 |
| سُورَةٌ أَنْزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا وَأَنْزَلْنَا فِيهَا آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ {١} |
1. Satu surah Al-Qur'an yang agung ini Kami turunkan, Kami wajibkan pengamalan hukum-hukumnya, dan Kami turunkan di dalamnya petunjuk-petunjuk yang jelas agar kalian - wahai orang-orang yang beriman- mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang jelas ini dan mengamalkannya. |
| الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ {٢} |
2. Pezina perempuan dan pezina laki-laki yang belum pernah menikah, hukuman bagi masing-masing adalah seratus kali dera dengan cambuk. Diriwayatkan secara shahih dalam As-Sunnah bahwa selain hukuman dera juga diberlakukan hukuman diasingkan selama satu tahun. Janganlah rasa kasihan menyebabkan kalian tidak melaksanakan atau meringankan hukuman ini, jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir dengan mengamalkan hukum-hukum Islam. Hendaklah hukuman ini disaksikan oleh sejumlah orang beriman agar menimbulkan efek malu dan takut serta bisa menjadi nasihat dan pelajaran. |
| الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ {٣} |
3. Laki-laki pezina tidak rela menikah kecuali dengan wanita pezina atau musyrik yang tidak mengakui diharamkannya perzinaan, wanita pezina juga tidak rela menikah kecuali dengan laki-laki pezina atau musyrik yang tidak mengakui pengharaman zina. Adapun laki-laki dan wanita yang menjaga kehormatan, mereka itu tidak rela melakukan pernikahan itu dan pernikahan itu diharamkan bagi orang-orang beriman. Ini merupakan dalil yang jelas mengenai diharamkannya menikahi wanita pezina sebelum ia bertaubat. Demikian pula diharamkan menikahkan laki-laki pezina sebelum ia bertaubat. |
| وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {٤} |
4. Orang-orang yang menuduh wanita dan laki-laki yang menjaga diri dengan tuduhan zina, tanpa ada empat orang saksi yang adil maka deralah mereka dengan cambuk delapan puluh kali dan jangan menerima kesaksian mereka selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang membangkang dari ketaatan kepada Allah. |
| إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٥} |
5. Akan tetapi, orang-orang yang bertaubat, menyesal, dan menarik tuduhannya serta memperbaiki amalnya maka Allah mengampuni dosanya, menyayanginya, dan menerima taubatnya. |
| وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ {٦} |
6. Orang-orang yang menuduh istri-istri mereka berzina, tetapi tidak memiliki saksi-saksi yang menguatkan tuduhan kecuali diri mereka sendiri maka salah seorang dari mereka wajib bersaksi di hadapan qadhi (hakim) empat kali dengan ucapan: "Aku bersaksi dengan nama Allah bahwa aku benar dalam tuduhanku kepadanya bahwa ia berzina." Kemudian, pada kesaksian kelima ia menambah dengan mendoakan laknat Allah bagi dirinya jika ia berbohong. |
| وَالْخَامِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كَانَ مِنَ الْكَاذِبِينَ {٧} |
7. Lihat ayat 6. |
| وَيَدْرَأُ عَنْهَا الْعَذَابَ أَنْ تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙ إِنَّهُ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ {٨} |
8. Dengan kesaksian ini, istri harus dikenai hukuman zina, yaitu dirajam hingga mati. Tidak ada yang bisa menghindarkannya dari hukuman ini kecuali jika ia bersaksi empat kali dengan nama Allah untuk membantah kesaksian suami, dengan mengatakan bahwa si suami berdusta dalam tuduhan zina yang dialamatkan kepadanya. Dan pada kesaksian kelima, ia menambahkan doa terhadap dirinya bahwa ia berhak menerima murka Allah jika suaminya benar dalam tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Dalam kondisi ini, suami istri ini diceraikan. |
| وَالْخَامِسَةَ أَنَّ غَضَبَ اللَّهِ عَلَيْهَا إِنْ كَانَ مِنَ الصَّادِقِينَ {٩} |
9. Lihat ayat 8. |
| وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ {١٠} |
10. Andaikata bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian -wahai orang-orang beriman- dengan penetapan syariat ini bagi suami dan istri, niscaya salah seorang suami-istri yang saling melaknat itu, yang berbohong, pasti ditimpa oleh doa laknatnya terhadap dirinya. Dan Allah Maha Penerima taubat bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan Mahabijaksana dalam syariat dan pengelolaan urusan-Nya. |
| إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ {١١} |
