٣} |
193. Teruslah memerangi orang-orang musyrik yang melakukan penyerangan, wahai kaum beriman sehingga tidak ada lagi fitnah bagi kaum muslimin terkait agama mereka dan tidak ada sekutu bagi Allah; sehingga agama itu murni sepenuhnya milik Allah semata, tanpa ada selain-Nya yang diibadahi bersama-Nya. Jika mereka menahan diri dari melakukan tindak kekufuran dan peperangan, tahanlah diri kalian dari melakukan perang terhadap mereka. Hukuman itu hanya berlaku bagi orang yang terus-menerus melakukan tindak kekufuran dan permusuhan. |
| الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ {١٩٤} |
194. Perang yang kalian lakukan, wahai orang-orang beriman, terhadap kaum musyrikin di bulan yang sebenarnya Allah mengharamkan peperangan di dalamnya adalah balasan atas tindakan mereka memerangi kalian dalam bulan Haram (suci) itu. Orang yang melakukan penyerangan terhadap apa yang diharamkan Allah, baik berupa tempat maupun waktu, akan dibalas sesuai dengan tindakannya dan sejenis dengan perbuatannya. Barang siapa melakukan pelanggaran terhadap kalian dalam bentuk peperangan atau lainnya, perlakukanlah hukuman terhadapnya sesuai dengan tindak kejahatannya. Tidak ada dosa atas kalian pada yang demikian itu. Sebab, merekalah yang memulai tindak permusuhan. Takutlah kalian kepada Allah dan janganlah kalian melampaui batas dalam melakukan tindak pembalasan terhadap mereka. Ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya dengan menunaikan hal-hal yang diwajibkan serta menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh-Nya. |
| وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {١٩٥} |
195. Teruslah membelanjakan harta (berinfak), wahai orang-orang beriman, untuk membela (memenangkan) agama Allah dan berjihad di jalan-Nya. Janganlah menjerumuskan diri kalian ke dalam kebinasaan dengan meninggalkan jihad di jalan Allah dan tidak mau berinfak di jalan-Nya. Berbaiklah dalam berinfak dan melakukan ketaatan. Jadikanlah amalan kalian seluruhnya ikhlas demi Wajah Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang ikhlas dan berbuat kebajikan. |
| وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ ۚ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۚ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ ۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ۗ ذَٰلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {١٩٦} |
196. Tunaikanlah haji dan umrah secara sempurna, yang dikerjakan secara ikhlas semata demi Wajah Allah. Jika ada sesuatu yang menghalangi kalian untuk menyempurnakan keduanya setelah ihram, seperti terhalang musuh atau karena sakit maka kewajiban kalian adalah menyembelih kurban yang mudah bagi kalian, berupa unta atau lembu atau kambing, sebagai bentuk taqarub kepada Allah agar kalian keluar dari ihram dengan memangkas habis rambut kepala kalian atau memendekkannya. Namun, janganlah kalian memangkas habis rambut kepala jika kalian dalam keadaan terkepung, sehingga orang yang dalam kondisi terkepung itu boleh menyembelih hewan kurbannya di tempat ia terkepung, kemudian bertahalul dari ihramnya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Nabi di Hudaibiah, kemudian beliau memangkas habis rambut kepala beliau. Sedangkan orang yang tidak terkepung, tidak boleh menyembelih hewan kurbannya kecuali harus di wilayah Al-Haram. Adapun waktunya adalah pada hari Idul Adha, hari kesepuluh (Dzulhijah) dan hari-hari Tasyriq sesudahnya. Siapa saja di antara kalian yang sakit, atau ada gangguan di bagian kepalanya sehingga perlu memangkas habis rambut kepalanya, sedangkan ia masih dalam keadaan ihram maka silakan saja ia memangkas habis rambutnya. Hanya saja ia harus membayar fidyah (tebusan) berupa puasa tiga hari, atau bersedekah dengan memberi makan enam orang miskin, untuk setiap satu orang miskinnya setengah sha' makanan, dengan menyembelih seekor kambing untuk dibagikan dagingnya kepada orang-orang fakir di tanah Haram. Adapun jika kalian dalam kondisi aman dan sehat maka siapa yang mengerjakan umrah terlebih dahulu sebelum pelaksanaan haji di bulan haji (tamattu'), yaitu dengan menghalalkan apa yang diharamkan atasnya disebabkan dipakainya ihram setelah usai melaksanakan umrah maka wajib atasnya menyembelih hewan kurban yang mudah didapat. Jika ia tidak mendapatkan hewan kurban yang bisa disembelih maka ia berkewajiban mengerjakan puasa tiga hari di bulan haji serta tujuh hari jika kalian usai mengerjakan manasik haji dan kembali ke keluarga kalian. Itulah sepuluh hari penuh yang kalian harus berpuasa di dalamnya. Penyembelihan kurban dan konsekuensi dari tidak dilaksanakannya yang berupa tebusan berpuasa, berlaku bagi orang yang keluarganya tidak tinggal di tanah Haram. Takutlah kalian kepada Allah dan jagalah selalu agar kalian senantiasa menunaikan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah itu sangat keras siksa-Nya terhadap orang yang menyelisihi perintah-Nya dan melanggar apa yang dilarang oleh-Nya. |
| الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ {١٩٧} |
197. Waktu pelaksanaan ibadah haji adalah beberapa bulan yang sama-sama dimengerti; yaitu Syawal, Dzulqa'dah, dan sepuluh hari dari bulan Dzulhijah. Barang siapa yang telah mewajibkan dirinya menunaikan ibadah haji pada bulan-bulan tersebut dengan mengerjakan ihram maka diharamkan atasnya berjimak dan segala pengantarnya, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, serta diharamkan atasnya keluar dari menunaikan ketaatan kepada Allah yaitu dengan mengerjakan berbagai bentuk kemaksiatan serta berbantah-bantahan saat mengerjakan haji yang menyebabkan amarah dan kebencian. Segala bentuk kebaikan yang kalian kerjakan, sudah pasti diketahui Allah, sehingga Dia akan memberikan balasan kepada masing-masing orang atas segala amal perbuatannya. Persiapkanlah bekal untuk diri kalian berupa makanan dan minuman untuk keperluan perjalanan ibadah haji, serta bekal berupa amal-amal shalih untuk menuju kampung akhirat. Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada Allah. Takutlah kalian kepada-Ku, wahai orang-orang yang memiliki akal sehat. |
| لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ {١٩٨} |
198. Tidak ada dosa atas kalian mencari rezeki dari Rabb kalian dengan memetik laba dagang di musim haji. Jika kalian bertolak setelah terbenamnya matahari dalam keadaan kembali dari Arafah, yaitu tempat berdiam para hujjaj pada hari kesembilan bulan Dzulhijah maka sebutlah nama Allah dengan bertasbih, bertalbiyah, dan berdoa di Al-Masy'aril Haram, yaitu Muzdalifah. Sebutlah nama Allah secara benar karena la telah memberikan petunjuk kebenaran. Sebelum mendapat petunjuk ini, kalian berada dalam kesesatan tanpa mengenal kebenaran. |
| ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {١٩٩} |
199. Hendaklah bertolaknya kalian dari Arafah, yang menjadi tempat bertolaknya Nabi Ibrahim, demi menyelisihi orang yang tidak mengerjakan hal itu dari kalangan orang-orang jahiliah. Mohonlah kepada Allah agar memberikan ampunan kepada kalian atas dosa-dosa kalian. Sungguh, Allah Maha Pengampun kepada para hamba-Nya yang mau memohon ampun dan bertaubat serta Maha Penyayang terhadap mereka. |
| فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ {٢٠٠} |
200. Jika kalian sudah menyempurnakan pelaksanaan ibadah kalian dan telah selesai dari menunaikan amalan-amalan ibadah haji maka perbanyaklah menyebut nama Allah (dzikir) dan memuji-Nya sebagaimana kalian suka menyebut nenek moyang kalian dengan penuh kebanggaan, atau bahkan lebih besar lagi dari hal itu. Di antara manusia ada sekelompok orang yang menjadikan dunia sebagai puncak keinginannya, sehingga ia pun memohon dengan mengatakan, "Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami di dunia ini kesehatan, harta, dan anak-anak." Mereka tidak mendapatkan jatah dan bagian di akhirat, karena mereka tidak suka kepada akhirat serta membatasi hasrat mereka hanya terhadap dunia. |
| وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {٢٠١} |
201. Di antara manusia ada kelompok mukmin yang memanjatkan dalam doanya, "Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami di dunia ini kesehatan, rezeki, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, dan lainnya terkait urusan agama dan dunia. Sedangkan di akhirat kelak, kami memohon surga dan jauhkanlah adzab neraka dari kami." Ini adalah doa yang kandungannya paling menyeluruh. Oleh karena itulah ia menjadi doa yang paling banyak dipanjatkan oleh Nabi sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. |
| أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ {٢٠٢} |
202. Mereka yang memanjatkan doa seperti inilah yang mendapatkan pahala besar disebabkan usaha yang mereka lakukan, berupa amal-amal yang shalih. Sesungguhnya Allah itu sangat cepat hisab-Nya; menghitung amal perbuatan para hamba-Nya dan memberikan balasan atasnya. |
| وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ {٢٠٣} |
203. Sebutlah nama Allah (berdzikirlah) dengan bertasbih dan bertakbir di hari-hari yang terbilang, yaitu hari-hari Tasyrik; tanggal sebelas, dua belas, dan tiga belas dari bulan Dzulhijah. Barang siapa yang ingin lebih cepat keluar dari Mina sebelum terbenamnya matahari pada tanggal dua belas setelah melempar jumrah maka tidak ada dosa atasnya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan masanya dengan tetap bermalam di Mina sehingga melempar jumrah pada tanggal tiga belas, juga tidak ada dosa atasnya, bagi orang yang bertakwa kepada Allah dalam melaksanakan ibadah haji-nya. Hanya saja menangguhkannya itu lebih utama karena hal itu berarti menambah porsi ibadah serta meneladani amalan Nabi. Takut-lah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dan jadikanlah Dia sebagai pengawas terhadap setiap amal perbuatan kalian. Ketahuilah, hanya kepada-Nya kalian semua akan dikumpulkan setelah mati untuk dihisab dan diberi balasan. |
| وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ {٢٠٤} |
204. Di antara manusia dari kalangan kaum munafik, ada orang yang ucapannya fasih menarik hatimu, wahai Rasul, yang sebenarnya dengan itu ia menginginkan keuntungan dunia, bukan akhirat. Dia sampai bersumpah dan bersaksi kepada Allah atas apa yang ada di dalam hatinya berupa kecintaan kepada Islam, yang merupakan bentuk keberanian yang luar biasa terhadap Allah. Padahal sebenarnya ia sangat keras permusuhan dan penentangannya terhadap Islam dan kaum muslimin. |
| وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ {٢٠٥} |
205. Jika ia tidak berada di sisimu, wahai Rasul, ia begitu serius dan giat melakukan kerusakan di muka bumi, merusak tanaman-tanaman serta membunuh binatang ternak mereka. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan. |
| وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ {٢٠٦} |
206. Jika orang munafik yang berbuat kerusakan itu diberi nasihat, dengan dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah, waspadalah terhadap hukuman-Nya dan berhentilah dari berbuat kerusakan di muka bumi!" la tidak akan mau menerima nasihat. Bahkan, kesombongan dan fanatisme jahiliah semakin menambah perbuatan-perbuatan dosa. Cukuplah Jahanam itu sebagai siksa baginya. Sungguh, seburuk-buruk tempat tinggal adalah Jahanam. |
| وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ {٢٠٧} |
207. Di antara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari ridha Allah dengan cara berjihad di jalan-Nya dan berkomitmen dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Allah Maha Penyantun kepada para hamba serta merahmati hamba-hamba-Nya yang beriman dengan rahmat yang luas dalam waktu dekat maupun lambat dan memberikan kepada mereka sebaik-baik balasan. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ {٢٠٨} |
208. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai nabi dan rasul, serta Islam sebagai din. Masuklah kalian ke dalam seluruh syariat Islam, dengan mengamalkan seluruh hukum-hukumnya. Janganlah kalian meninggalkan sedikit pun darinya. Jangan pula kalian mengikuti jalan-jalan setan yang diserukan kepada kalian berupa kemaksiatan-kemaksiatan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang secara terang-terangan memusuhi kalian. Oleh karena itu, waspadalah! |
| فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٢٠٩} |
209. Jika kalian menyimpang dari jalan kebenaran, setelah datang kepada kalian berbagai hujah nyata dari Al-Quran dan Sunnah. Ketahuilah bahwa Allah itu Mahaperkasa dalam kerajaan-Nya, sehingga tidak sesuatu pun luput dari-Nya, serta Mahabijaksana dalam segala perintah dan larangan-Nya, sehingga selalu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang sesuai. |
| هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ {٢١٠} |
210. Mereka para pembangkang dan kafir setelah ditegakkannya dalil-dalil nyata itu sebenarnya tidaklah menanti selain kedatangan Allah sesuai dengan (bentuk kedatangan) yang layak bagi-Nya, dalam naungan awan Hari Kiamat untuk memberikan keputusan hukum di antara mereka dengan keputusan yang adil, serta menanti kedatangan malaikat. Ketika itu, Allah memberikan keputusan-Nya terhadap mereka, sedangkan hanya kepada-Nya seluruh urusan makhluk itu dikembalikan. |
| سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ {٢١١} |
211. Wahai Rasul, tanyakanlah kepada Bani Israil yang melakukan pembangkangan terhadapmu, "Betapa banyak telah Kami berikan kepada mereka ayat-ayat yang jelas di dalam kitab-kitab mereka yang menunjukkan mereka kepada kebenaran, namun ternyata mereka mengingkari seluruhnya serta berpaling dan menyimpangkan dari tempatnya." Barang siapa mengganti nikmat Allah, yaitu agama-Nya, serta mengingkarinya setelah mengetahuinya dan setelah ditegakkannya hujah atasnya, sungguh Allah sangat keras hukuman-Nya. |
| زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ {٢١٢} |
212. Kehidupan dunia dengan segala yang ada di dalamnya, berupa hasrat dan kenikmatan, memang dibuat indah bagi orang-orang yang mengingkari keesaan Allah, sedangkan mereka itu memperolok orang-orang beriman. Orang-orang yang takut kepada Rabb mereka itu sebenarnya berada di atas seluruh kaum kafir pada Hari Kiamat. Sebab, Allah akan memasukkan mereka pada tingkatan-tingkatan surga paling tinggi dan menempatkan orang-orang kafir itu pada tempat yang paling bawah di neraka. Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya tanpa batas. |
| كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ {٢١٣} |
213. Umat manusia itu pada mulanya merupakan satu golongan saja, yang semuanya sepakat di atas keimanan kepada Allah. Namun, kemudian mereka berselisih dalam urusan agama mereka. Karena itu Allah mengutus para nabi sebagai penyeru kepada agama Allah, dengan memberikan kabar gembira berupa surga kepada siapa saja yang taat kepada Allah serta pemberi peringatan berupa neraka kepada siapa saja yang kufur dan bermaksiat kepada-Nya. Di samping itu, Allah juga telah menurunkan kitab-kitab samawi bersama mereka yang berisi kebenaran; agar dengan itu mereka memberi keputusan terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Tidak ada yang berselisih berkenaan dengan urusan Nabi Muhammad dan Kitab-nya (Al-Qur'an) karena kezhaliman dan kedengkian, kecuali orang-orang yang diberi Taurat oleh Allah dan mengetahui berbagai hujah serta hukum yang terdapat di dalamnya. Allah memberikan petunjuk (taufik) kepada kaum mukminin dengan karunia-Nya untuk bisa memilah kebenaran dari kebatilan serta mengetahui apa yang mereka perselisihkan. Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya ke jalan lurus. |
| أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ {٢١٤} |
214. Apakah kalian mengira, wahai kaum beriman, bahwa kalian akan masuk surga, padahal kalian belum mendapat cobaan seperti yang telah menimpa kaum beriman yang telah mendahului kalian; yaitu berupa kemiskinan, penyakit, dan rasa takut serta digoncangkan dengan berbagai hal menakutkan, sehingga rasul mereka dan orang-orang beriman yang menyertainya mengatakan —karena berharap segera mendapatkan pertolongan dari Allah—, "Kapankah pertolongan Allah itu datang?" Ketahuilah bahwa pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman itu dekat. |
| يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ {٢١٥} |
215. Para sahabatmu, wahai Nabi, bertanya kepadamu mengenai sesuatu yang mereka nafkahkan dari berbagai jenis harta dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan kepada siapa saja mereka memberikan nafkah tersebut? Katakanlah kepada mereka, "Nafkahkanlah apa pun bentuk harta yang halal dan baik yang mudah (ringan) bagi kalian. Berikanlah nafkah kalian itu kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, kaum fakir, serta musafir yang membutuhkan bantuan karena jauh dari keluarga dan harta yang dimilikinya. Segala bentuk kebaikan apa pun yang kalian lakukan, sesungguhnya Allah mengetahuinya." |
| كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٢١٦} |
216. Allah telah mewajibkan kalian, wahai kaum beriman, untuk memerangi orang-orang kafir. Padahal perang itu sendiri sebenarnya merupakan sesuatu yang kalian benci secara naluri karena memang berat dan banyak bahayanya. Seringkali kalian membenci sesuatu namun sebenarnya hal itu lebih baik bagi kalian. Seringkali pula kalian mencintai sesuatu karena berisi kenyamanan atau kenikmatan sesaat, namun sebenarnya hal itu lebih buruk bagi kalian. Allah mengetahui apa yang lebih baik bagi kalian, sedangkan kalian tidak mengetahui hal itu. Maka bergegaslah menuju jihad di jalan-Nya. |
| يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٢١٧} |
217. Orang-orang musyrik bertanya kepadamu, wahai Rasul, tentang bulan Haram (terlarang; suci), "Apakah boleh berperang di dalamnya?" Katakan kepada mereka, "Perang pada bulan Haram itu dosanya besar di sisi Allah, jika sampai dilakukan penghalalan perang dan penumpahan darah di dalamnya. Namun, tindakan kalian menghalangi umat manusia dari masuk Islam dengan cara menyiksa dan menakut-nakuti mereka; keingkaran kalian kepada Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya; tindakan kalian menghalangi orang-orang muslim untuk masuk ke Masjidil Haram serta mengusir Nabi dan kaum Muhajirin darinya, padahal mereka adalah penduduk tempat itu serta wali-walinya; adalah jauh lebih besar lagi dosanya serta lebih besar kejahatannya di sisi Allah daripada perang di bulan Haram. Sedangkan kemusyrikan yang kalian berada di dalamnya lebih besar dosanya serta lebih keras daripada perang di bulan Haram." Orang-orang kafir itu tidak juga berhenti melakukan kejahatan, namun justru terus-menerus melakukannya. Mereka masih saja memerangi kalian sehingga mereka berhasil mengembalikan kalian dari Islam menuju kekufuran, jika mereka mampu mewujudkan hal itu. Barang siapa di antara kalian, wahai kaum muslimin, mematuhi mereka lalu murtad dari din-nya, kemudian ia mati di atas kekufuran maka lenyaplah amalnya di dunia dan akhirat. Lalu ia pun menjadi bagian dari orang-orang yang kekal di neraka Jahanam tanpa pernah bisa keluar darinya selama-lamanya. |
| إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٢١٨} |
218. Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, orang-orang yang meninggalkan kampung halaman (berhijrah) serta orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan karunia Allah dan pahala dari-Nya. Allah Maha Pengampun terhadap dosa-dosa hamba-Nya yang beriman dan Maha Pencurah Rahmat kepada mereka dengan rahmat yang luas. |
| يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ {٢١٩} |
219. Orang-orang muslim bertanya kepadamu, wahai Nabi, tentang hukum minum dan menjual belikan khamr. (Khamr adalah setiap yang memabukkan, yang bisa menutupi akal [membuat akal tak sadar dan tak terkendali], baik berupa minuman atau pun makanan). Mereka juga bertanya kepadamu tentang hukum judi. (Judi adalah transaksi menerima atau memberikan harta dengan cara untung-untungan; yaitu tindakan saling mengalahkan yang di dalamnya terdapat ganti bayaran antara dua pihak). Katakan kepada mereka bahwa pada keduanya terdapat sekian banyak mudharat dan mafsadah terhadap agama serta dunia, juga terhadap akal maupun harta. Memang pada keduanya terdapat beberapa manfaat bagi umat manusia dari aspek meraih keuntungan materi dan semisalnya, namun dosa keduanya jauh lebih besar dari manfaat (keuntungan)nya. Sebab, keduanya menghalangi manusia dari dzikrullah dan shalat, menimbulkan permusuhan serta kebencian di antara sesama manusia juga merusak harta. Ini sebagai pengantar bagi pengharaman keduanya. Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang kadar yang mereka nafkahkan dari harta mereka sebagai bentuk derma dan sedekah. Katakan kepada mereka, "Nafkahkanlah kadar lebih dari keperluan kalian!" Dengan penjelasan gamblang seperti itulah Allah memberikan penjelasan kepada kalian mengenai ayat-ayat dan hukum-hukum syariat, agar kalian memikirkan apa yang bermanfaat bagi kalian di dunia dan akhirat. Mereka bertanya kepadamu, wahai Nabi, tentang anak-anak yatim: Bagaimana mengurusi mereka terkait penghidupan dan harta benda mereka? Katakanlah kepada mereka, "Perbaikan yang kalian lakukan terhadap mereka adalah sesuatu yang terbaik. Oleh karena itu, Iakukanlah sesuatu yang paling bermanfaat bagi mereka selamanya. Jika kalian mempergauli mereka dalam seluruh urusan penghidupan maka mereka itu adalah saudara kalian dalam din. Seorang saudara tentu akan selalu menjaga kemaslahatan saudaranya. Allah mengetahui siapa yang menyia-nyiakan harta anak-anak yatim daripada orang yang ingin sekali memperbaikinya (mengembangkannya). Jika Allah menghendaki, niscaya Dia dapat menyempitkan dan menyulitkan kalian dengan cara mengharamkan pergaulan tersebut. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa dalam hal kerajaan-Nya, Mahabijaksana terhadap ciptaan-Nya, pengaturan-Nya, serta terhadap pensyariatan yang dibuat oleh-Nya. |
| فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۗ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٢٢٠} |
220. Lihat ayat 219 |
| وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا ۚ وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ ۖ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ {٢٢١} |
221. Wahai orang-orang muslim, janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik para penyembah berhala, sehingga mereka masuk Islam. Ketahuilah bahwa budak wanita yang tidak memiliki harta serta tidak memiliki keluhuran nasab, namun beriman kepada Allah, itu lebih baik daripada wanita musyrik, meskipun wanita musyrik yang merdeka itu membuat kalian terkagum-kagum. Jangan pula menikahkan wanita-wanita kalian yang beriman, baik yang berstatus budak maupun merdeka, dengan para laki-laki musyrik sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (masuk Islam). Ketahuilah bahwa seorang budak laki-laki yang beriman itu, sekalipun miskin, lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun dia itu mengagumkan kalian. Mereka yang memiliki karakter syirik itu, baik laki-laki maupun perempuan; semuanya menyeru setiap orang yang bergaul dengan mereka kepada sesuatu yang membawanya kepada neraka. Sedangkan Allah menyeru para hamba-Nya kepada din-Nya yang benar, yang akan mengantarkan mereka ke surga dan kepada pengampunan dosa-dosa mereka dengan seizin-Nya. Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum ketetapan-Nya kepada umat manusia agar mereka selalu ingat serta mengambil pelajaran. |
| وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ {٢٢٢} |
222. Mereka bertanya kepadamu tentang haid; yaitu darah yang mengalir keluar dari rahim wanita secara alami pada masa tertentu. Katakan kepada mereka, wahai Nabi, "la adalah gangguan yang berupa kotoran, yang membahayakan setiap orang yang mendekatinya. Oleh karena itu, jauhi tindakan menggauli wanita (istri/budak) pada masa haid sehingga darah haid itu berhenti mengalir. Jika darah telah berhenti mengalir dan wanita-wanita telah mandi besar maka silakan kalian kumpuli mereka di tempat yang dihalalkan oleh Allah bagi kalian; yaitu pada lubang depan (qubul), bukan lubang belakang (dubur). Sesungguhnya Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang memperbanyak istighfar dan taubat serta menyukai hamba-hamba-Nya yang membersihkan diri; yang menjauhi segala bentuk kekejian dan kotoran. |
| نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ {٢٢٣} |
223. Istri-istri kalian adalah tempat bercocok tanam bagi kalian. Kalian bisa menyemaikan 'benih' ke dalam rahim mereka, sehingga kemudian akan lahir darinya anak-anak dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, kumpuli mereka pada tempat jimak saja, yaitu qubul, dengan cara (gaya) yang bagaimana pun sesuka kalian. Kerjakanlah amalan-amalan yang baik untuk diri kalian dengan selalu menjaga perintah-perintah Allah dan takutlah kalian kepada Allah. Ketahuilah bahwa kalian pasti akan bertemu dengan-Nya untuk dihisab pada Hari Kiamat. Wahai Nabi, berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman, dengan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan mereka berupa balasan yang baik di akhirat. |
| وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {٢٢٤} |
224. Wahai orang-orang muslim, janganlah kalian menjadikan sumpah dengan nama Allah itu sebagai penghalang bagi kalian untuk berbuat kebajikan, bersilaturahim, bertakwa, dan untuk melakukan perbaikan (pendamaian) antara sesama manusia. Yaitu pada saat kalian diseru untuk melakukan bagian dari bentuk-bentuk kebaikan itu, kalian menghalangi diri dengan alasan bahwa kalian telah bersumpah demi Allah untuk tidak melakukannya. Akan tetapi, seorang yang bersumpah seperti itu hendaklah meninggalkan sumpahnya, lalu mengerjakan amal-amal kebajikan serta berpaling dari sumpahnya. Dan hendaklah ia tidak membiasakan perbuatan seperti itu. Allah Maha Mendengar semua perkataan kalian dan Maha Mengetahui seluruh keadaan kalian. |
| لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ {٢٢٥} |
225. Allah tidak akan menghukum kalian disebabkan sumpah yang kalian ucapkan tanpa ada maksud. Akan tetapi, Allah akan menghukum kalian disebabkan apa yang diniatkan oleh hati kalian. Allah Maha Pengampun kepada siapa saja yang bertaubat kepada-Nya serta Maha Penyantun kepada siapa saja yang durhaka (bermaksiat) kepada-Nya karena Dia tidak menyegerakan hukuman. |
| لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ ۖ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٢٢٦} |
226. Bagi orang-orang yang bersumpah atas nama Allah untuk tidak menggauli istri-istri mereka, hendaklah menanti hingga masa empat bulan. Jika kemudian ia kembali (menggauli sang istri) sebelum habis masa empat bulan itu; maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas apa yang mereka lakukan itu —berupa bersumpah untuk tidak menggauli istri— disebabkan mereka mau kembali lagi dan Allah Maha Penyayang kepada mereka. |
| وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {٢٢٧} |
227. Jika mereka mantap melakukan talak dengan tetap melanjutkan isi sumpah mereka dan meninggalkan jimak, sungguh, Allah Maha Mendengar seluruh perkataan mereka serta Maha Mengetahui segala maksud mereka, lalu Allah akan memberikan balasan atas itu semua. |
| وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا ۚ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٢٢٨} |
228. Wanita-wanita yang ditalak dan masih mendapat haid, wajib menanti —tanpa boleh menikah setelah terjadinya talak— selama tiga kali suci, atau tiga kali haid; sebagai masa hitungannya (idah), untuk memastikan kekosongan rahim dari mengandung. Mereka tidak boleh dinikahi lelaki lain pada masa idah ini sampai masanya berakhir. Tidak halal (tidak dibenarkan) bagi mereka untuk menyembunyikan apa yang telah Allah ciptakan di dalam rahim mereka, berupa kandungan atau haid, jika wanita-wanita yang ditalak tersebut benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Para suami dari wanita-wanita yang ditalak itu lebih berhak untuk kembali kepada mereka (rujuk) pada masa idah tersebut. Namun seyogianya yang demikian itu dimaksudkan untuk perbaikan dan kebaikan, bukan dengan maksud menimpakan mudharat sebagai siksaan bagi mereka dengan memperpanjang masa idah. Para wanita (istri) itu memiliki hak-hak yang menjadi kewajiban para suami seimbang dengan kewajiban-kewajiban mereka. Para lelaki (suami) memiliki kedudukan yang lebih atas para istri berupa pendampingan yang baik, pergaulan dengan cara yang makruf, kepemimpinan atas rumah tangga serta kepemilikan hak talak. Allah Mahaperkasa karena memiliki segala keperkasaan yang bisa memaksa, serta Mahabijaksana karena selalu menempatkan segala sesuatu pada tempat yang tepat. |
| الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {٢٢٩} |
229. Talak yang memungkinkan adanya rujuk adalah sebanyak dua kali: sekali; kemudian sekali lagi. Hukum Allah yang berlaku setiap kali jatuh satu talak adalah memegang kembali wanita itu (rujuk) dengan cara yang makruf dan pergaulan yang baik setelah sempat dicerai, atau (melepaskannya) dengan tetap diiringi muamalah yang baik dengan tetap menunaikan hak-haknya, dan janganlah lelaki yang menalaknya itu menyebut-nyebutnya dengan sesuatu yang buruk. Tidaklah halai bagi kalian, wahai para suami untuk mengambil sesuatu yang telah kalian berikan kepada para istri, berupa mahar atau semisalnya; kecuali jika suami dan istri merasa khawatir untuk tidak bisa menegakkan hak-hak suami istri. Ketika itu, keduanya mesti menyerahkan urusan mereka kepada para wali. Jika para wali mengkhawatirkan keduanya tidak bisa menegakkan aturan-aturan Allah maka tidak ada salahnya dalam jalinan suami istri itu jika sang istri membayar tebusan kepada suami sebagai ganti talak terhadapnya. Hukum-hukum yang demikian merupakan aturan-aturan Allah yang memisahkan antara halal dan haram. Oleh karena itu, jangan sampai kalian langgar. Barang siapa yang melanggar aturan-aturan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan menjerumuskannya ke dalam adzab Allah. |
| فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ {٢٣٠} |
230. Jika seorang suami menalak istrinya hingga talak yang ketiga kalinya maka wanita itu tidak halal lagi baginya. Kecuali jika ia telah menikah dengan lelaki lainnya dalam bentuk pernikahan yang sah, serta sang suami itu telah menggaulinya, sehingga pernikahan itu memang didasari hasrat, bukan karena niat menjadikan wanita itu halal kembali untuk dinikahi mantan suami pertama. Jika suami yang lainnya ini kemudian menceraikannya, atau meninggal dunia, lalu telah habis masa idah dari wanita ini maka tidak ada dosa atas wanita tersebut dan juga suami pertamanya untuk menikah kembali dengan akad yang baru dan dengan mahar yang baru pula; jika memang keduanya yakin betul akan bisa menegakkan aturan-aturan Allah yang telah disyariatkan bagi kedua pasangan. Itulah hukum-hukum ketetapan Allah atas keduanya bagi kaum yang mengetahui hukum-hukum dan aturan-aturan-Nya karena mereka itulah orang-orang yang dapat memetik manfaat darinya. |
| وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ ۚ وَلَا تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِتَعْتَدُوا ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ۚ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {٢٣١} |