11. Sungguh, orang-orang yang melakukan kebohongan paling buruk, yaitu menuduh Ummul Mukminin Aisyah berzina, mereka itu golongan yang menisbatkan diri kepada kalian —wahai orang-orang muslim— janganlah mengira bahwa ucapan mereka itu buruk bagi kalian. Bahkan, ia baik bagi kalian, karena hal itu mengandung pembersihan nama Ummul Mukminin, penyebutannya, peninggian derajatnya, penghapusan dosa, dan penyaringan orang-orang beriman. Masing-masing individu yang berbicara dusta akan mendapat balasan perbuatan dosanya. Sedangkan orang yang menanggung dosa terbesarnya, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul, dedengkot orang-orang munafik —semoga Allah melaknatnya— akan menerima adzab yang besar di akhirat, yaitu kekal di bagian paling bawah neraka. |
| لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ {١٢} |
12. Mengapa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berprasangka baik kepada sesama mereka ketika mendengar kebohongan itu, yaitu tidak mengotori diri dengan tuduhan yang mereka lontarkan itu dan berkata: "Ini kebohongan nyata terhadap Aisyah ." |
| لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ {١٣} |
13. Mengapa para penuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi yang adil atas perkataan mereka? Ketika mereka tidak melakukan itu maka bagi Allah mereka itu orang-orang yang berdusta. |
| وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ {١٤} |
14. Andaikata bukan karena karunia dan rahmat Allah terhadap kalian, di mana kebaikan-Nya meliputi urusan din dan dunia kalian sehingga Dia tidak menyegerakan hukuman kalian dan menerima taubat orang yang bertaubat di antara kalian, tentulah kalian ditimpa adzab yang besar disebabkan oleh pembicaraan kalian. |
| إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ {١٥} |
15. Ketika kalian menerima dan menyebarkan kebohongan dengan mulut kalian, padahal ia merupakan perkataan batil dan kalian tidak memiliki ilmu mengenainya. Kedua hal itu merupakan hal yang terlarang, yaitu menyampaikan perkataan batil dan berbicara tanpa ilmu. Kalian menyangka hal itu sesuatu yang sepele sedangkan bagi Allah ia merupakan sesuatu yang besar. Dalam peristiwa ini terdapat peringatan yang keras atas perbuatan meremehkan penyebaran kebatilan. |
| وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ {١٦} |
16. Mengapa ketika kalian mendengarnya tidak mengatakan: "Kita tidak boleh memperbincangkan kebohongan ini. Mahasuci Engkau ya Rabb dari ucapan seperti itu terhadap istri Rasul-Mu, yaitu Muhammad hal ini merupakan kedustaan yang sangat besar kebohongannya dan akibat dosanya." \ |
| يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ {١٧} |
17. Allah mengingatkan dan melarang kalian mengulangi perbuatan semacam ini selama-lamanya, yaitu melontarkan tuduhan bohong, jika kalian orang-orang yang beriman. |
| وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {١٨} |
18. Allah menjelaskan ayat-ayat yang mencakup hukum-hukum syar'i dan nasihat bagi kalian, Allah Mahatahu tentang perbuatan kalian lagi Mahabijaksana dalam syariat dan pengelolaan urusan-Nya. |
| إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ {١٩} |
19. Sungguh, orang-orang yang suka menyebarluaskan perbuatan keji di tengah kaum muslimin, seperti tuduhan berzina atau ucapan jahat apa pun, mereka itu akan mendapat adzab yang pedih di dunia dengan dilaksanakannya hukuman had terhadap mereka dan berbagai bencana duniawi lainnya, sedangkan di akhirat mereka akan mendapat adzab neraka jika mereka tidak bertaubat, Allah —satu-satu-Nya— mengetahui kedustaan mereka, kemaslahatan hamba-hamba-Nya, serta dampak berbagai urusan, sedangkan kalian tidak mengetahui. |
| وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ {٢٠} |
20. Andaikata bukan karena karunia dan kasih sayang Allah terhadap orang-orang yang terjerat kasus berita bohong dan bahwa Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang beriman dengan kasih sayang yang luas, baik di kehidup-an dunia maupun akhirat, tentulah Dia tidak menjelaskan hukum-hukum dan nasihat-nasihat ini, serta tentulah Dia menyegerakan hukuman bagi siapa yang melanggar perintah-Nya. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {٢١} |
21. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, janganlah menempuh jalan-jalan setan. Barang siapa yang menempuh jalan-jalan setan maka sungguh setan itu memerintahnya melakukan perbuatan jahat dan mungkar. Andaikata bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada orang-orang yang beriman tentulah tidak ada seorang pun dari mereka yang suci dari noda dosa, akan tetapi Allah - dengan karunia-Nya- akan menyucikan siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Mendengar ucapan kalian dan Mahatahu tentang niat dan perbuatan kalian. |
| وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٢٢} |
22. Janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan dalam din dan kelapangan dalam harta bersumpah untuk tidak menyambung silaturahim dengan kerabat-kerabat mereka yang fakir, membutuhkan, dan berhijrah serta menghentikan pemberian nafkah kepada mereka disebabkan dosa yang pernah mereka lakukan. Hendaklah mereka memaafkan kejahatan dan tidak menghukum kerabat-kerabat itu. Tidakkah kalian menyukai kiranya Allah memaafkan kalian? Oleh karena itu, maafkanlah mereka. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Ini mengandung anjuran memberi maaf, walaupun mendapat perlakuan jahat. |
| إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ {٢٣} |
23. Sungguh, orang-orang yang menuduh zina terhadap wanita-wanita beriman yang menjaga diri, yang tidak pernah terdetik di hati mereka keinginan melakukan perbuatan itu. Mereka itu diusir dari rahmat Allah di dunia dan akhirat dan akan memperoleh adzab yang berat di Neraka Jahanam. Di ayat ini terdapat dalil mengenai kekafiran siapa yang mencela atau menuduh istri-istri Nabi dengan tuduhan buruk. |
| يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ {٢٤} |
24. Adzab itu akan menimpa mereka pada Hari Kiamat, ketika lidah, tangan, dan kaki bersaksi dengan berbicara tentang apa yang dilakukannya. |
| يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ {٢٥} |
25. Pada hari ini, Allah menunaikan secara sempurna balasan amal perbuatan mereka dengan adil. Pada situasi yang agung itu mereka mengetahui bahwa Allah adalah Mahabenar lagi Maha Menjelaskan, di mana Dia adalah benar, janji-Nya benar, ancaman-Nya benar, segala sesuatu dari-Nya benar dan Dia tidak menzhalimi seorang pun walaupun hanya seberat biji sawi. |
| الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ {٢٦} |
26. Setiap laki-laki dan perempuan yang ucapan dan perbuatannya keji itu cocok dan sesuai dengan sesamanya. Setiap laki-laki dan perempuan yang ucapan dan perbuatannya baik itu cocok dan sesuai dengan sesamanya, sedangkan laki-laki dan perempuan yang baik-baik itu bersih dari tuduhan buruk yang dilontarkan oleh orang-orang jahat itu mereka mendapat ampunan yang meliputi seluruh dosa dan rezeki mulia di surga dari Allah. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّىٰ تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَىٰ أَهْلِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ {٢٧} |
27. Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, janganlah memasuki rumah-rumah selain rumah kalian sehingga meminta izin masuk dan mengucapkan salam kepada pemiliknya. Bentuk ucapannya sebagaimana disebutkan dalam As-Sunnah adalah,"Assalamu 'alaikum, bolehkah saya masuk?" Permintaan izin itu lebih baik bagi kalian, semoga kalian mendapat pelajaran dari melaksanakan perintah Allah dan menaati-Nya. |
| فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّىٰ يُؤْذَنَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ {٢٨} |
28. Jika kalian tidak menemukan seorang pun di rumah orang lain maka jangan memasukinya sehingga ditemukan orang yang mengizinkan kalian. Jika ia tidak mengizinkan, namun justru berkata kepada kalian, "Pulanglah!" maka pulanglah, jangan mendesak meminta izin, karena kepulangan kalian saat itu lebih bersih bagi kalian; karena manusia memiliki situasi-situasi di mana ia tidak ingin situasi-situasi itu dilihat oleh orang lain. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan, lalu membalas setiap pelaku perbuatan berdasarkan perbuatannya. |
| لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ {٢٩} |
29. Tetapi tidak mengapa kalian tanpa izin memasuki rumah-rumah yang bukan digunakan untuk tempat tinggal orang tertentu, melainkan untuk dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkannya, seperti rumah-rumah yang disiapkan untuk sedekah bagi ibnu sabil di jalan-jalan dan persinggahan-persinggahan yang dilalui oleh para musafir, yang di dalamnya terdapat berbagai manfaat dan kebutuhan orang yang memasukinya, sedangkan untuk meminta izin akan sulit. Allah mengetahui kondisi-kondisi kalian lahir dan batin. |
| قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ {٣٠} |