231. Jika kalian menalak istri-istri kalian, lalu mereka sudah mendekati masa habis idah maka rujukilah mereka dengan niat menunaikan hak-hak mereka menurut cara yang baik secara syara' dan adat; atau kalian tinggalkan (ceraikan) mereka sampai habis masa idah. Waspadalah, jangan sampai keputusan untuk merujuk mereka itu dengan niat menimpakan kemudharatan terhadap mereka demi melanggar hak-hak mereka. Barang siapa yang melakukan tindakan seperti itu, sungguh ia telah menzhalimi diri sendiri karena menjadikan dirinya mendapatkan hukuman. Janganlah kalian menjadikan ayat-ayat Allah dan hukum-hukum-Nya sebagai permainan. Ingatlah akan nikmat Allah yang tercurah kepada kalian berupa Islam dan rincian hukum-hukumnya. Ingatlah pula akan wahyu yang telah diturunkan oleh Allah kepada kalian, yang berupa Al-Qur'an dan Sunnah. Bersyukurlah kepada Allah atas semua nikmat agung ini, niscaya Dia akan senantiasa mengingatkan kalian dengan ini dan menakuti kalian dari melakukan penyelisihan. Takutlah kepada Allah dan (merasalah bahwa) Dia selalu mengawasi diri kalian. Ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. la akan memberikan balasan kepada masing-masing sesuai dengan haknya. |
| وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ ذَٰلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ ذَٰلِكُمْ أَزْكَىٰ لَكُمْ وَأَطْهَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {٢٣٢} |
232. Jika kalian menalak istri-istri kalian sebelum talak yang ketiga, lantas berakhir masa idah mereka tanpa ada tindakan merujuk mereka maka janganlah -wahai para wali-menyempitkan para wanita yang ditalak itu dengan menghalangi mereka kembali kepada suami mereka dengan akad baru, jika para wanita itu menginginkannya serta terjadi saling ridha secara syara' dan adat. Demikian itulah yang dinasihatkan kepada siapa saja di antara kalian yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Sikap tidak menghalangi serta menguasakan para suami untuk menikahi kembali istri-istri mereka, lebih memberikan pertumbuhan dan kesucian bagi kehormatan kalian serta lebih banyak manfaat serta pahalanya bagi kalian. Allah mengetahui apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi kalian, sedangkan kalian tidak mengetahui hal itu. |
| وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {٢٣٣} |
233. Para ibu hendaklah menyusui anak-anak mereka selama dua tahun penuh, bagi siapa saja yang ingin menyempurnakan penyusuan. Sedangkan kaum bapak berkewajiban menjamin makanan dan pakaian kepada wanita-wanita menyusui yang ditalak mereka, sesuai dengan cara yang dipandang baik oleh syara' dan 'urf (kebiasaan). Sebab, Allah tidaklah membebani seseorang kecuali sesuai kadar kemampuannya. Para orang tua tidak dibenarkan menjadikan anak sebagai sarana menimbulkan kesengsaraan di antara keduanya. Ahluwaris juga memiliki kewajiban yang sama ketika sang ayah meninggal seperti kewajiban sang ayah tersebut sebelum kematiannya, yaitu berupa nafkah dan sandang. Jika kedua orang tua ingin menyapih anak mereka sebelum habis dua tahun masa penyusuan maka tidak ada dosa atas keduanya jika memang keduanya sama-sama rela dan bermusyawarah mengenai hal itu; agar keduanya dapat meraih apa yang sekiranya memberikan kemaslahatan bagi sang anak. Jika keduanya sepakat untuk menyusukan anak mereka kepada wanita lain selain ibu kandungnya maka tidak ada dosa atas keduanya, jika sang ayah telah memberikan hak kepada sang ibu serta memberikan upah yang patut -sesuai kebiasaan yang berlaku- kepada wanita yang diminta untuk menyusui anaknya tersebut. Takutlah kepada Allah terkait seluruh keadaan kalian. Ketahuilah bahwa Allah melihat segala yang kalian kerjakan dan akan memberikan balasan atasnya. |
| وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ {٢٣٤} |
234. Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri maka hendaklah para istri itu menanti selama empat bulan sepuluh hari. Janganlah mereka keluar rumah, berhias, dan menikah selama waktu penantian (idah) ini. Jika masa tersebut sudah berakhir, tidak ada dosa atas kalian, wahai para wali dari wanita tersebut, untuk membiarkan mereka berbuat sesuatu untuk diri mereka sendiri; seperti keluar rumah, berhias, dan menikah Iagi sesuai dengan ketentuan syara'. Allah mengetahui segala amal perbuatan kalian, lahir maupun batin, dan Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas semua itu. |
| وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ ۚ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَنْ تَقُولُوا قَوْلًا مَعْرُوفًا ۚ وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ {٢٣٥} |
235. Tidak ada dosa bagi kalian, wahai kaum laki-laki, terkait isyarat kalian tentang keinginan untuk menikahi wanita-wanita yang ditinggal mati suami mereka, atau wanita-wanita yang ditalak ba'in, ketika masih pada masa idah mereka. Juga tidak ada dosa atas kalian terkait apa yang kalian sembunyikan di dalam hati kalian berupa niatan untuk menikahi mereka setelah masa idah mereka habis. Allah mengetahui bahwa kalian akan menyebut wanita-wanita yang sedang menjalani masa idah itu, dan kalian tidak akan mampu bersabar untuk tetap diam dari menyebut mereka, disebabkan kelemahan kalian. Oleh karena itu, Allah membolehkan kalian untuk menyebut mereka dalam bentuk isyarat atau menyembunyikannya di dalam hati. Waspadalah, jangan sampai kalian memberikan janji kepada mereka untuk menjalin hubungan secara rahasia dengan melakukan zina atau membuat kesepakatan untuk menikah pada masa idah. Kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang dapat dipahami sebagai sebuah hasrat untuk menikahinya nanti. Janganlah kalian bertekad untuk melakukan akad nikah pada masa idah sampai masa idah itu berakhir. Ketahuilah, Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati kalian. Maka takutlah kalian kepada-Nya. Ke-tahuilah bahwa Allah Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertaubat dari dosa-dosanya, serta Maha Penyantun terhadap para hamba-Nya dengan tidak menyegerakan hukuman terhadap mereka. |
| لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتَاعًا بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِينَ {٢٣٦} |
236. Tidak ada dosa atas kalian, wahai para suami, jika kalian ternyata menalak para istri setelah terjalin akad dengan mereka, sebelum kalian menggauli mereka atau menentukan mahar untuk mereka. Berikanlah mut'ah (kesenangan) berupa sesuatu yang bermanfaat bagi mereka untuk menutupi keperluan mereka dan untuk menolak "keterasingan" (kesepian dan kesedihan) karena ditalak serta untuk menghilangkan kedengkian. Mut'ah ini wajib diberikan sesuai dengan kondisi laki-laki yang menalak istrinya. Orang kaya tentu memberikan mut'ah sesuai dengan keluasan rezekinya, sedangkan orang miskin memberikannya menurut kadar yang dimilikinya. Pemberian mut'ah ini sesuai dengan cara makruf menurut syara'. la merupakan ketetapan yang wajib atas orang-orang yang berbuat baik kepada para istri yang ditalak dan juga berbuat baik untuk diri mereka sendiri dengan melakukan ketaatan kepada Allah. |
| وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّا أَنْ يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَ الَّذِي بِيَدِهِ عُقْدَةُ النِّكَاحِ ۚ وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {٢٣٧} |
237. Jika kalian menalak istri-istri kalian setelah terjadinya akad dengan mereka, sedangkan kalian belum menggauli mereka, namun kalian sudah menetapkan pembayaran mahar untuk mereka maka kalian wajib membayarkan kepada mereka separuh mahar yang telah menjadi kesepakatan dengan mereka. Kecuali jika wanita-wanita yang ditalak itu melapangkan dada sehingga mereka membiarkan (tidak mau mengambil) separuh mahar yang sebenarnya menjadi hak mereka; atau pihak suami yang berlapang dada sehingga membiarkan wanita yang ditalaknya itu mengambil mahar sepenuhnya. Sikap lapang dada kalian, wahai kaum laki-laki dan perempuan, Iebih dekat kepada rasa takut kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Janganlah kalian lupa, wahai manusia, akan nilai keutamaan dan kebaikan di antara sesama kalian; yaitu memberikan sesuatu yang tidak menjadi kewajiban kalian serta melapangkan dada dalam masalah hak (rela melepas hak). Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala yang kalian kerjakan. Dia mendorong kalian untuk berbuat yang makruf serta menekankan kalian untuk berbuat keutamaan. |
| حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ {٢٣٨} |
238. Wahai kaum muslimin, jagalah shalat lima waktu yang difardhukan atas kalian dengan senantiasa menunaikannya tepat waktu dan dengan memenuhi seluruh syarat, rukun, dan kewajiban shalat. Jagalah shalat pertengahan antara shalat-shalat lainnya, yaitu shalat Ashar. Kerjakanlah shalat dalam rangka menunaikan ketaatan kepada Allah yang diiringi dengan kekhusyukan dan sikap merendahkan diri. |
| فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ {٢٣٩} |
239. Jika kalian dalam kondisi ketakutan terhadap musuh kalian, silakan mengerjakan shalat menurut aturan shalat Khauf; bisa dilakukan sambil berjalan kaki, atau sambil menaiki kendaraan, atau dalam kondisi apa saja yang dapat kalian lakukan, meskipun hanya dengan isyarat, atau bahkan tanpa menghadap ke arah kiblat. Jika ketakutan kalian sudah hilang, kerjakanlah shalat secara normal; shalat Amn (shalat dalam kondisi aman). Sebutlah nama Allah di dalamnya dan janganlah kalian menguranginya dari tata-cara baku. Bersyukurlah kepada Allah atas apa yang telah diajarkan Allah kepada kalian berupa urusan-urusan ibadah dan hukum-hukum yang tidak kalian ketahui sebelumnya. |
| وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٢٤٠} |
240. Para suami yang meninggal dunia dalam keadaan meninggalkan para istri, hendaklah sebelum itu mereka memberikan wasiat untuk para istri agar mereka diberi mut'ah selama satu tahun penuh sejak hari kematian, berupa tinggal di rumah suami tanpa diminta pindah oleh ahluwaris sepanjang satu tahun. Demikian itu adalah demi menghibur hati sang istri dan sebagai bentuk kebajikan kepada suaminya yang telah meninggal. Jika para istri itu keluar (pindah rumah) karena memang pilihan mereka sendiri, sebelum habis masa satu tahun maka tidak ada dosa atas kalian, wahai ahluwaris, terkait hal itu. Juga tidak ada dosa atas para istri tersebut terkait apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka berupa hal-hal yang bersifat mubah. Allah Mahaperkasa terkait kerajaan-Nya dan Mahabijaksana terkait perintah dan larangan-Nya. (Ayat ini di-mansukh [dihapus] firman Allah "Orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu menanti selama empat bulan sepuluh hari."(Al-Baciarah [2]: 234)) |
| وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ {٢٤١} |