30. Wahai Nabi, katakan kepada orang-orang mukmin agar menundukkan pandangan dari wanita dan aurat yang tidak dihalalkan bagi mereka serta memelihara kemaluan mereka dari zina, homoseksual, pembukaan aurat, dan sebagainya yang diharamkan bagi mereka, hal itu lebih bersih bagi mereka. Sungguh, Allah Mahatahu tentang apa yang mereka lakukan terhadap perintah dan larangan-Nya. |
| وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {٣١} |
31. Katakan kepada wanita-wanita yang beriman hendaklah mereka menundukkan pandangan dari aurat yang tidak dihalalkan bagi mereka, menjaga kemaluan dari hal-hal yang diharamkan Allah bagi mereka, dan tidak memperlihatkan perhiasan kepada kaum laki-laki. Hendaklah mereka berusaha sungguh-sungguh menyembunyikan perhiasan itu kecuali pakaian luar yang biasa dikenakan jika hal itu tidak mengundang timbulnya fitnah. Hendaklah mereka menjulurkan tutup kepala di atas kerah baju sehingga menutup wajah dan menutup tubuh mereka dengan sempurna, janganlah mereka memperlihatkan perhiasan yang tersembunyi kecuali kepada suami, karena para suami boleh melihat bagian yang tidak boleh dilihat orang lain. Adapun sebagiannya seperti wajah, leher, tangan, lengan, dibolehkan untuk dilihat oleh ayah mereka, ayah suami mereka, anak mereka, anak suami mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki saudara laki-laki mereka, anak laki-laki saudara perempuan mereka, wanita-wanita muslim tidak termasuk yang kafir, budak milik mereka, pelayan laki-laki yang tidak memiliki keinginan dan kebutuhan kepada wanita seperti laki-laki idiot yang ikut orang lain untuk makan dan minum saja, atau anak kecil laki-laki yang tidak tahu tentang aurat wanita dan belum memiliki keinginan kepada wanita. Janganlah para wanita menghentakkan kaki ketika berjalan agar terdengar suara perhiasan mereka yang tersembunyi, seperti gelang kaki, dan sebagainya. Wahai orang-orang beriman, kembalilah menaati perintah Allah dengan menerapkan sifat terpuji dan akhlak mulia ini, tinggalkanlah akhlak dan sifat ter-cela orang-orang jahiliah, semoga kalian sukses meraih kebaikan di dunia dan akhirat. |
| وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ {٣٢} |
32. Wahai orang-orang beriman, nikahkanlah laki-laki atau wanita merdeka yang tidak memiliki suami atau istri dan hamba sahaya laki-laki atau perempuan kalian yang shalih. Jika orang yang ingin menikah itu miskin niscaya Allah mengayakannya dari rezeki-Nya yang luas. Allah Mahaluas, banyak kebaikan-Nya, agung karunia-Nya, dan Mahatahu tentang keadaan hamba-hamba-Nya. |
| وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٣٣} |
33. Orang-orang yang tidak mampu menikah karena miskin atau sebab lain, hendaklah berusaha menjaga kesuciannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah sehingga Allah memberinya kekayaan dari karunia-Nya dan memudahkan pernikahan baginya. Budak-budak laki-laki atau perempuan yang ingin memerdekakan diri melalui perjanjian mukatabah dengan tuan-nya untuk membayarkan sejumlah harta kepadanya maka para pemilik mereka wajib menerima mukatabah itu jika melihat kebaikan, seperti kematangan berpikir, kemampuan bekerja, dan keshalihan pada mereka. Hendaklah para pemilik itu memberi mereka sebagian harta atau menghapuskan sebagian biaya muk'atabah itu. Kalian tidak boleh memaksa budak-budak perempuan kalian berzina untuk mencari harta. Bagaimana itu bisa kalian lakukan sedangkan mereka ingin menjaga kesucian diri, tetapi kalian justru menolaknya? ini merupakan celaan keras terhadap perbuatan buruk mereka. Barang siapa yang memaksa mereka berzina maka Allah -sesudah keterpaksaan mereka. Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap mereka, sedangkan dosa itu menjadi tanggungan orang yang memaksa. |
| وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ {٣٤} |
34. Wahai manusia, telah Kami turunkan ayat-ayat Al-Qur'an kepada kalian yang mengandung petunjuk-petunjuk nyata tentang kebenaran dan contoh-contoh berita tentang orang-orang terdahulu yang beriman maupun yang kafir berikut nasib baik dan nasib buruk yang mereka alami, yang bisa menjadi pelajaran bagi kalian dan nasihat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan takut kepada adzab-Nya. |
| اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {٣٥} |