241. Wanita-wanita yang ditalak itu berhak mendapatkan mut'ah berupa pakaian dan nafkah menurut cara yang makruf, yang dipandang baik berdasarkan syara'. Demikian itu meruoakan hak mereka yang menjadi kewajiban (yang harus ditunaikan oleh) orang-orang yang takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya dalam perintah dan larangan-Nya. |
| كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ {٢٤٢} |
242. Demikianlah keterangan nyata mengenai hukum-hukum terkait anak dan wanita. Allah menjelaskan kepada kalian tentang ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum-Nya berkenaan segala yang kalian perlukan dalam kehidupan dan juga akhirat kalian, agar kalian memahaminya dan mengamalkannya. |
| أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ {٢٤٣} |
243. Apakah kamu tidak tahu, wahai Rasul, kisah tentang orang-orang yang pergi dari negeri dan tempat tinggal mereka, sedangkan jumlah mereka beribu-ribu, karena takut mati disebabkan wabah atau peperangan. Allah berfirman kepada mereka, "Matilah kalian! "Mereka pun mati seketika itu pula, sebagai bentuk hukuman atas tindakan mereka lari dari takdir Allah. Lalu Allah menghidupkan mereka kembali beberapa saat kemudian, untuk menyempurnakan ajal mereka serta agar mereka mengambil pelajaran dan bertaubat. Sesungguhnya Allah memiliki karunia agung yang dicurahkan kepada manusia berupa nikmat-nikmat-Nya yang banyak. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mensyukuri karunia Allah yang tercurah kepada mereka. |
| وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {٢٤٤} |
244. Wahai kaum muslimin, perangilah orang-orang kafir demi membela (memenangkan) agama Allah. Ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar semua perkataan kalian dan Maha Mengetahui segala niat dan amal perbuatan kalian. |
| مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ {٢٤٥} |
245. Barang siapa yang mau berderma di jalan Allah dengan derma yang baik, semata berharap pahala dari Allah maka Allah akan melipatgandakan untuknya sekian kali lipat hingga tak terhitung, berupa pahala dan balasan yang baik dari-Nya. Allah dapat menyempitkan dan dapat pula melapangkan. Maka dari itu, berinfaklah dan tidak usah peduli karena Allah Maha Pemberi Rezeki. Dia kuasa untuk menyempitkan siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya dalam urusan rezeki, dan juga berkuasa melapangkan para hamba-Nya yang lain. Allah memiliki hikmah yang sempurna dalam hal itu. Hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan setelah mati, lalu Dia akan memberikan balasan atas segala amal perbuatan kalian. |
| أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ {٢٤٦} |
246. Apakah kamu tidak mengetahui, wahai Rasul, kisah para pemuka dan pemimpin kalangan Bani Israil setelah zaman Nabi Musa ketika mereka meminta kepada nabi mereka agar diangkat untuk mereka seorang raja, yang mereka itu akan berkumpul di bawah kepemimpinannya dan akan berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh. Sang nabi berkata kepada mereka, "Apakah urusannya seperti yang aku perkirakan, bahwa jika benar-benar telah diwajibkan atas kalian berperang di jalan Allah, lantas kalian tidak juga mau berperang? Aku memperkirakan kepengecutan dan sikap kalian yang akan lari dari medan perang." Dengan sikap membantah perkiraan sang nabi tersebut, mereka berkata, "Penghalang macam apa yang akan merintangi kami dari berperang di jalan Allah, sedangkan musuh kami telah mengusir kami dari kampung halaman kami dan menjauhkan kami dari anak-anak kami dengan melakukan penyerangan dan penawanan terhadap pihak kami? "Tatkala Allah telah mewajibkan perang terhadap mereka bersama sang raja yang telah ditunjuk oleh nabi mereka, ternyata mereka bersikap pengecut dan lari dari perang; kecuali hanya sedikit saja dari mereka yang tetap bertahan karena karunia dari Allah. Allah mengetahui betul orang-orang zhalim yang melanggar janji-janji mereka. |
| وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {٢٤٧} |
247. Sang Nabi berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengutus Thalut kepada kalian sebagai seorang raja, untuk memenuhi tuntutan kalian. la akan memimpin kalian untuk berperang melawan musuh kalian, seperti yang kalian minta." Para pembesar Bani Israil itu menjawab, "Bagaimana bisa Thalut menjadi raja kami, sedangkan ia tidak layak untuk itu? Sebab, ia bukan merupakan keturunan para raja dan bukan berasal dari kerabat para nabi, serta tidak memiliki banyak harta yang dapat membantunya untuk menjalankan kerajaannya. Sedangkan kami sebenarnya lebih berhak untuk menjadi raja daripada dia. Karena kami berasal dari keturunan para raja dan keturunan para nabi." Sang nabi berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya untuk menjadi raja kalian, sedangkan Allah lebih tahu segala urusan para hamba-Nya. Dan Allah telah membekalinya dengan keluasan dalam bidang ilmu serta kekuatan fisik untuk berjihad melawan musuh. Allah adalah Pemilik seluruh kerajaan. Dia memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara para hamba-Nya. Allah Mahaluas karunia dan pemberian-Nya. Dan Dia Maha Mengetahui hakikat segala perkara tanpa ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. |
| وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَىٰ وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ {٢٤٨} |
248. Sang Nabi berkata kepada mereka, "Sesungguhnya tanda bahwa ia seorang raja adalah bahwa kotak yang berisi Taurat itu akan datang kembali kepada kalian -yang mana musuh sebelumnya telah merebutnya dari mereka-, yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabb kalian yang akan meneguhkan hati orang-orang yang ikhlas. Di dalamnya juga terdapat sisa barang-barang yang ditinggalkan keluarga Musa dan keluarga Harun, seperti tongkat dan pecahan kecil-kecil dari batu tulis yang dibawa oleh para malaikat. Sungguh, hal demikian itu merupakan bukti nyata kalian mengenai pemilihan Thalut sebagai raja kalian berdasarkan perintah Allah, jika kalian memang orang-orang yang membenarkan Allah dan rasul-rasul-Nya. |
| فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ {٢٤٩} |
249. Ketika Thalut membawa keluar tentaranya untuk berperang melawan kaum Amaliqah maka Thalut berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Allah akan menguji kalian untuk bersabar dengan sebuah sungai yang akan kalian lintasi di hadapan kalian. Tujuannya adalah untuk memisahkan orang mukmin dari orang munafik. Barang siapa di antara kalian minum dari air sungai tersebut, berarti ia bukan bagian dari pengikutku dan tidak pantas untuk berjihad bersamaku. Sedangkan siapa saja yang tidak meneguk air sungai tersebut, berarti ia benar-benar pengikutku karena ia mematuhi perintahku dan layak untuk berjihad. Kecuali, jika ia hanya mengambil satu cidukan dengan menggunakan tangannya maka tidak ada cela baginya, sebagai sebuah keringanan." Tatkala sampai di sungai itu, ternyata mereka berebut air dan berlebihan dalam meminum air, kecuali hanya sedikit saja dari mereka yang mampu bersabar untuk menahan dahaga dan rasa panas; sehingga mereka mencukupkan diri dengan hanya mengambil air dengan satu kali cidukan tangan saja. Ketika itu, orang-orang yang melanggar aturan terlambat di belakang. Dan, ketika Thalut sudah melintasi sungai tersebut bersama sejumlah kecil orang-orang beriman yang menyertainya, yaitu tiga ratus sekian belas orang, untuk bertempur dengan musuh, lantas mereka melihat banyaknya jumlah musuh serta perlengkapannya mereka pun berkata, "Tiada kuasa bagi kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya yang perkasa." Namun, orang-orang yang yakin betul akan perjumpaan dengan Allah, mengingatkan saudara-saudara mereka akan Allah dan kekuasaan-Nya dengan mengatakan, "Betapa sering sebuah kelompok kecil yang beriman nan sabar itu meraih kemenangan dengan izin Allah dan perintah-Nya, mengalahkan kelompok yang banyak namun kafir nan melampaui batas. Allah bersama orang-orang sabar, dengan memberikan taufik (petunjuk) dan pertolongan serta memberikan pahala yang baik." |
| وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ {٢٥٠} |
250. Tatkala mereka telah terlihat oleh Jalut dan tentaranya dan mereka melihat bahaya di depan mata, mereka pun meminta tolong kepada Allah seraya berdoa serta memohon dengan merendahkan diri sambil mengucapkan, "Wahai Rabb kami, limpahkan kesabaran yang besar ke dalam hati kami, teguhkan telapak kaki kami dan jadikanlah ia kokoh di dalam berperang melawan musuh; bukannya lari dari kengerian perang. Tolonglah kami dengan bantuan dan dukungan-Mu untuk mengalahkan kaum kafir." |
| فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ {٢٥١} |
251. Akhirnya tentara Thalut berhasil mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah. Sedangkan Nabi Daud berhasil membunuh Jalut, pemimpin orang-orang bengis itu. Allah memberikan kerajaan dan kenabian kepada Daud di kalangan Bani Israil sesudah kejadian itu serta mengajarkan berbagai macam ilmu kepadanya sebagaimana yang Allah kehendaki. Kalau saja Allah tidak menolak orang yang bermaksiat kepada Allah dan menyekutukan-Nya melalui sebagian manusia, yaitu golongan yang taat dan beriman kepada-Nya, tentu bumi ini rusak disebabkan oleh dominasi kekufuran serta berjayanya para tiran dan ahli maksiat. Akan tetapi, Allah memiliki karunia yang dilimpahkan kepada seluruh makhluk. |
| تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ {٢٥٢} |
252. Itulah bukti-bukti nyata dari Allah yang Kami bacakan kepadamu, wahai Nabi, dengan sebenarnya. Sungguh, engkau termasuk utusan yang benar. |
| تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ {٢٥٣} |
253. Para rasul yang mulia itu Allah utamakan sebagian mereka atas sebagian yang Iain, sesuai dengan karunia yang Allah anugerahkan kepada mereka. Di antara mereka itu ada yang langsung diajak bicara oleh Allah, seperti Nabi Musa dan Nabi Muhammad (Dalam hal ini terdapat penetapan sifat "kalam" [bicara] bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya). Di antara mereka ada yang diangkat oleh Allah ke derajat yang tinggi, seperti Nabi Muhammad, dengan keumuman risalah beliau, penutupan kenabian, pengutamaan umat beliau di atas seluruh umat lainnya dan sebagainya. Allah memberikan anugerah kepada Nabi Isa putra Maryam berbagai keterangan yang merupakan mukjizat yang nyata, seperti menyembuhkan orang yang terlahir buta dengan izin Allah, menyembuhkan orang yang terkena penyakit kusta dengan izin Allah, serta menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah. Allah juga menguatkannya dengan Jibril. Jika Allah menghendaki agar orang-orang yang datang sepeninggal para rasul itu tidak akan saling membunuh, setelah datang kepada mereka keterangan yang nyata, tentu mereka tidak akan saling membunuh. Namun terjadi perselisihan di kalangan mereka. Di antara mereka ada yang berada di atas keimanannya, dan di antara mereka ada yang terus menerus berada di atas kekufurannya. Jika Allah menghendaki, setelah terjadinya perselisihan di antara mereka, yang menggiring kepada tindakan saling membunuh, tentu mereka tidak akan saling membunuh. Akan tetapi, Allah memberikan taufik kepada siapa saja yang Dia kehendaki menuju ketaatan dan keimanan kepada-Nya dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki, lantas ia berbuat durhaka (maksiat) dan kufur kepada-Nya. Allah bisa melakukan apa saja yang Dia kehendaki dan pilih. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ {٢٥٤} |
254. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah, membenarkan Rasul-Nya, dan mengetahui petunjuk-Nya, keluarkanlah zakat yang telah difardhukan dan sedekahkan sebagian rezeki yang telah Allah berikan kepada kalian sebelum datang Hari Kiamat. Yaitu hari ketika tidak ada lagi perniagaan yang mendatangkan keuntungan, tidak ada harta yang bisa digunakan untuk menebus diri kalian dari adzab Allah, tidak ada persahabatan seorang teman yang bisa menyelamatkan kalian, dan tidak ada pemberi syafaat yang kuasa untuk meringankan adzab dari kalian. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang zhalim; yang melampaui batasan-batasan Allah. |
| اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ {٢٥٥} |
255. Allah adalah Dzat yang hanya Dia yang berhak atas uluhiah dan ubudiah. Dia Mahahidup dengan segala makna kehidupan yang sempurna, sesuai dengan keagungan-Nya, serta Maha Mengurusi segala sesuatu. Dia tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur. Segala yang ada di langit maupun di bumi adalah milik-Nya. Tiada seorang pun yang berani memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala yang ada, yang telah lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan para makhluk mengenai hal-hal yang akan datang maupun apa yang ada di belakang mereka mengenai perkara-perkara yang telah berlalu. Tidak ada seorang pun di antara para makhluk yang dapat mengetahui hal itu sedikit pun, kecuali berkenaan dengan apa yang telah Allah beritahukan kepadanya. Kursi-Nya seluas langit dan bumi. Kursi adalah tempat telapak kaki Rabb Jalla Jalaluhu. Tidak ada yang mengetahui "bagaimananya" kecuali Allah. Allah tidak merasa berat untuk menjaga keduanya. Dia Mahatinggi dengan Dzat dan sifat-Nya atas seluruh makhluk-Nya, yang menghimpun seluruh sifat keagungan dan keangkuhan. Ini adalah ayat paling agung di dalam Al-Qur'an, yang dinamakan "Ayat Kursi". |
| لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {٢٥٦} |
256. Oleh karena kesempurnaan agama ini dan keluasan ayat-ayatnya, tidak dibutuhkan adanya pemaksaan dalam memeluknya bagi golongan yang diterima jizyah dari mereka. Berbagai dalil sudah begitu nyata yang menjelaskan mana yang haq dan mana yang batil; mana petunjuk dan mana kesesatan. Barang siapa yang kufur kepada thaghut (segala yang diibadahi selain Allah) dan beriman kepada Allah maka ia telah teguh dan istiqamah di atas jalan yang lebih utama serta telah berpegang kepada agama dengan sekuat-kuat tali yang tidak akan terputus. Allah Maha Mendengar seluruh perkataan para hamba-Nya serta Maha Mengetahui segala amal perbuatan dan niat mereka. Dia akan memberikan balasan atas itu semua. |
| اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٢٥٧} |
257. Allah mengurus (menjadi wali bagi) orang-orang beriman dengan memberikan pertolongan, petunjuk (taufik), dan penjagaan. Allah mengeluarkan mereka dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman. Adapun wali-wali bagi kaum kafir adalah para tandingan dan berhala yang mereka ibadahi selain Allah. Mereka mengeluarkan orang-orang kafir itu dari cahaya iman menuju gelapnya kekufuran. Mereka itu adalah para penghuni neraka yang terus-menerus tetap di dalamnya. Mereka berada di dalamnya dalam keadaan kekal tanpa akan pernah keluar darinya. |
| أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {٢٥٨} |
258. Apakah kamu melihat, wahai Rasul, sesuatu yang lebih mengherankan daripada orang yang mendebat Nabi Ibrahim berkenaan dengan ketauhidan Allah dan rububiah-Nya, hanya lantaran Allah telah memberikan kerajaan kepadanya lantas ia bersikap sombong dan berkata kepada Nabi Ibrahim, "Siapakah Rabb-mu?" Beliau menjawab, "Rabbku adalah Dzat yang menghidupkan semua makhluk sehingga mereka menjadi hidup, dan yang mencabut kehidupan dari mereka sehingga mereka menjadi mati. Hanya Dia saja yang kuasa untuk menghidupkan dan mematikan. la berkata, "Aku dapat menghidupkan dan mematikan." (Maksudnya: Aku bisa membunuh siapa saja yang ingin aku bunuh dan aku juga bisa membiarkan siapa saja yang ingin aku biarkan tetap hidup). Ibrahim kemudian berkata kepadanya, "Sesung-guhnya Allah yang aku ibadahi, bisa menerbitkan matahari dari timur. Maka apakah kamu mampu mengubah sunnah ilahiyah ini dengan menjadikannya terbit dari barat?" Maka si kafir ini akhirnya bingung dan terputuslah hujahnya. Keadaannya adalah sebagaimana keadaan orang-orang zhalim yang tidak diberi petunjuk oleh Allah menuju kebenaran. |
| أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحْيِي هَٰذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا ۖ فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ ۖ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ ۖ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۖ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ ۖ وَانْظُرْ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ ۖ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا ۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {٢٥٩} |
259. Atau, apakah engkau melihat, wahai Rasul, permisalan orang yang melintasi suatu kampung yang telah rusak rumah-rumahnya dan roboh atapnya-atapnya, lalu ia berkata, "Bagaimana Allah akan menghidupkan kampung (negeri) ini setelah mati?" Lalu Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian mengembalikan ruhnya (menghidupkan) kembali. Allah bertanya, "Berapa lama engkau mengalami kematian?" la menjawab, "Barang sehari, atau bahkan tidak sampai sehari." Lalu Allah memberitahukan bahwa sebenarnya ia mengalami kematian selama seratus tahun. Allah memerintahkannya agar melihat makanan dan minumannya; bagaimana Allah menjaga keduanya dari mengalami perubahan dalam masa yang sangat panjang seperti ini, dan Allah memerintahkannya agar melihat keledainya; bagaimana Allah menghidupkanya kembali setelah tinggal tulang belulang yang berserakan. Allah berfirman kepadaya, "Agar Aku menjadikanmu sebagai ayat (tanda)." Yaitu bukti nyata akan kekuasaan Allah untuk membangkitkan kembali makhluk yang sudah mati. Allah kemudian memerintahkannya agar melihat tulang belulang itu, bagaimana Allah mengangkat sebagiannya atas sebagian yang lain dan menyambungkan sebagiannya dengan sebagian yang lain, lalu Allah membalutnya dengan daging setelah tulang-tulang itu menyatu (tersusun), kemudian menjadikannya hidup kembali. Ketika hal itu telah jelas baginya, ia pun mengakui keagungan Allah bahwa Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu. la pun menjadi tanda kekuasaan Allah bagi umat manusia. |
| وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {٢٦٠} |
260. Wahai Rasul, ingatlah akan permintaan Nabi Ibrahim kepada Rabbnya agar memperlihatkan kepadanya bagaimana cara membangkitkan (menghidupkan) kembali makhluk yang sudah mati. Allah bertanya kepadanya, "Apakah kamu belum juga percaya?" Ibrahim menjawab, "Tentu saja percaya. Hanya saja, saya memohon hal itu agar menambah keyakinanku yang sudah ada." Allah berfirman,"Ambillah empat ekor burung, kemudian gabungkanlah, lalu sembelihlah dan potong-potonglah. Lantas masing-masing bagian darinya letakkanlah di setiap bukit, kemudian panggillah mereka, niscaya akan datang kepadamu dengan segera. Ibrahim pun memanggilnya, dan serta merta masing-masing bagian (dari burung yang sudah dipotong-potong itu) kembali ke tempatnya semula, dan mereka itu datang dengan segera. Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkannya. Allah Mahabijaksana dalam hal perkataan, perbuatan, syariat dan qadar-Nya. |
| مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {٢٦١} |
261. Di antara hal teragung yang bisa dipetik manfaatnya oleh orang-orang yang beriman adalah infak dijalan Allah. Perumpamaan orang-orang beriman yang menginfakkan harta mereka di jalan Allah adalah seperti sebuah biji (benih) yang ditanam di tanah yang subur. Kemudian ia mengeluarkan batang yang memiliki tujuh bulir, sedangkan masing-masing bulir memiliki seratus biji. Allah melipat gandakan pahala bagi siapa saja yang Dia kehendaki, sesuai dengan bobot keimanan dan keikhlasan yang sempurna pada diri orang yang berinfak. Karunia Allah itu` sangat luas. Allah Mahatahu siapa saja yang berhak mendapatkan karunia-Nya serta mengetahui niat para hamba-Nya. |
| الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {٢٦٢} |
262. Yaitu orang-orang yang mengeluarkan harta mereka untuk kepentingan jihad dan segala bentuk kebaikan lainnya, kemudian mereka tidak mengiringi harta yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya terhadap pihak yang mereka beri, dan juga tidak diiringi dengan hal yang menyakitkan hati si penerima melalui ucapan maupun tindakan, yang menjadikannya merasa bahwa ia kalah utama dari mereka maka bagi mereka pahala yang agung di sisi Rabb mereka. Mereka tidak merasa khawatir terhadap apa yang akan mereka hadapi dari urusan akhirat, serta tidak bersedih hati atas sesuatu yang luput di dunia ini. |
| قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ {٢٦٣} |
263. Perkataan yang baik dan permaafan kepada pihak yang meminta-minta dengan mendesak, lebih baik dari-pada sedekah yang diiringi dengan sikap atau tindakan menyakitkan dan perbuatan buruk dari pihak pemberi sedekah. Allah Mahakaya sehingga tidak membutuhkan sedekah dari para hamba serta Maha Penyantun sehingga tidak menyegerakan hukuman terhadap mereka. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ {٢٦٤} |