35. Allah cahaya langit dan bumi, mengelola urusan yang ada pada keduanya dan memberi petunjuk penghuninya; Dia cahaya, hijab-Nya cahaya, dengan-Nya seluruh langit dan bumi seisinya bercahaya, kitab dan hidayah Allah juga merupakan cahaya dari-Nya. Andaikan tidak ada cahaya-Nya, tentulah kegelapan bertumpuk-tumpuk, kegelapan di atas kegelapan. Perumpamaan cahaya Allah yang memberi hidayah kepadanya, yaitu iman dan Al-Qur'an di hati orang mukmin, ibarat misykat, yaitu lubang yang tidak tembus di dinding, yang di dalamnya terdapat lampu, lubang yang tidak tembus di dinding itu menghimpun cahaya lampu sehingga tidak berpencar, lampu itu berada di dalam kaca, seakan-akan kaca itu -saking jernihnya- seperti bintang berkilauan bak mutiara, lampu itu dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu pohon zaitun, bukan pohon timur saja yang tidak terkena cahaya matahari di sore hari atau pohon barat saja yang tidak terkena matahari di pagi hari. Tetapi pohon pertengahan yang berada di suatu tempat di bumi, tidak di timur dan tidak di barat, minyaknya hampir-hampir -karena jernihnya- bercahaya sendiri sebelum disentuh api. Apabila disentuh api maka ia bercahaya sangat terang, cahaya di atas cahaya, ia adalah cahaya dari kilau minyak yang berpadu dengan cahaya dari nyala api. itulah perumpamaan petunjuk yang menyinari hati seorang mukmin. Allah memberi petunjuk dan taufik siapa yang Dia kehendaki untuk mengikuti Al-Qur'an. Dia membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka memahami perumpamaan-perumpamaan dan kebijaksanaan-Nya. Allah Mahatahu tentang segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. |
| فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ {٣٦} |
36. Cahaya terang ini berada di masjid-masjid yang diperintahkan oleh Allah agar dijunjung tinggi penghormatan kepadanya dan ditinggikan pula bangunannya. Di masjid-masjid itu nama-Nya disebut melalui tilawah kitab-Nya, tasbih, tahlil, dan berbagai macam dzikir lainnya, di sana pada pagi hari dan sore hari selalu dilaksanakan shalat, |
| رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ {٣٧} |
37. (oleh) para lelaki yang tidak disibukkan oleh perda-gangan dan jual beli sehingga lupa berdzikir kepada Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat kepada yang berhak. Mereka takut Hari Kiamat yang pada hari itu semua hati berbolak-balik antara mengharapkan keselamatan dan takut kepada kebinasaan dan semua mata terbolak-balik melihat ke mana nasibnya akan berakhir? |
| لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ {٣٨} |
38. Agar Allah memberi mereka pahala amalan terbaik mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka berlipat-lipat dari kebaikan yang mereka lakukan. Allah memberi rezeki siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan, sebaliknya Dia memberinya pahala yang tidak bisa dicapai oleh amalnya, tanpa dihitung dan tanpa ditakar. |
| وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ {٣٩} |
39. Orang-orang yang kafir kepada Rabb mereka dan mendustakan rasul-rasul-Nya, amal-amal yang mereka sangka bermanfaat bagi mereka di akhirat, seperti silaturahim, membebaskan tawanan, dan sebagainya itu ibarat fatamorgana, yaitu sesuatu yang terlihat seperti air di permukaan bumi yang datar di siang hari yang terik. Orang-orang yang dahaga mengiranya air, tetapi ketika mendekatinya ternyata ia tidak menemukan air. Orang kafir menyangka bahwa amalan-amalannya bermanfaat baginya, akan tetapi ketika Hari Kiamat ia tidak menemukan pahalanya dan ia berjumpa dengan Allah yang mengawasi, lalu memenuhi balasan amalnya secara sempurna. Allah itu cepat perhitungan-Nya maka janganlah orang-orang bodoh menganggap janji itu terlalu lambat, karena janji itu pasti terlaksana. |
| أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ {٤٠} |
40. Atau amalan mereka itu ibarat kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya ada ombak, di atas ombak itu ada ombak yang lain, dan di atasnya ada awan tebal, kegelapan-kegelapan yang pekat bertumpuk-tumpuk, jika orang yang sehat penglihatannya mengeluarkan tangannya hampir-hampir ia tidak bisa melihatnya karena sangat gelapnya; orang-orang kafir itu diliputi berbagai kegelapan, yaitu kegelapan syirik, kesesatan, dan perbuatan-perbuatan rusak. Barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah dari kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya yang menjadi petunjuk baginya maka tidak ada pemberi petunjuk baginya. |
| أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ {٤١} |
41. Wahai Nabi, tidakkah engkau tahu bahwa makhluk-makhlukyang ada di seluruh langit dan bumi bertasbih untuk memahasucikan Allah, sedangkan burung-burung berbaris mengem-bangkan sayapnya di langit bertasbih kepada Rabbnya? Setiap makhluk telah dibimbing oleh Allah bagaimana cara melakukan shalat dan bertasbih kepada-Nya. Dia Maha Mengetahui, melihat apa yang dilakukan oleh setiap yang beribadah dan bertasbih, tidak ada sedikit pun darinya yang tersembunyi dan Dia akan membalas mereka karenanya. |
| وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ {٤٢} |
42. Kerajaan langit dan bumi hanya milik Allah, kekuasaan pada keduanya hanya milik-Nya, dan hanya kepada-Nya tempat kembali di Hari Kiamat. |
| أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ {٤٣} |
43. Tidakkah engkau menyaksikan bahwa Allah mengarak awan ke arah mana pun yang Dia kehendaki, kemudian mengumpulkannya setelah terpisah-pisah, kemudian menjadikannya bergulung-gulung, lalu turunlah hujan dari celah-celahya? Dari awan yang besarnya seperti gunung itu turun butiran-butiran es, lalu Dia menimpakannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki dan menjauhkannya dari mereka yang Dia kehendaki sesuai dengan kebijaksanaan dan takdir-Nya. Cahaya kilat yang ada di awan itu saking terangnya nyaris saja membutakan pandangan orang-orang yang melihatnya. |
| يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ {٤٤} |
44. Sebagian bukti kekuasaan Allah adalah bahwa Dia mengubah-ubah malam dan siang dengan mempergilirkan kedatangannya dan mengubah-ubah panjang dan pendek waktu keduanya. Sungguh, yang demikian itu mengan-dung petunjuk yang bisa dijadikan pelajaran bagi siapa saja yang memiliki ketajaman mata hati. |
| وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ {٤٥} |
45. Allah menciptakan setiap yang merayap di bumi ini dari air, jadi air adalah asal penciptaannya. Di antara makhluk ini ada yang merayap dengan perutnya, seperti ular dan sebagainya. Ada pula yang berjalan di atas kaki seperti manusia. Ada juga yang berjalan di atas empat kaki seperti binatang ternak, dan sebagainya. Allah menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. |
| لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ ۚ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ {٤٦} |
46. Kami telah menurunkan Al-Qur'an sebagai tanda-tanda nyata yang membimbing kepada kebenaran, dan Allah memberi petunjuk serta taufik hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus, yaitu Islam. |
| وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ {٤٧} |
47. Orang-orang munafik mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan apa yang dibawa oleh Rasul, kami taat kepada perintah keduanya," namun kemudian beberapa kelompok di antara mereka berpaling sesudah itu, tidak menerima hukum yang ditetapkan oleh Rasul. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. |
| وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ {٤٨} |
48. Jika dalam persengketaan mereka diajak berhukum kepada Kitab Allah dan Rasul-Nya agar dia memutuskan hukum bagi perselisihan di antara mereka. Tiba-tiba sebagian dari mereka berpaling tidak menerima hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, padahal ia merupakan kebenaran yang tidak mengandung keraguan lagi. |
| وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ {٤٩} |
49. Jika mereka itu berada di pihak yang benar maka mereka datang kepada Nabi dalam keadaan taat dan patuh terhadap hukum beliau, karena mereka tahu bahwa beliau pasti memutuskan berdasarkan kebenaran. |
| أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {٥٠} |
50. Apakah berpalingnya mereka itu disebabkan oleh kemunafikan yang ada di dalam hati, atau mereka ragu tentang kenabian Muhammad, ataukah penyebabnya adalah mereka takut kiranya Allah dan Rasul-Nya menentukan hukum yang zhalim? Sama sekali, mereka tidak takut kezhaliman, tetapi sebabnya adalah mereka itu orang-orang zhalim dan jahat. |
| إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {٥١} |
51. Adapun orang-orang yang benar-benar beriman, keadaan mereka apabila diajak berhukum kepada kitab Allah dan hukum Rasul-Nya, mereka menerima hukum itu dan berkata, "Kami mendengar apa yang dikatakan kepada kami dan kami menaati siapa yang mengajak kami kepada hal itu."Mereka itulah orang-orang yang beruntung dan sukses meraih cita-cita mereka di surga yang penuh kenikmatan. |
| وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ {٥٢} |