264. Wahai orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada Hari Akhir, janganlah kalian menghilangkan pahala sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan dengan menyakiti (perasaan si penerima). Seperti seseorang yang mengeluarkan hartanya agar dilihat oleh orang lain (riya'), sehingga mereka memberikan pujian kepadanya, sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan tidak yakin kepada Hari Akhir. Perumpamaannya adalah seperti sebuah batu licin yang di atasnya terdapat tanah, yang kemudian ditimpa oleh hujan yang lebat sehingga menyingkirkan tanah tersebut, lalu batu tersebut kembali menjadi licin tanpa ada sesuatu pun yang menempel padanya. Demikian pulalah halnya dengan orang-orang yang berbuat riya; amalannya lenyap di sisi Allah. Mereka tidak mendapati sedikit pun pahala dari apa yang telah mereka infakkan. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang kafir untuk berada dalam kebenaran berkenaan dengan infak mereka dan selainnya. |
| وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {٢٦٥} |
265. Sedangkan perumpamaan orang-orang yang menginfakkan harta mereka demi mencari ridha Allah dan didasari oleh keyakinan yang kuat akan kebenaran janji-Nya seperti sebuah kebun besar di dataran tinggi nan subur, yang disirami oleh hujan yang lebat sehingga menghasilkan buah yang berlipat. Jika pun tidak mendapatkan hujan yang lebat maka air gerimis pun sudah cukup untuk menghasil-kan buah yang berlipat pula. Demikianlah infak dari orang-orang yang ikhlas itu diterima di sisi Allah dan dilipatganda-kan, sedikit maupun banyak. Allah mengetahui segala yang rahasia dan melihat segala yang lahir maupun batin. Allah akan memberikan balasan kepada masing-masing hamba sesuai dengan tingkat keikhlasannya. |
| أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ {٢٦٦} |
266. Apakah salah seorang dari kalian menginginkan agar ia memiliki sebuah kebun yang di dalamnya terdapat pohon kurma dan anggur, dengan sungai-sungai yang airnya segar mengalir di bawah pepohonan tersebut serta memiliki aneka macam buah-buahan. Namun pemilik kebun itu sudah tua; tak mampu mengolah kebun sebagaimana mestinya. Sementara itu ia memiliki anak-anak yang masih kecil yang membutuhkan kebun ini. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba berhembuslah angin kencang yang membawa api sehingga ia membakar habis kebun itu. Demikianlah kondisi orang-orang yang tidak ikhlas dalam berinfak. Mereka datang pada Hari Kiamat tanpa memiliki kebaikan. Seperti inilah Allah memberikan penjelasan kepada kalian segala yang bermanfaat bagi kalian, agar kalian mau merenungkan, sehingga kalian bisa mengikhlaskan infak kalian semata karena Allah. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ {٢٦٧} |
267. Wahai orang yang beriman kepada-Ku dan mengikuti para rasul-Ku, berinfaklah dari harta yang halal lagi baik yang kalian peroleh dari kerja kalian, dan juga dari apa yang telah Kami keluarkan untuk kalian dari bumi. Maka janganlah kalian sengaja memilih yang buruk untuk diberikan kepada orang-orang fakir, yang jika saja hal itu diberikan kepada kalian maka kalian tidak akan sudi mengambilnya, kecuali dengan memicingkan mata terhadapnya karena buruknya barang tersebut atau karena cacat. Maka bagaimana kalian sampai tega untuk memberikan kepada Allah sesuatu yang kalian sendiri tidak suka jika kalian yang diberi? Ketahuilah bahwa Allah yang telah memberikan rezeki kepada kalian itu Mahakaya, sehingga tidak membutuhkan sedekah kalian. Dia berhak mendapatkan pujian serta terpuji dalam segala keadaan. |
| الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {٢٦٨} |
268. Kebakhilan dan memilihkan barang yang buruk untuk disedekahkan itu berasal dari bisikan setan yang memang menakut-nakuti kalian akan kemiskinan, membujuk kalian agar bersikap bakhil serta memerintahkan kalian agar berbuat kemaksiatan dan menyelisihi perintah Allah Sementara itu, Allah menjanjikan kepada kalian berupa ampunan atas dosa-dosa kalian serta rezeki yang luas atas infak yang kalian keluarkan. Allah Mahaluas karunia-Nya dan Mahatahu akan segala amalan dan niatan para hamba-Nya. |
| يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ {٢٦٩} |
269. Allah menganugerahkan kelurusan dalam berucap dan berbuat kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para hamba-Nya. Barang siapa yang diberi anugerah yang demikian itu oleh Allah maka sesungguhnya Allah telah memberikan kebaikan yang banyak kepadanya. Tidak ada yang bisa memetik pelajaran dari hal ini dan mengambil manfaat darinya kecuali orang-orang yang memiliki akal yang tersinari dengan cahaya Allah dan petunjuk-Nya. |
| وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ ۗ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ {٢٧٠} |
270. Apa saja yang kalian berikan, berupa harta atau Iainnya, baik banyak maupun sedikit, yang kalian sedekahkan demi mencari keridhaan Allah atau sesuatu yang kalian wajibkan atas diri kalian (nadzar) maka sesungguhnya Allah mengetahui. Dia mengetahui segala niat kalian, dan Dia akan memberikan pahala atas hal itu. Barang siapa yang menghalangi hak Allah maka ia adalah orang yang zhalim. Sedangkan orang-orang yang zhalim itu tidak memiliki penolong yang akan menghalangi mereka dari adzab Allah. |
| إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ {٢٧١} |
271. Jika kalian menampakkan apa yang kalian sedekahkan karena Allah maka betapa baik apa yang kalian sedekahkan itu. Jika kalian merahasiakan sedekah dan kalian berikan kepada orang-orang yang membutuhkan maka yang demikian ini lebih utama bagi kalian. Sebab, sedekah secara sembunyi itu lebih jauh dari perbuatan riya'. Sedekah yang ikhlas itu akan menghapuskan dosa-dosa kalian. Allah Yang Mahatahu segala perkara yang detail itu, tidak ada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi dari-Nya, dan Dia akan memberikan balasan kepada masing-masing orang sesuai dengan amalannya. |
| لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ {٢٧٢} |
272. Engkau tidaklah bertanggung jawab, wahai Rasul, untuk menjadikan orang-orang kafir itu berada di atas petunjuk. Akan tetapi, Allah yang akan melapangkan dada siapa saja yang Dia kehendaki untuk menerima Islam dan memberikan taufik kepadanya. Harta apa saja yang kalian infakkan, akan ada balasan kebaikannya dari sisi Allah buat kalian. Orang-orang yang beriman itu tidaklah menginfakkan hartanya kecuali demi mencari ridha Allah. Harta apa saja yang kalian infakkan secara ikhlas karena Allah maka kalian akan diberi pahalanya secara sempurna tanpa dikurangi sedikit pun darinya. Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat wajah bagi Allah sesuai dengan yang layak bagi-Nya. |
| لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ {٢٧٣} |
273. Peruntukkanlah sedekah kalian itu bagi orang-orang fakir dari kalangan kaum muslimin, yang mereka itu tidak mampu menempuh perjalanan untuk mencari rezeki karena mereka sibuk berjihad di jalan Allah. Orang-orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka itu bukanlah orang-orang yang memerlukan uluran sedekah, disebabkan karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Kamu bisa mengenal mereka melalui tanda-tanda pada diri mereka bahwa mereka sebenarnya membutuhkan. Mereka tidak mau meminta kepada semua orang. Dan jika pun mereka terpaksa meminta, mereka pun tidak mau meminta dengan mendesak. Harta apa saja yang kalian infakkan di jalan Allah maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah darinya. Allah akan memberikan balasan yang paling sempurna pada Hari Kiamat. |
| الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {٢٧٤} |
274. Orang-orang yang mengeluarkan harta mereka untuk mencari keridhaan Allah, baik pada waktu malam maupun siang, dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan; bagi mereka ada pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran atas mereka berkenaan dengan apa yang akan mereka hadapi dari perkara akhirat. Mereka juga tidak bersedih atas apa yang luput dari keuntungan duniawi. Pensyariatan ilahi yang penuh hikmah itu merupakan cara Islam dalam berinfak. Di dalamnya terdapat unsur menutup kebutuhan kaum fakir dengan tetap menjaga kemuliaan dan kehormatan, membersihkan harta orang-orang kaya, serta mewujudkan sikap saling menolong di atas kebajikan dan ketakwaan. Semuanya itu dilakukan semata untuk mencari Wajah Allah, bukan karena paksaan. |
| الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ {٢٧٥} |
275. Orang-orang yang bermuamalah dengan cara riba, tidak akan bangkit di akhirat nanti dari kubur mereka kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka mengatakan bahwa jual beli itu sama halnya dengan riba; dalam arti bahwa keduanya sama-sama boleh (halal) dan menyebabkan bertambahnya harta. Lalu Allah menegaskan kedustaan mereka serta menjelaskan bahwa Dia menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Sebab, dalam jual beli itu terdapat manfaat bagi para individu maupun masyarakat, sedangkan riba itu berisi eksploitasi, kehilangan dan kebinasaan. Barang siapa yang telah sampai kepadanya larangan dari Allah mengenai riba, lantas ia berhenti dari mengambil riba maka baginya apa yang telah diambil terdahulu sebelum datang pengharaman riba kepadanya. Tidak ada dosa baginya dalam hal ini. Urusannya terserah kepada Allah berkenaan dengan zaman yang akan dihadapinya. Jika ia terus berada di atas taubatnya (tidak mengulangi muamalah riba) maka Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. Barang siapa yang kembali mempraktikkan riba maka perbuatannya itu setelah sampai kepadanya larangan dari Allah mengenai riba, ia mesti mendapatkan hukuman, karena telah ditegakkan hujah atasnya. Oleh karena itu, Allah berfirman, "Maka mereka itu adalah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya." |
| يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ {٢٧٦} |
276. Allah menghilangkan riba seluruhnya atau mengharamkan pelakunya dari mendapatkan keberkahan hartanya, sehingga ia tidak bisa memetik manfaat dengannya. Sebaliknya, Allah menumbuhkembangkan sedekah dan memperbanyak serta melipatgandakan pahala bagi orang-orang yang bersedekah serta memberikan keberkahan kepada mereka berkenaan dengan hartanya. Allah tidak menyukai setiap orang yang terus-menerus dalam kekufuran, menghalalkan makan riba, serta selalu melakukan perbuatan dosa dan tindakan haram serta berbuat durhaka (maksiat) kepada Allah. |
| إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ {٢٧٧} |
277. Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal yang baik, menunaikan shalat sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta mengeluarkan zakat harta mereka maka bagi mereka pahala besar yang khusus buat mereka di sisi Rabb dan Pemberi rezeki mereka. Mereka tidak dihantui oleh rasa khawatir berkenaan dengan akhirat serta tidak pernah bersedih hati atas apa yang luput dari keuntungan duniawi mereka. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ {٢٧٨} |
278. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya, takutlah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah tindakan menuntut sisa riba yang belum kalian pungut yang memang terjadi sebelum pengharaman riba, jika kalian memang benar-benar merealisasikan keimanan kalian, baik dalam hal perkataan maupun perbuatan. |
| فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ {٢٧٩} |
279. Jika kalian tidak berhenti dari mengerjakan perbuatan yang dilarang oleh Allah maka yakinlah akan adanya kumandang perang dari Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian kembali ke jalan Rabb kalian dan meninggalkan makan riba maka kalian berhak mengambil kembali harta pokok yang menjadi piutangmu tanpa mengambil tambahan. Kalian tidak menzhalimi seorang pun dengan mengambil nilai lebih dari harta pokok, dan tidak ada seorang pun yang menzhalimi kalian dengan mengurangi apa yang telah kalian pinjamkan. |
| وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ {٢٨٠} |
280. Jika orang yang berutang itu belum mampu untuk menutup utangnya maka berikanlah tangguh hingga Allah memudahkan rezeki padanya sehingga ia bisa mengem-balikan harta kalian. Namun jika kalian membiarkan seluruh harta pokok yang ada di tangan orang, atau sebagiannya, lantas kalian ikhlaskan dari pihak yang berutang maka yang demikian itu lebih utama bagi kalian, jika kalian mengetahui keutamaan hal itu. Sungguh, yang demikian itu lebih baik bagi kalian, di dunia dan akhirat. |
| وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ {٢٨١} |
281. Waspadalah, wahai sekalian manusia, akan suatu hari di mana kalian semua dikembalikan kepada Allah, yaitu Hari Kiamat. Pada hari itu kalian akan dihadapkan kepada Allah, lalu Dia menghisab kalian dan memberikan balasan kepada masing-masing dari kalian berdasarkan amalan yang dilakukan, baik maupun buruk, tanpa mendapatkan perlakuan zhalim sedikit pun. Ayat ini memberikan petunjuk bahwa menjauhi segala hal yang diharamkan oleh Allah yang berupa usaha-usaha ribawi, merupakan bagian dari bentuk penyempurnaan iman dan hak-haknya, berupa penegakan shalat, menunaikan zakat, dan segala bentuk amal shalih. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {٢٨٢} |
282. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya, yaitu Muhammad jika kalian melakukan transaksi utang-piutang hingga batas waktu yang ditentukan maka tulislah. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga harta dan menghindari terjadinya perselisihan. Hendaklah ada seorang tepercaya dan bagus ingatannya yang menulisnya. Janganlah orang yang telah diajari tulis menulis oleh Allah itu menolak untuk menuliskannya. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan apa yang menjadi kewajibannya berupa utang dan hendaklah ia merasa diawasi oleh Rabbnya; jangan sampai ia mengurangi sedikit pun dari nilai utangnya. Jika orang yang berutang itu adalah seorang yang berada dalam perwalian (pengawasan), yang dikhawatirkan berbuat tabdzir dan berlebihan (boros), atau seorang anak kecil, atau orang gila, atau seorang yang tidak mampu berbicara karena bisu, atau tidak mampu berbicara secara sempurna; maka hendaklah walinya yang mendiktekan sebagai wakil darinya. Mintalah persaksian dua orang lelaki muslim yang balig nan berakal sehat dari kalangan orang yang berlaku adil. Jika tidak didapatkan dua orang lelaki maka carilah persaksian seorang lelaki dan dua orang perempuan yang kalian rela dengan persaksian mereka. Sehingga ketika salah seorang perempuan itu lupa maka perempuan yang satunya lagi bisa mengingatkannya. Para saksi itu hendaklah menyambut jika mereka diminta untuk memberikan kesaksian. Mereka berkewajiban untuk menunaikannya jika memang dipanggil untuk memberikan kesaksian. Janganlah kalian merasa jemu untuk menuliskan utang itu, sedikit atau pun banyak, hingga batas waktu yang di-tentukan. Yang demikian itu lebih adil dalam tatanan sya-riat Allah dan petunjuk-Nya, lebih bisa untuk membantu penegakan dan pelaksanaan persaksian, serta lebih dekat untuk menghilangkan keraguan berkenaan dengan jenis utang, ukuran, dan waktunya. Akan tetapi, jika persoalannya adalah urusan jual beli kontan, dengan mengambil barang dagangan dan membayarnya seketika itu pula maka tentu tidak diperlukan pencatatan. Disarankannya persaksian atas hal itu adalah dalam rangka mencegah terjadinya perselisihan. Yang menjadi kewajiban saksi dan penulis adalah memberikan kesaksiannya sebagaimana mestinya serta menuliskannya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah. Tidak dibenarkan bagi pihak yang memiliki hak (pemberi utang) dan pihak yang berkewajiban menunaikan hak tersebut (orang yang berutang) untuk menyulitkan para penulis dan para saksi. Demikian juga tidak dibenarkan bagi para penulis dan saksi itu untuk menyulitkan (merugikan) orang yang membutuhkan bantuan dari penulisan atau persaksian mereka. Jika kalian sampai melakukan apa yang kalian telah dilarang mengerjakannya maka yang demikian itu berarti sebuah tindakan keluar dari ketaatan kepada Allah. Akibat dari itu semua akan menimpa kalian. Takutlah kepada Allah dalam segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan yang dilarang oleh-Nya, niscaya Allah akan mengajarkan kepada kalian segala yang memberikan kemaslahatan ter-hadap dunia dan akhirat kalian. Allah Mahatahu atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dari segala urusan kalian, dan Dia akan memberikan balasan atas semua itu. |
| وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَىٰ سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ ۖ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ ۗ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ ۚ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ {٢٨٣} |
283. Jika kalian sedang dalam bepergian, sedangkan kalian tidak mendapatkan orang yang menuliskan (catatan utang piutang) untuk kalian maka berikanlah kepada pemilik hak (pemberi utang) itu sesuatu yang bisa menjadi jaminan baginya hingga orang yang berutang itu bisa mengembalikan utangnya. Namun jika sebagian dari kalian itu bisa saling mempercayai maka tidaklah mengapa jika (transaksi utang piutang itu) tidak ditulis, tidak dipersaksikan dan tidak ada jaminan. Utang tetap menjadi amanah yang menjadi tanggungan orang yang berutang. la memiliki kewajiban untuk membayarkannya. Dia mesti selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga tidak akan berbuat khianat kepada temannya. Jika orang yang berutang itu mengingkari tanggungan utang yang harus dibayar olehnya, sedangkan di sana ada orang yang turut hadir dan menyaksikan peristiwa transaksi utang piutang itu maka hendaklah ia memberikan kesaksiannya. Barang siapa yang menyembunyikan kesaksian ini maka ia menjadi seorang yang berhati khianat dan dosa. Allah mengetahui segala yang tersembunyi. Ilmu-Nya meliputi segala urusan kalian. Dia akan memberikan balasan atas semua itu. |
| لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {٢٨٤} |
284. Hanya milik Allah segala kerajaan langit dan bumi serta segala yang ada pada keduanya, baik yang berkenaan dengan kerajaan, pengaturan maupun penguasaan segala sesuatunya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Apa saja yang kalian tampakkan dari diri kalian atau yang kalian sembunyikan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan Dia akan menghisab kalian dengannya. Dia memberikan ampunan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menghukum siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah memberikan kemurahan kepada kaum muslimin dengan memberikan maaf atas keinginan jiwa dan bisi-kan hati untuk berbuat buruk, selagi belum diiringi dengan ucapan atau perbuatan. Hal ini di-sebutkan dalam hadits Nabi. |
| آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ {٢٨٥} |
285. Rasulullah Muhammad membenarkan dan meyakini Al-Qur'an yang diwahyukan kepada beliau dari Rabb-nya; dan memang sudah seharusnya untuk diyakini. Begitu pula orang-orang yang beriman; mereka membenarkan dan mengamalkan Al-Qur'an yang agung. Masing-masing dari mereka membenarkan Allah sebagai Rabb dan sembahan (ilah) yang disifati dengan sifat-sifat kemulian dan kesempurnaan. Bahwasanya Allah memiliki malaikat-malaikat yang mulia, menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para rasul kepada para makhluk-Nya. Kami sebagai kaum beriman tidaklah mengimani sebagian saja di antara para rasul itu dan mengingkari sebagian yang lain. Akan tetapi, kami mengimani mereka semua. Rasul dan orang-orang yang beriman berkata, "Kami dengar, wahai Rabb kami, apa yang telah Engkau wahyukan, dan kami pun taat kepada semua itu. Kami berharap kiranya Engkau berkenan mengampuni dosa-dosa kami dengan karunia-Mu. Engkau adalah Dzat yang telah memelihara kami dengan segala yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Hanya kepada-Mu tempat kami kembali." |
| لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ {٢٨٦} |
286. Din Allah itu mudah; tidak ada kesulitan di dalamnya. Allah tidaklah menuntut dari hamba-Nya sesuatu yang mereka tidak kuasa untuk menjalankannya. Siapa yang mengerjakan kebaikan akan memetik kebaikan, dan siapa yang melakukan keburukan akan mendapatkan keburukan. "Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa akan sesuatu yang telah Engkau wajibkan atas kami, atau jika kami bersalah dalam mengerjakan sesuatu yang telah Engkau larang kami mengerjakannya. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami amalan-amalan berat yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami dari kalangan para pelaku maksiat sebagai hukuman terhadap mereka. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami sesuatu yang kami tidak sanggup memikulnya, baik berupa beban taklif (kewajiban) maupun musibah. Hapuskan dosa-dosa kami, tutupi aib-aib kami, dan sayangilah kami. Engkau adalah Pemilik segala urusan kami dan Pengaturnya. Tolonglah kami dalam menghadapi (mengalahkan) orang yang mengingkari din-Mu, mengingkari keesaan-Mu, dan mendustakan Nabi-Mu, Muhammad Jadikanlah kemenangan akhir atas mereka itu ada pada kami, di dunia dan akhirat." |
 |