52. Barang siapa yang menaati perintah serta larangan Allah dan Rasul-Nya, takut kepada dampak buruk kemaksiatan, dan khawatir ditimpa adzab Allah maka mereka itulah orang-orang yang sukses meraih kenikmatan di surga. |
| وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ قُلْ لَا تُقْسِمُوا ۖ طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ {٥٣} |
53. Orang-orang munafik itu bersumpah atas nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh: "Jika kau perintahkan kepada kami -wahai Rasul- untuk berangkat berjihad bersamamu niscaya kami berangkat berjihad!" Katakan kepada mereka: "Janganlah bersumpah dusta, karena ketaatan kalian sudah dimaklumi hanya sebatas ucapan, sungguh Allah Maha Mengetahui tentang per-buatan yang kalian lakukan dan akan membalas kalian atas perbuatan itu." |
| قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ {٥٤} |
54. Wahai Rasul, katakan kepada manusia: "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kalian berpaling maka Rasul hanya berkewajiban melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyampaikan risalah sedangkan semua orang berkewajiban menjalankan ketaatan yang merupakan kewajiban yang dibebankan kepada mereka. Jika kalian taat kepadanya maka kalian akan terbimbing kepada kebenaran, tiada kewajiban seorang rasul kecuali menyampaikan risalah Rabbnya dengan jelas." |
| وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {٥٥} |
55. Allah berjanji akan menolong orang-orang beriman dan beramal shalih di antara kalian dengan menjadikan mereka sebagai khalifah pewaris kekuasaan di bumi yang menggantikan orang-orang musyrik, sebagaimana perlakuan Allah terhadap orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya di zaman dahulu; menjadikan din yang diridhai-Nya untuk mereka -yaitu Islam- sebagai din yang mulia dan kuat; dan mengganti keadaan mereka dari ketakutan menjadi aman, jika mereka beribadah kepada Allah saja, istiqamah di atas ketaatan kepada-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Barang siapa yang kafir sesudah di-beri kekhalifahan, rasa aman, kekuatan, dan kekuasaan penuh serta mengingkari nikmat-nikmat Allah maka mereka adalah orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah. |
| وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ {٥٦} |
56. Tegakkan shalat dengan sempurna, tunai-kan zakat kepada orang-orang yang berhak, dan taatlah kepada Rasul dengan harapan semoga Allah merahmati kalian. |
| لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَلَبِئْسَ الْمَصِيرُ {٥٧} |
57. Jangan sekali-kali menyangka orang-orang kafir itu luput dari kekuasaan Allah di bumi, tetapi Dia Mahakuasa untuk membinasakan mereka. Tempat kembali mereka di akhirat adalah di neraka. Sungguh buruk tempat kembali ini. Ini merupakan pengarahan umum bagi seluruh umat, sekalipun pembicaraannya ditujukan kepada Rasul. |
| يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ۚ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ۚ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ ۚ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {٥٨} |
58. Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, perintahkan budak-budak kalian baik laki-laki maupun perempuan, juga anak-anak kalian yang merdeka yang belum mencapai usia balig agar meminta izin ketika memasuki kamar kalian di tiga waktu yang merupakan aurat bagi kalian, yaitu sebelum shalat Subuh karena itu waktu kalian melepas pakaian tidur dan mengenakan pakaian bangun, ketika kalian menanggalkan pakaian di tengah hari saat tidur siang, dan setelah shalat Isyak karena ia merupakan waktu tidur. Ketiga waktu ini merupakan aurat bagi kalian, jarang sekali kalian berpakaian tertutup. Adapun di waktu-waktu lain, tidak mengapa jika mereka masuk tanpa izin untuk keperluan mereka, mereka sering datang kepada kalian untuk melayani. Sebagaimana Allah menjelaskan kepada kalian hukum-hukum meminta izin, Dia juga menjelaskan kepada kalian ayat-ayat, hukum-hukum, hujah-hujah, dan syariat-syariat din-Nya. Allah Maha Mengetahui tentang apa yang baik bagi makhluk-Nya dan Mahabijaksana dalam mengelola urusan-urusan-Nya. |
| وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ {٥٩} |
59. Jika anak-anak kalian sudah mencapai usia balig dan sudah mukalaf (dibebani kewajiban) hukum-hukum syariah, mereka wajib meminta izin jika ingin masuk ke kamar kalian di setiap waktu sebagaimana umumnya orang dewasa yang harus meminta izin. Sebagaimana Allah menjelaskan adab-adab meminta izin, Dia juga menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kalian. Allah Mahatahu tentang hal yang baik bagi hamba-hamba-Nya dan Mahabijaksana dalam menetapkan syariat-Nya. |
| وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {٦٠} |
60. Wanita-wanita tua yang sudah tidak memiliki nafsu dan syahwat karena sudah tua, mereka tidak berkeinginan Iagi menikah dengan laki-laki dan laki-laki pun tidak berkeinginan menikahi mereka maka mereka itu tidak berdosa jika melepaskan sebagian pakaian seperti selendang yang dikenakan di atas pakaian, tanpa menampakkan diri dan menarik perhatian dengan berdandan. Tetapi jika mereka mengenakan pakaian-pakaian ini -untuk lebih menutup aurat dan menjaga kesuciannya- lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar ucapan kalian dan Maha Mengetahui niat serta amal kalian. |
| لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ {٦١} |
61. Orang-orang yang punya udzur seperti buta, pincang, dan sakit itu tidak berdosa meninggalkan perkara-perkara wajib yang tidak mampu mereka laksanakan, seperti jihad dan sebagainya yang hanya bisa dilaksanakan jika orang buta itu melihat, orang pincang itu pulih, dan orang sakit itu sehat. Wahai orang-orang beriman, kalian tidak berdosa makan dari rumah anak-anak kalian, ayah-ayah kalian, ibu-ibu kalian, saudara-saudara laki-laki kalian, saudara-saudara perempuan kalian, paman-paman kalian, atau bibi-bibi kalian, atau dari rumah-rumah yang penjagaannya diserahkan kepada kalian dengan izin pemiliknya ketika pemiliknya meninggalkannya, atau dari rumah sahabat-sahabat kalian. Tidak ada dosa bagi kalian jika kalian makan bersama-sama atau sendiri-sendiri. Jika kalian memasuki rumah-rumah yang berpenghuni atau tidak berpenghuni, hendaklah kalian mengucapkan salam satu sama lain dengan ucapan salam yang disyariatkan dalam Islam, yaitu: "Assalmu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh" atau "Assalamu'alaina wa'ala ibadillahiss sholihin" jika tidak ada seorang pun dijumpai di rumah itu. Ucapan salam ini disyariatkan oleh Allah, dan ia diberkati, bisa menumbuhkan kasih sayang dan cinta, juga baik dan disukai oleh orang yang mendengar. Dengan penjelasan seperti inilah Allah menjelaskan rambu-rambu din dan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian memikirkan dan mengamalkannya. |
| إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ {٦٢} |
62. Orang-orang mukmin sejati adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengamalkan syariat-Nya, dan apabila mereka bersama Nabi dalam urusan yang mengumpulkan mereka bersama untuk kepentingan kaum muslimin, salah seorang dari mereka tidak meninggalkan perkumpulan itu sehingga meminta izin kepadanya. Sungguh, orang-orang yang meminta izin kepadamu, wahai Nabi; mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila mereka meminta izin kepadamu untuk beberapa keperluan maka izinkanlah siapa yang kau kehendaki di antara orang-orang yang meminta izin meninggalkan pertemuan karena suatu alasan itu dan mintakan ampun kepada Allah untuk mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun dosa hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan Maha Penyayang kepada mereka. |
| لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ {٦٣} |
63. orang-orang yang beriman, janganlah memanggil Rasulullah dengan panggilan, "Wahai Muhammad" atau "Wahai Muhammad bin Abdullah" sebagaimana kebiasaan ucapan sebagian kalian kepada sebagian lain, tetapi muliakanlah beliau dengan mengucapkan, "Wahai Nabi Allah" atau "Wahai Rasul Allah". Allah telah mengetahui orang-orang munafik yang keluar dari majelis Nabi dengan mengendap-endap tanpa izin beliau, sebagian mereka berlindung kepada sebagian lain. Hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasulullah itu takut apabila mereka ditimpa bencana dan keburukan atau terkena adzab yang pedih dan menyakitkan di akhirat. |
| أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ وَيَوْمَ يُرْجَعُونَ إِلَيْهِ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ {٦٤} |
64. Ketahuilah bahwa apa yang ada di seluruh langit dan bumi merupakan milik Allah,yang Dia ciptakan, Dia kuasai, dan menjadi hamba-Nya; ilmu-Nya meliputi semua keadaanmu sekarang dan pada hari seluruh hamba dikembalikan kepada-Nya di akhirat. Dia akan memberitahu mereka tentang amal mereka dan membalas mereka karenanya. Allah Mahatahu tentang segala sesuatu, tidak ada sesuatu dari amal dan keadaan mereka yang tersembunyi dari-Nya. |
 |